Ekonomi Berbasis Ekologi

Red
- Sabtu, 28 Agustus 2021 | 01:27 WIB
Aloys Budi Purnomo Pr
Aloys Budi Purnomo Pr

Paradigma Ekonomi

Dalam kondisi seperti itu, sebagai sebagian kecil saja dari problem ekologis yang sangat banyak yang membuat krisis ekologi menimpa bumi kita, bagaimana kita bisa menyelaraskan konflik kepentingan lingkungan dengan pertumbuhan ekonomi, khususnya dalam pembangunan daerah?

Konflik kepentingan lingkungan dengan pertumbuhan ekonomi tidak akan pernah bisa diselaraskan manakala kesalahan paradigma ekonomi eksploitatif terus dipertahankan! Mengacu gagasan Ernst M. Conradie, dalam bukunya The Earth in Godís Economy (2015), kesalahan terbesar paradigma ekonomi adalah paradigma tekno- ekonomi yang tidak jujur, mengeruk keuntungan sebanyakbanyaknya dan secepat-cepatnya, namun mengabaikan kelestarian lingkungan dan kaum miskin yang hanya menjadi tumbal pembangunan ekonomi.

Karenanya, sebagaimana ditegaskan pula oleh Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Sií. Pentinglah menciptakan sebuah kerangka hukum yang menetapkan batasbatas mutlak dan menjamin perlindungan ekosistem demi perawatan bumi ini.

Jika tidak, bentuk- bentuk kekuasaan baru yang berdasarkan paradigma teknoekonomi akan selalu menghancurkan bukan hanya politik kita, melainkan juga kebebasan dan keadilan (LS 53). Adalah sebuah kesalahan bahwa kekuatan-kekuatan ekonomi terus membenarkan sistem global saat ini, dengan mendahulukan spekulasi dan pengejaran keuntungan finansial yang cenderung mengabaikan konteks apa pun, serta akibat-akibatnya pada martabat manusia dan lingkungan alam.

Secara moral, kerusakan lingkungan, degradasi kemanusiaan, dan etika saling terkait erat. Tanpa sadar siapa pun, terutama penguasa dan pengusaha, melakukan tindakan tidak bermoral karena distraksi terus-menerus menumpulkan kesadaran akan realitas dunia yang sangat terbatas.

Dalam konteks itulah, apa pun yang rapuh, seperti lingkungan hidup dan kaum miskin, tidak berdaya berhadapan dengan kepentingan pasar yang didewakan, yang menjadi aturan tunggal. Untuk itulah, dibutuhkan perhatian lebih besar dari politik kekuasaan untuk mencegah konflik baru dan mengatasi sebabsebab yang dapat menimbulkann y a terkait dengan konflik kepentingan lingkungan.

Merawat ekosistem mengandaikan pandangan yang jauh ke depan, karena jika kita hanya mencari keuntungan secara cepat dan mudah, tidak akan ada yang peduli pada pelestarian alam.

Biaya kerusakan yang disebabkan oleh kelalaian egois jauh lebih tinggi daripada keuntungan ekonomis yang dapat diperoleh.

Ketika terjadi kepunahan atau kerusakan serius beberapa spesies, nilainya tidak terhitung.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB

Metamorfosis Implementasi MBKM di Perguruan Tinggi

Senin, 8 November 2021 | 11:12 WIB

Kebijakan Publik Versus PCR dan Antigen

Minggu, 7 November 2021 | 23:23 WIB

Pangan dan Telur Ayam

Minggu, 7 November 2021 | 15:26 WIB

Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Senin, 25 Oktober 2021 | 23:45 WIB

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB

Aksi Kita adalah Masa Depan Kita

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 21:36 WIB

Masjid dan Peran Memakmurkan Umat

Selasa, 5 Oktober 2021 | 13:31 WIB

Aspek Hukum Arisan Online

Jumat, 24 September 2021 | 00:30 WIB
X