Melindungi Remaja dari Permainan Roleplayer

Red
- Senin, 23 Agustus 2021 | 00:20 WIB
SM/Dok
SM/Dok

Oleh Nugraheni Widiyaningsih

BUDAYA K-Pop sudah menjadi konsumsi hampir seluruh remaja di Indonesia. Keberadaannya bahkan sudah menyebar luas hingga penjuru dunia. K-Pop menjadi salah satu jenis musik yang digemari ramaja beberapa tahun belakangan ini. Kegilaan pada sosok idola Korea Selatan itu disebabkan oleh rupa dan paras yang rupawan. Entah itu wajah asli atau hasil rekayasa operasi plastik. Selain dari wajah rupawan, make up para idola juga ditiru oleh remaja masa kini, termasuk fasyen ala Korea yang menjadi tren.

Fenomena keberadaan idolaidola dari Korea Selatan itu mendatangkan beberapa dampak, di antaranya adalah fans yang memiliki rasa cinta berlebihan bahkan cenderung fanatik. Penggemar yang seperti itu biasa dijuluki K-Poper.

Berawal dari kefanatikan KPop, muncul sebuah permainan di dunia maya yang dinamakan dengan Roleplayer Game (RPG). Dunia Roleplayer (RP) ini sebenarnya bukan hal yang baru di kalangan remaja. Beberapa pemain RP bahkan sudah viral di media sosial sehingga orang-orang pun penasaran.

Kalangan yang diarah pada permainan tersebut adalah remajaremaja yang masih labil. Meskipun beberapa pemain ada yang berusia dewasa, permainan tersebut digemari di kalangan remaja usia 15-18 tahun.

Permainan RP adalah bentuk permainan untuk memerankan tokoh terkenal yang menjadi idolanya melalui media sosial. Misalnya, ketika seorang remaja mengidolakan seorang idol atau salah satu artis K-Pop kemudian ia akan memainkan peran untuk menjadi artis tersebut dan seolaholah memperkenalkan idolanya kepada followers-nya di media sosial.

Awalnya pemain RP bertujuan untuk mempromosikan artis idolanya, lalu mereka memerankan diri menjadi artis tersebut. Dengan peran yang dipilihnya, mereka akan membuat akun pribadi dengan data yang berisi identitas artis idola yang diperankan, memasang dan memaparkan segala sesuatu yang sama dengan artis idola yang diperankannya, istilah kekiniannya fake account atau akun palsu.

Cara mereka dalam memainkan permainan itu, mereka harus berperan sebagai sang artis idolanya. Lalu mereka juga akan melakukan fanstalk (mengobrol dengan fans yang mengindolakan peran yang sedang mereka perankan) dan fanservice, misalnya, mengirimkan foto sang idola dengan foto gestur tangan membetuk hati (finger heart). Intinya, pemain RP akan melakukan hal-hal yang menyenangkan para fansnya dari tokoh yang sedang ia perankan.

Sudah dipastikan, dunia RP sudah benar-benar membawa pengaruh negatif, perilaku mereka menyimpang, sering melakukan hal-hal yang tak selazimnya dilakukan oleh seusia anak-anak remaja. Berawal tidak saling mengenal, mereka melakonkan peran selayaknya sebuah keluarga, misalnya sebagai suami istri, pacar (pasangan), dan sahabat baik (bestie). Mereka pun merasa puas dengan memiliki keluarga maya, pasangan maya. Perilaku tersebut jelas meresahkan, bisa lupa dengan realita hidup di luar sana.

Ketagihan dalam bermain RP jelas membawa dampak negatif yang sangat besar untuk perkembangan mental remaja. Remaja pencandu RP akan memiliki daya hayal berlebihan merasa seolaholah dialah seorang artis idola. Terlalu asyik bermain, lupa waktu, sehingga lupa dengan kehidupan nyata, lebih parah lagi ketika begitu mengidolakan dan memerankan artis idola tersebut, mereka berinteraksi dengan sesama pemain RP dan memalsukan identitas.

Mereka tidak mengetahui sedang berhubungan dengan siapa. Dalam permainan tersebut, ketika menemukan pasangan, mereka akan bekomunikasi selayaknya pasangan yang sedang dimabuk asmara. Tanpa mengetahui identitas aslinya, sesekali dari para pemain RP tersebut, melakukan perbuatan yang di luar batas usia. Misalnya saling mengirimkan gambar adegan tak pantas.

Solusi terbaik dalam mengatasi hal tersebut adalah kembali pada keluarga. Pola asuh orang tua berperan penting dalam menyelamatkan anak remajanya ketika sudah kecanduan bermain RP. Peran keluarga harus kuat dalam menanamkan ideologi pada anak. Kekuatan iman dan komunikasi yang intens dalam keluarga sangat berpengaruh dalam perilaku dan sikap anak. Yuk, ajak anak-anak remaja untuk berkegiatan yang lebih positif, membangun prestasi, untuk menghindari perbuatan yang menyimpang tersebut. (40)

Nugraheni Widiyaningsih SPd, guru SMP 1 Mertoyudan, Kabupaten Magelang.

Halaman:
1
2

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Menengok Potensi Peran Milenial Kabupaten Brebes

Selasa, 18 Januari 2022 | 10:12 WIB

Quo Vadis Kejaksaan RI?

Senin, 10 Januari 2022 | 09:12 WIB

Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia Pascapandemi

Sabtu, 8 Januari 2022 | 08:12 WIB

Digitalisasi Ibuisme

Kamis, 6 Januari 2022 | 12:30 WIB

Negeri-negeri Ambon Manise untuk Indonesia

Senin, 27 Desember 2021 | 08:45 WIB

Beri mereka waktu

Rabu, 22 Desember 2021 | 10:12 WIB

Peran Ibu dalam Penguatan Literasi Digital

Rabu, 22 Desember 2021 | 09:12 WIB

Di Balik Kebakaran Pasar Weleri

Minggu, 12 Desember 2021 | 17:42 WIB

Di Balik Meroketnya Harga Minyak Goreng

Kamis, 9 Desember 2021 | 07:45 WIB

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB
X