Jogo Tonggo, Narasi Komunikasi Hati

Red
- Jumat, 20 Agustus 2021 | 00:35 WIB
SM/Dok
SM/Dok

Oleh Rini Darmastuti

SUATU sore sekitar dua bulan lalu, seorang teman yang berasal dari Palembang memberikan kabar melalui WhatsApp bahwa adiknya yang tinggal di Jepara terkena Covid-19. Yang membuat sedih, adiknya sekeluarga semua dinyatakan positif dan harus menjalani isolasi mandiri di rumah. Sekalipun kondisi kesehatan sang adik tidak begitu bagus, tetapi kasus Covid-19 yang meledak di Jepara membuat sang adik tidak memungkinkan dirawat di rumah sakit.

Pada saat itu, ruang ICU, IGD, maupun ruang rawat inap di semua rumah sakit di Jepara penuh dengan penderita Covid-19. Ketika mendapatkan pesan tersebut, saya kemudian bertanya, ''Bagaimana dengan kebutuhan makan dan kebutuhan lainnya untuk adik sekeluarga? Jogo Tonggo-nya jalan kan?''.

Teman saya menjawab, ''Bagaimana mau melakukan Jogo Tonggo, kalau dirinya sendiri juga terkena Covid- 19? Bagaimana mau melakukan Jogo Tonggo, kalau di daerah tersebut yang terkena Covid-19 lebih banyak daripada yang tidak terkena?''

Jawaban teman saya ini membuat saya sedih dan lemas.

Jogo Tonggo merupakan program yang diinisiasi oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang terkenal dengan istilah Jogo Tonggo Jateng Gayeng. Jogo Tonggo muncul sebagai tindakan untuk melawan serangan Covid- 19 dengan berbasis pada masyarakat. Masyarakat merupakan kekuatan utama untuk melawan Covid-19. Menurut Gubernur Ganjar Pranomo, ''Program Jogo Tonggo merupakan respons atas pandemi yang datang tiba-tiba. Saat semua sektor dilemahkan dan anggaran terbatas, tidak mungkin penanganan hanya dilakukan oleh satu lembaga.'' (2 April 2021, Portal PPID Prov Jateng).

Berdasarkan pemikiran bahwa masyarakat merupakan garda terdepan untuk melawan Covid-19, program Jogo Tonggo ini bergerak dengan kekuatan dari bawah, yaitu dari masyarakat sendiri. Dengan semangat gotong royong yang dikobarkan, menumbuhkan pemahaman dan kesadaran kepada setiap anggota masyarakat bahwa mereka adalah tiang penyangga dan kekuatan untuk melawan Covid-19.

Setiap anggota masyarakat merupakan penopang dan kekuatan untuk mengatasi pandemi serta ''penjaga'' bagi sesama. Penjaga untuk tetangga di kanankirinya, penjaga untuk teman kantornya maupun penjaga untuk saudara- saudaranya. Kesadaran inilah yang akhirnya memunculkan semangat untuk menggerakkan kekuatan dari bawah, sehingga ''roda'' Jogo Tonggo berputar dengan mengoptimalkan peran dari dasawisma, RT, RW, maupun PKK untuk saling menjaga.

Jogo Tonggo bergerak bukan hanya dalam ranah kesehatan, tetapi juga dalam hal pemenuhan pangan. Dengan pemikiran bahwa warga yang terpapar Covid-19 dan harus isolasi mandiri itu membutuhkan bantuan dalam hal pemenuhan pangan. Bagi warga yang sumber penghasilannya harian, isolasi mandiri merupakan petaka. Ketika hari ini harus isolasi mandiri, itu artinya hari ini tidak ada pendapatan. Pertanyaannya, kalau mereka harus isolasi mandiri, sementara mereka tidak bisa bekerja dan tidak ada pemasukan, kemudian bagaimana mereka harus memenuhi kebutuhan hidupnya selama isolasi mandiri? Pertanyaan inilah yang berusaha dijawab melalui program Jogo Tonggo.

Halaman:

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Fintech Syariah, Sang Primadona Transformasi Digital

Rabu, 23 November 2022 | 11:32 WIB

Ancaman Senyap Asap Rokok

Selasa, 22 November 2022 | 19:19 WIB

PMA 68 dan Dinamika Akademik di Kampus

Kamis, 17 November 2022 | 16:57 WIB

Kepemimpinan Berorientasi Pengetahuan

Rabu, 16 November 2022 | 11:12 WIB

Memperkuat Jaringan Koperasi Syariah

Selasa, 15 November 2022 | 11:32 WIB

Utang atau Cetak Uang Baru?

Senin, 14 November 2022 | 11:12 WIB

Kepemimpinan dalam Organisasi Pembelajar

Sabtu, 12 November 2022 | 11:12 WIB

Mewaspadai Budaya Gila Kerja

Jumat, 11 November 2022 | 11:15 WIB

Sustainability dalam Bisnis Perusahaan

Kamis, 10 November 2022 | 11:12 WIB

Pungli dalam Pengurusan Warisan

Minggu, 30 Oktober 2022 | 12:04 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Minggu, 23 Oktober 2022 | 21:00 WIB

Peci untuk Cakades

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 21:55 WIB

Mencari Pemimpin Profetik

Senin, 10 Oktober 2022 | 12:03 WIB

Tragedi Oktober di Kanjuruhan

Minggu, 2 Oktober 2022 | 10:02 WIB

Obstruction of Press Freedom

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 09:16 WIB

Mari Dukung Partisipasi Taiwan di ICAO

Jumat, 30 September 2022 | 21:47 WIB
X