Wajah Lama Pangkalan Militer AS

Red
- Senin, 2 Agustus 2021 | 00:10 WIB
Logo SM (b01m)
Logo SM (b01m)

Presiden Filipina Rodrigo Duterte memulihkan pakta pertahanan yang mengatur kehadiran pangkalan militer Amerika Serikat di Filipina. Keputusan Duterte bagaikan antiklimaks setelah sebelumnya ketegangan muncul antara dua negara itu karena Filipina sempat menolak kehadiran pasukan AS. Pada tahun lalu, Duterte bersumpah untuk mengakhiri pakta kerja sama terkait pangkalan militer.

Kehadiran pangkalan militer AS di Filipina sudah sangat lama, hampir seabad, dan telah berulang kali memicu isu-isu panas di dalam negeri maupun politik regional. Sejak 1907, Amerika menggunakan Subic sebagai pangkalan Angkatan Lautnya. Kehadiran Amerika tidak lepas dari sejarah Filipina sebagai bekas koloni AS. Pada 1917, Amerika Serikat juga memanfaatkan pangkalan udara Clark.

Kehadiran militer Amerika di Filipina rupanya juga banyak memicu keresahan sosial, baik akibat relasi sosial langsung antara personel militer AS dengan warga setempat maupun akibat perubahan sosial tak langsung yang dibawa pangkalan militer. Terlepas dari itu, kehadiran pangkalan militer juga merepresentasi wajah kekuatan Amerika berhadapan dengan kekuatan negara lain.

Intensitas perseteruan dengan Republik Rakyat Tiongkok misalnya, juga dipengaruhi oleh kesiapan perang Amerika, yang dalam hal ini terwujud sangat bagus dengan pangkalan militer di Subic dan Clark. Sikap Duterte yang semula bersikas menolak perpanjangan kerja sama pangkalan militer itu mengejutkan. Nyaris tidak seorang pun mengetahui alasan pasti atas perubahan sikap Duterte tersebut.

Kepastian yang sudah pasti saat ini adalah kehadiran pangkalan militer yang akan sangat lama beroperasi. Persoalan-persoalan sosial, keamanan domestik, serta isu-isu domestik perlu segera diselesaikan Pemerintah Filipina untuk mencegah isu-isu tersebut berkembang panas dan tidak terkendali. Selain itu, ekuilibrium politik regional membutuhkan strategi baru dengan kehadiran pangkalan militer.

Rentang waktu seabad pangkalan militer AS di Filipina sudah lebih dari cukup untuk memprediksi arah perkembangan kekuatan militer AS di banyak dunia, termasuk di antaranya kini di Filipina. Hubungan bilateral harus dikelola untuk menghasilkan sinergi yang positif. Dunia berharap, perpanjangan kerja sama itu hanyalah penundaan untuk penghapusan permanen pangkalan militer.

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Menyusuri Masa Lalu Aneka Kota

Sabtu, 18 September 2021 | 00:59 WIB

Arah Jalan Berbahaya bagi KPK

Sabtu, 18 September 2021 | 00:49 WIB

Strategi UMKM saat Endemi

Sabtu, 18 September 2021 | 00:44 WIB

Perpres Pendanaan Pesantren

Jumat, 17 September 2021 | 00:20 WIB

Membangun Fondasi Green Economy

Jumat, 17 September 2021 | 00:10 WIB

Standar Pembelajaran Tatap Muka

Jumat, 17 September 2021 | 00:00 WIB

Membenahi Rantai Pasokan Pangan

Kamis, 16 September 2021 | 00:47 WIB

Modal Manusia Islami untuk LKMS

Rabu, 15 September 2021 | 01:40 WIB

Mewujudkan Jalur Kereta Api Semarang-Rembang

Selasa, 14 September 2021 | 20:24 WIB

”Samudra Biru” Pendidikan Tinggi

Selasa, 14 September 2021 | 20:10 WIB

Mengawal Dana PEN di Bank Umum

Senin, 13 September 2021 | 11:21 WIB

Mewaspadai Covid-19 Varian Mu

Senin, 13 September 2021 | 00:20 WIB

Menatap Kemungkinan Pandemi ke Endemi

Senin, 13 September 2021 | 00:10 WIB

Membangun Ekosistem Industri Game Lokal

Senin, 13 September 2021 | 00:00 WIB

Menjaga Kohesi Sosial

Sabtu, 11 September 2021 | 04:13 WIB

Menjaga Kohesi Pascapandemi

Jumat, 10 September 2021 | 09:48 WIB

Ketenangan Atasi Long Covid-19

Jumat, 10 September 2021 | 00:20 WIB

Segerakan Reformasi Pengelolaan Lapas

Jumat, 10 September 2021 | 00:10 WIB

Meniru Semangat Pembuatan UU Cipta Kerja

Jumat, 10 September 2021 | 00:00 WIB
X