Celah Perdamaian di Afganistan

Red
- Kamis, 19 Agustus 2021 | 01:26 WIB
Anna Yulia Hartati SIP MA
Anna Yulia Hartati SIP MA

"Juru bicara kantor politik Taliban, Mohammad Naeem, menyatakan bahwa Taliban tidak ingin hidup dalam isolasi dan menyerukan hubungan internasional yang damai dengan seluruh negara di dunia. Taliban saat ini berusaha untuk memproyeksikan wajah yang lebih moderat. Kelompok ini menjanjikan untuk menghormati hak-hak perempuan Afganistan dan melindungi warga asing, dan seluruh masyarakat negara itu."

TALIBAN berhasil menduduki Kabul dan Istana Kepresidenan pada hari Minggu tanggal 15 Agustus 2021 (CNN,15/8). Setelah satu bulan terus menggempur tentara pemerintah dan merebut kota-kota penting, akhirnya Kabul bisa dikuasai dan mengambil alih Istana Kepresidenan Afganistan.

Bagaimana Afganistan di bawah kendali Taliban? Adakah celah perdamaian di Afganistan? Salah satu konflik yang paling menyita perhatian dunia akhirakhir ini adalah konflik di Afganistan, seiring dengan ditariknya pasukan AS dari Afganistan.

Perang Afganistan telah berlangsung selama 19 tahun, diawali oleh Amerika Serikat kepada al- Qaeda dan Taliban lalu kemudian menjadi perang antara pemerintah Afganistan dan Taliban. Kejadian serangan teroris 9/11 yang dipimpin oleh Al-Qaeda telah menjadi pemicu awal perang Afganistan.

Deklarasi War of Terror oleh Presiden AS George WBush telah menjadikan terorisme sebagai musuh dunia yang harus dilawan bersama-sama dan dalam melawan teroris, AS mengintervensi dan menyerang Afganistan atau disebut sebagai Operation Enduring Freedom (OEF) ke Afganistan.

Bush dengan segera meminta pemerintah Taliban untuk menyerahkan pemimpin al-Qaeda Osama bin Laden yang bersembunyi di Afganistan, tetapi al-Qaeda justru didukung oleh rezim Taliban sehingga AS dengan sigap menyerang Afganistan.

Melalui deklrasi War on Terror, Bush menjadikan hal tersebut sebagai justifikasi untuk menggalang dukungan dari semua negara untuk menyerang dan mengintervensi ke al-Qaeda dan Taliban di Afganistan pada 7 Oktober 2001 (Taddeo, 2010) Selama intervensi dan serangan AS di Afganistan berlangsung, Taliban telah jatuh pada 2001 dan pemerintahan Afganistan yang terpilih telah menggantikan Taliban.

Perubahan dari rezim Taliban ke pemerintah Afganistan telah menjadi sebuah transisi ke pemerintahan yang demokratis (Thomas, 2020). Proses pemilihan presiden dan parlemen dilakukan dengan voting, bukan lagi menunjuk pemimpin dari sebuah perjanjian atau pilihan oleh beberapa pemimpin seperti di bawah rezim Taliban.

Pemilihan presiden pertama di Afganistan dilaksanakan pada tahun 2004 yang dimenangkan Karzai, kemudian pemilu tahun 2014 dan 2019 lalu dalam pemilihan presiden dimenangkan oleh Ashraf Ghani.

Kurang Optimal

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Menengok Potensi Peran Milenial Kabupaten Brebes

Selasa, 18 Januari 2022 | 10:12 WIB

Quo Vadis Kejaksaan RI?

Senin, 10 Januari 2022 | 09:12 WIB

Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia Pascapandemi

Sabtu, 8 Januari 2022 | 08:12 WIB

Digitalisasi Ibuisme

Kamis, 6 Januari 2022 | 12:30 WIB

Negeri-negeri Ambon Manise untuk Indonesia

Senin, 27 Desember 2021 | 08:45 WIB

Beri mereka waktu

Rabu, 22 Desember 2021 | 10:12 WIB

Peran Ibu dalam Penguatan Literasi Digital

Rabu, 22 Desember 2021 | 09:12 WIB

NEWA, Peluang Baru Bisnis Perhotelan

Selasa, 14 Desember 2021 | 11:30 WIB

Di Balik Kebakaran Pasar Weleri

Minggu, 12 Desember 2021 | 17:42 WIB

Di Balik Meroketnya Harga Minyak Goreng

Kamis, 9 Desember 2021 | 07:45 WIB

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB
X