Ekonomi Berbasis Ekologi

Red
- Sabtu, 28 Agustus 2021 | 01:27 WIB
Aloys Budi Purnomo Pr
Aloys Budi Purnomo Pr

"Tanpa memperhatikan hati nurani yang jujur, upaya penyelerasan konflik kepentingan lingkungan dengan pertumbuhan ekonomi dalam pembangungan, baik pusat maupun daerah, hanya akan menjadi bentuk-bentuk kebohongan dan tipu daya yang memuakkan."

PENTINGLAH mengembangkan pembangunan ekonomi berbasis ekologi. Lima puluh tahun yang lalu, Paus Paulus VI menyebut masalah ekologi merupakan akibat tragis dari aktivitas manusia yang tak terkendali.

Dalam rangka memperingati HUT ke-80 Ensiklik Rerum Novarum, 14 Mei 1971, Paus Paulus VI menerbitkan Surat Apostolik Octogesima Adveniens.

Di dalamnya, Paus Paulus VI menulis, ìKarena eksploitasi alam sembarangan, manusia menimbulkan risiko menghancurkannya dan pada gilirannya ia sendiri menjadi korban degradasi ini.î Setahun sebelumnya, tepatnya pada tanggal 16 November 1970, dalam rangka HUT Perak (ke-25) FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian, Perserikatan Bangsa-Bangsa), Paus Paulus VI telah berbicara tentang kemungkinan bencana ekologis nyata yang diakibatkan oleh pengaruh peradaban industri.

Dia menegaskan ìkebutuhan mendesak akan perubahan radikal dalam perilaku umat manusiaî, sebab ìkemajuan ilmiah yang sangat luar biasa, kemampuan teknis yang sangat menakjubkan, pertumbuhan ekonomi yang sangat mencengangkan, bila tidak disertai dengan perkembangan sosial dan moral autentik, akhirnya akan berbalik melawan manusia.î Saya sengaja mencetak miring kalimat terakhir tersebut, justru karena kalimat tersebut sangat signifikanrelevan, penting dan nyambung, dengan kondisi kita saat ini.

Masa pandemi Covid- 19 ini tak bisa dimungkiri telah menjadi indikator jelas dan terang-benderang (clara et distincta) betapa dampak perilaku eksploitatif terhadap alam semesta telah mendatangkan bencana bagi kemanusiaan. Semua dibuat panik dan gagap menghadapinya, dengan korban jiwa yang membuat rasa kemanusiaan siapa pun seharusnya menyadarinya.

Meski sebagian orang cenderung menolak, namun kebenaran tak bisa dikuburkan bahwa perusakan lingkungan dan sumber daya alam menjadi sumber penyakit baru (Paus Fransiskus, Ensiklik Laudato Sií/LS, 2015, artikel 79).

Bahkan, sumber daya bumi yang dijarah karena konsep ekonomi, perdagangan dan produksi jangka pendek saja membuat hilangnya rimba dan kawasan hutan lainnya membawa serta hilangnya spesies yang dapat menjadi sumber daya yang sangat penting pada masa depan, tidak hanya untuk pangan, tetapi juga untuk penyembuhan penyakit dan berbagai kegunaan lainnya (LS 32).

Degradasi paling mendatangkan penderitaan dan penyakit adalah terkait dengan kebutuhan dasar manusia dan makhluk lainnya akan air. Masalah yang sangat serius adalah kualitas air yang tersedia bagi orang miskin, yang menyebabkan banyak kematian setiap hari. Penyakit yang berhubungan dengan air banyak ditemukan di antara orang miskin, termasuk yang disebabkan oleh mikroorganisme dan zat kimia.

Disentri dan kolera, yang terkait dengan layanan higienis dan persediaan air yang tidak layak dikonsumsi, adalah penyebab signifikan penderitaan dan kematian bayi (LS 29). Lebih parah lagi, sumber air bawah tanah di banyak tempat terancam polusi akibat kegiatan pertambangan, pertanian, dan industri tertentu. Limbah industri, detergen, dan produk kimia, yang masih lazim digunakan oleh penduduk di banyak tempat di dunia, terus mengalir ke sungai, danau dan laut. Sungai, laut, dan danau pun tercemar dan mengancam kehidupan manusia, terutama yang paling rentan (LS 29).

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB

Metamorfosis Implementasi MBKM di Perguruan Tinggi

Senin, 8 November 2021 | 11:12 WIB

Kebijakan Publik Versus PCR dan Antigen

Minggu, 7 November 2021 | 23:23 WIB

Pangan dan Telur Ayam

Minggu, 7 November 2021 | 15:26 WIB

Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Senin, 25 Oktober 2021 | 23:45 WIB

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB
X