FDK UIN Walisongo dan Disparbud Wonosobo Berkolaborasi, Siap Wujudkan Rintisan Desa Wisata Religi

- Selasa, 14 September 2021 | 10:36 WIB
Tim FDK UIN Walisongo berdiskusi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Wonosobo untuk merintis desa wisata religi. (suaramerdeka.com / dok)
Tim FDK UIN Walisongo berdiskusi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Wonosobo untuk merintis desa wisata religi. (suaramerdeka.com / dok)

WONOSOBO, suaramerdeka.com - Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Wonosobo merintis desa wisata religi.

Upaya ini sebagai tindak lanjut MoU antara Rektor UIN Walisongo dengan Pemkab Wonosobo untuk merintis Desa Wisata Religi.

Wakil Bupati Wonosobo, Muhammad Albar dalam sambutannya menyebutkan bahwa dahulu, Wonosobo terkenal sebagai kota religius.

Selain itu, Wonosobo juga merupakan kota tua. Namun seiring waktu pamor tersebut semakin pudar.

"Meski usianya baru 197 tahun, namun secara budaya cukup tua. Kalau ke Bali, sering disebut sebagai kakak karena pada masa perang hindu, yang lari ke Bali, Jatim, Tengger adalah orang-orang Wonosobo," paparnya dalam kegiatan persamaan persepsi antara FDK UIN Walisongo Semarang dan Disparbud Wonosobo di ruang diskusi publik Disparbud.

Baca Juga: Program Field Trip Kalipancur Akan Kembali Aktif dengan Prokes Ketat

Albar menganggap perlu ada perubahan besar terkait religiusitas Kota Wonosobo.

Antusiasme masyarakat ketika berbicara soal potensi Wonosobo baik dari segi budaya, alam maupun religinya luar biasa.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo, Agus Siswanto, menegaskan bahwa visi kolaborasi FDK dengan Disparbud adalah mewujudkan salah satu desa wisata religi di Wonosobo tepatnya di kawasan Kalibeber.

Agus menjelaskan gambaran destinasi wisata religi yang akan digarap itu nantinya akan menjadikan UNSIQ sebagai pintu masuk kota religi.

Baca Juga: Anggota DPR dan PDIP Gelar Vaksinasi untuk 1.000 Warga Salatiga

Kemudian Masjid Baitul Qur'an sebagai Destinasi Manajemen Organisasi atau DMO. Adapun Desa Dewoduwur, tempat KH Muntaha disemayamkan diproyeksikan sebagai kampung santri.

"Minat masyarakat Wonosobo terhadap religiusitas tinggi, baik dari segi budaya maupun nilai tradisi Islam," kata Agus.

Keberadaan desa wisata religi ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan dan menarik minat wisatawan untuk singgah lebih lama.

Jadi, bisa mendorong ekonomi dan akhirnya bisa mengentaskan kemiskinan.

Sementara itu, Ketua jurusan Manajemen Dakwah, Dra. Siti Prihatiningtyas, dalam agenda persamaan persepsi ini menawarkan konsep pencanangan dan perintisan desa wisata religi, dengan pendampingan dan pembinaan desa wisata religi.

Dalam rintisan desa wisata religi itu nantinya sekaligus menjadi laboratorium kegiatan dosen dan mahasiswa dalam penelitian, pengabdian masyarakat, KKN, PPL, benchmarking, dan sebagainya.

Jadi, bisa membuka peluang bagi lulusan FDK, khususnya jurusan MD sebagai pengelola sumber daya Pariwisata maupun sebagai pemandu wisata.***

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

PDIL Unika Lahirkan Doktor Ilmu Lingkungan Pertama

Minggu, 17 Oktober 2021 | 21:45 WIB

Pemilihan Rektor USM: Lima Calon Sampaikan Visi Misi

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 10:24 WIB
X