Pengoptimalan Anggaran Covid-19

Red
- Kamis, 19 Agustus 2021 | 01:40 WIB
Tajuk Rencana
Tajuk Rencana

Tak mengada-ada jika sektor kesehatan dan penguatan perlindungan masyarakat dijadikan salah satu fokus perhatian pemerintah pada 2020. Selain fokus kepada sektor kesehatan, pemerintah juga menaruh perhatian lebih kepada perlindungan sosial, pembangunan sumber daya manusia, dan pembangunan infrastruktur.

Akan tetapi merancang anggaran kesehatan sebesar Rp 255,3 triliun atau 9,4 persen dari belanja negara, jelas menunjukkan ada keberpihakan lebih pemerintah kepada sektor kesehatan. Tentu cukup banyak juga yang harus ditangani dengan sangat khusus di sektor kesehatan.

Menurut Presiden Joko Widodo, paling tidak anggaran kesehatan tersebut akan digunakan sebaik-baiknya untuk penanganan pandemi Covid-19, reformasi sistem kesehatan, percepatan penurunan stunting, serta kesinambungan program Jaminan Kesehatan Nasional.

Ini menunjukkan meskipun menangani Covid-19 penting, pemerintah tak ingin abai kepada persoalan-persoalan kesehatan yang lain.

Hanya, memang harus diakui, penanganan Covid-19 mendapatkan perhatian yang spesial. Ada anggaran untuk antara lain mengantisipasi risiko dampak Covid-19, pembenahan fasilitas layanan kesehatan, dan pengembangan teknologi informasi dalam pelayanan kesehatan. Mungkin yang juga harus dipikirkan adalah kemungkinan penambahan jumlah rumah sakit. Karena penderita Covid-19 makin banyak dan pasien penyakit lain juga perlu dilayani, penambahan rumah sakit dan fasilitas kesehatan lain perlu diwujudkan.

Tak pelak anggaran untuk penanganan Covid-19 memang mesti dioptimalkan. Hal-hal lain, semisal pembangunan-pembangunan rumah sakit atau fasilitas layanan kesehatan yang baru, biarlah dipikirkan oleh swasta.

Pemerintah fokus saja antara lain ke peningkatan ketahanan kesehatan, peningkatan kualitas dan redistribusi tenaga kesehatan, dan persoalan-persoalan lain.

Dengan kata lain, penanganan masalah-masalah kesehatan, terutama Covid-19, sebaiknya memang harus digotong atau disunggi bersama. Perihal penambahan jumlah rumah sakit dan fasilitas-fasilitas kesehatan yang lain hingga di tingkat desa juga harus dipikirkan dengan bijak.

Tentu penambahan jumlah akan berkorelasi dengan bisnis rumah sakit atau unit-unit layanan kesehatan. Para pemilik rumah sakit, misalnya, akan berhadapan dengan kompetitor baru sehingga secara logika pendapatan akan berkurang.

Hanya, sebaiknya pada masa darurat dan pandemi yang tak kunjung habis ini, siapa pun jangan melulu berurusan dengan bisnis. Urus pula yang berkait dengan kemanusiaan.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB

Metamorfosis Implementasi MBKM di Perguruan Tinggi

Senin, 8 November 2021 | 11:12 WIB

Kebijakan Publik Versus PCR dan Antigen

Minggu, 7 November 2021 | 23:23 WIB

Pangan dan Telur Ayam

Minggu, 7 November 2021 | 15:26 WIB

Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Senin, 25 Oktober 2021 | 23:45 WIB

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB
X