Porprov dalam Dinamika Pembinaan Prestasi

Red
- Jumat, 27 Agustus 2021 | 00:00 WIB
Logo SM (b01m)
Logo SM (b01m)

Pemprov Jateng telah memutuskan untuk menunda pergelaran Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2022. Ajang multievent empat tahunan itu rencananya dilaksanakan di kawasan Pati Raya. Wilayah tersebut meliputi enam kabupaten, yaitu Pati, Kudus, Jepara, Rembang, Blora, dan Grobogan. Penundaan menuai keberatan dari komunitas olahraga di daerah-daerah tersebut. Berbagai persiapan memang telah dilakukan supaya Porprov yang dua tahun lagi digelar bisa berlangsung sukses.

Pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan akan berakhir dan fokus dunia olahraga provinsi ini untuk mengikuti PON XX di Papua pada Oktober mendatang menjadi dasar keputusan untuk menunda Porprov 2022. PON telah menjadi alat ukur untuk menilai pembinaan keolahragaan di suatu daerah, sehingga segala sumber daya yang ada perlu dikerahkan agar prestasi optimal bisa diraih. Para atlet yang akan mewakili provinsi ini telah dipersiapkan secara khusus dalam pemusatan latihan.

Pemusatan latihan merupakan tahapan yang perlu dilakukan untuk mencapai target yang telah ditetapkan. Perburuan prestasi mengenal apa yang disebut sebagai sasaran puncak dan sasaran antara. Untuk mencapai sasaran puncak, para atlet diukur lewat berbagai uji coba dan kejuaraan yang diklasifikasikan sebagai sasaran-sasaran antara. Karena Oktober sudah begitu dekat, maka saat ini sudah bisa dikatakan tidak ada lagi sasaran antara. Para atlet difokuskan untuk tampil optimal di PON.

Keberadaan PON tidak bisa dilepaskan dari konteks pembinaan berjenjang. Dari rantai pembinaan itu, di tingkat kota dan kabupaten juga terdapat sasaran antara dan sasaran puncak. Secara agregat, sasaran puncak dalam pencapaian prestasi bagi pembinaan para atlet di kota dan kabupaten adalah meraih hasil membanggakan di Porprov. Bisa dibayangkan betapa dekatnya dua sasaran puncak itu sekarang. PON yang sedianya dilaksanakan pada tahun lalu terpaksa diundur setahun akibat pandemi.

Keberadaan sasaran puncak berkonsekuensi pada penahapan penempaan atlet. Mereka diminta tampil all out di ajang yang memang menjadi tujuan utamanya. Para atlet yang berlaga di PON, bila memang memenuhi kriteria tentu juga bakal diminta kota dan kabupaten asalnya untuk berlaga di Porprov. Sama halnya dengan PON, Porprov juga mengenal babak kualifikasi. Dengan demikian para atlet Jateng bakal segera disibukkan dengan babak kualifikasi Porprov bila tidak ada penundaan.

Jarak antara PON dan babak kualifikasi Porprov yang relatif singkat tentu bukanlah kondisi ideal saat kita telah menempatkan Porprov sebagai sasaran utama pembinaan prestasi untuk atlet-atlet yang dibina di tingkat kota dan daerah. Terlebih fase persiapan untuk itu semua berada dalam keterbatasan, mengingat kita masih disibukkan dengan mitigasi Covid-19. Konsekuensinya pada refocusing dan realokasi anggaran. Padahal peran pemerintah begitu sentral dalam keolahragaan di negeri ini.

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Quo Vadis Kejaksaan RI?

Senin, 10 Januari 2022 | 09:12 WIB

Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia Pascapandemi

Sabtu, 8 Januari 2022 | 08:12 WIB

Digitalisasi Ibuisme

Kamis, 6 Januari 2022 | 12:30 WIB

Negeri-negeri Ambon Manise untuk Indonesia

Senin, 27 Desember 2021 | 08:45 WIB

Beri mereka waktu

Rabu, 22 Desember 2021 | 10:12 WIB

Peran Ibu dalam Penguatan Literasi Digital

Rabu, 22 Desember 2021 | 09:12 WIB

Di Balik Kebakaran Pasar Weleri

Minggu, 12 Desember 2021 | 17:42 WIB

Di Balik Meroketnya Harga Minyak Goreng

Kamis, 9 Desember 2021 | 07:45 WIB

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB
X