SMP 33 Pecahkan Rekor

Teguh Wirawan
- Sabtu, 14 Maret 2020 | 00:49 WIB
SM/ Maulana M Fahmi : MENANAM HIDROGANIK: Ketua TP-PKK Kota Semarang, Krisseptiana Hendrar Prihadi (tengah), bersama jajarannya serta Kepala Sekolah SMP 33 Semarang, Didik Teguh Prihanto beserta guru dan siswa bersama-sama menanam dengan cara Hidroganik di halaman SMP 33 Semarang Jl Kompol R. Soekanto, Mangunharjo, Tembalang Semarang, Jumat (13/3). (42)
SM/ Maulana M Fahmi : MENANAM HIDROGANIK: Ketua TP-PKK Kota Semarang, Krisseptiana Hendrar Prihadi (tengah), bersama jajarannya serta Kepala Sekolah SMP 33 Semarang, Didik Teguh Prihanto beserta guru dan siswa bersama-sama menanam dengan cara Hidroganik di halaman SMP 33 Semarang Jl Kompol R. Soekanto, Mangunharjo, Tembalang Semarang, Jumat (13/3). (42)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Siswa SMP 33 Semarang, secara serempak membuat 1.033 biopori di sekolah mereka, di Jl Kompol R Soekanto, Mangunharjo, Tembalang Semarang, Jumat (13/3). Dengan dipandu Kepala Sekolah SMP 33 Semarang, Didik Teguh Prihanto dan pembina serta pengajar kader Adiwiyata Soeharto, siswa beramai-ramai menancapkan bambu ke tanah. Tak hanya itu, para siswa juga secara serempak menanam bawang dengan teknik hidroganik. Aksi siswa SMP 33 Semarang tersebut, mendapat penganugerahan rekor oleh Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid).

Ketua Umum dan Pendiri Leprid, Paulus Pangka mengapresiasi kegiatan tersebut, karena dapat mengedukasi siswa untuk peduli pada kelestarian lingkungannya. ”Kami mengapresiasi kegiatan sekolah SMP 33 Semarang ini karena para para pengajar/ guru, siswa dan orang tua murid bersama-sama dalam mendukung kegiatan kepedulian lingkungan dengan membuat biopori dan menanam secara Hidroganik. Harapan Leprid, kegiatan ini nantinya bisa berkelanjutan untuk diaplikasikan di lingkungan tempat tinggal masing-masing,” jelasnya.

Paulus Pangka dalam kesempatan tersebut mencatat kegiatan tersebut, sebagai rekor Pembuatan Biopori dari Bahan Limbah Terbanyak (1.033) di Area Sekolah yang dicatat Leprid sebagai rekor ke-573. Sementara untuk Pembuatan Hidroganik Terbanyak dari Bahan Limbah, Leprid mencatatnya sebagai rekor ke-574. Ketua TP-PKK Kota Semarang, Krisseptiana Hendrar Prihadi yang hadir dalam kegiatan tersebut juga memberikan apresiasinya. ”Kegiatan ini sangat efektif sebagai edukasi kepada siswa yang merupakan generasi milenial. Apalagi disini sekolah dan orang tua murid tentunya juga didukung Pemerintah Kota bergerak bersama mendukung kegiatan kepedulian lingkungan ini,” jelasnya.

Kepala Sekolah SMP 33 Semarang, Didik Teguh Prihanto mengatakan sekolahnya akan terus mengkampanyekan sebagai sekolah ramah anak dan ramah lingkungan. ”Kegiatan ini adalah wujud gerakan kita dalam menciptakan ramah lingkungan. Dengan moto ‘Sekolah Rumah Keduaku’, kami akan terus mewujudkan sekolah yang peduli lingkungan menuju Sekolah Adiwiyata dengan peringkat lebih tinggi, yaitu mandiri,” terangnya.

Sementara itu, Soeharto yang menjadi pembina pengajar untuk kader Adiwiyata, mengatakan pembuatan biopori sangat berguna untuk lingkungan sekolah, agar air hujan bisa ditahan dan ditampung di dalam tanah. Hal tersebut juga dapat mengurangi dan menghindarkan kawasan dari banjir. ”Selain untuk mengedukasi, melalui kegiatan ini siswa juga bisa langsung mempraktikkan dalam mengelola sirkulasi air tanah melalui biopori. Mereka juga menggunakan bamboo dalam membuat biopori, yaitu bahan limbah dari bangunan yang juga ramah lingkungan,” jelasnya.

Sementara itu, Soeharto mengatakan anak-anak juga diajarkan menanam secara hidroganik. Dalam teknik ini, dia memotivasi siswa agar kreatif dalam memanfaatkan limbah plastik, bekas botol air mineral yang dipotong menjadi dua untuk pot tanaman. Botol tersebut kemudian diberi lubang dan dia membuat sumbu kain untuk proses kapilerisasi air pada tanaman. ”Teknik hidroganik ini adalah perpaduan antara pemanfaatan air dan media tanam organik. Kebutuhan air yang sudah dicampur mineral dari pupuk cair disuplai melalui proses kapilerisasi dari bawah ke atas (tanaman). Sementara di atasnya kami menggunakan media tanam dari serabut kelapa dan sekam bakar yang mempunyai daya serap tinggi dan gembur,” jelasnya.

Dia mengatakan hidroganik efektif dibandingkan cara tanam hidroponik. Dengan hidroganik, air tak perlu mengalir dan cukup memanfaatkan botol bekas air mineral yang tak terpakai, sehingga tak banyak memakan tempat. ”Terpenting menanam hidroganik adalah kebutuhan tanaman yaitu berupa air, nutrisi, oksigen dan sinar matahari tercukupi. Perawatannya pun tak susah karena kita tak perlu menyiramnya tiap hari karena ada proses kapilerisasi,” jelasnya.

Editor: Teguh Wirawan

Terkini

X