Pelajaran Sukses dari Olimpiade Tokyo

Red
- Sabtu, 31 Juli 2021 | 02:35 WIB
Prof Dr Agus Kristiyanto MPd
Prof Dr Agus Kristiyanto MPd

Cara pandang optimistis digunakan untuk mencari secercah cahaya terang mendapatkan ”pelajaran sukses” dalam penyelenggaraan Olimpiade Musim Panas yang juga diikuti oleh setidaknya 29 atlet pengungsi (refugee) yang karena alasan tertentu mereka tidak bisa mewakili atas nama negaranya.

Setidaknya refugee tersebut berasal dari 11 negara yang sedang mengalami konflik dan juga karena ada negara yang mendapat ”kartu merah” dari International Olympic Committee (IOC) karena melakukan pelanggaran berat, hingga ”di-black list” tak bisa ikut di Olimpiade.

Sumber Pelajaran

Pisau analisis untuk menemukan sumber-sumber pelajaran sukses penyelenggaraan multievent olahraga yang telah lazim adalah dengan basis analisis tri sukses. Kesuksesan diukur dari sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, dan sukses ekonomi.

Pertama, dari kacamata kesuksesan penyelenggaraan terdapat beberapa parameter penting, yakni terutama ketuntasan, keamanan, dan keselamatan bersama.

Olimpiade sukses jika terselenggara secara tuntas, progresif dan komprehensif sejak pembukaan hingga penutupan. Hal tersebut menunjukkan tidak ada kendala berarti dalam pelaksanaan.

Parameter keamanan dan keselamatan menjadi rujukan baku. Keamanan berkaitan dengan keamanan secara umum maupun spesifik.

Keamanan umum berkaitan dengan keberlangsungan kondisi makro tanpa ada ”gangguan” berarti baik dari ancaman bahaya secara internal maupun eksternal.

Keamanan spesifik berkaitan dengan keamanan di 33 cabang olahraga (cabor) dan 309 nomor yang dipertandingkan/diperlombakan. Standar keamanan dituntut sangat spesifik sesuai karakteristik masing-masing cabor/nomor. Keselamatan secara umum berkaitan dengan kesuksesan penyelenggaraan yang menghadirkan setidaknya 11.090 orang atlet tersebut agar tidak mengarah pada sebutan ”klaster Olimpiade”.

Kendati segala sesuatunya telah didesain dengan protokol kesehatan ketat, termasuk wajib vaksinasi lengkap, peluang untuk terjadi kontak dan kontaminasi yang mengarah pada ”konfirmasi baru” tetap menjadi sesuatu yang menghantui.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Aksi Kita adalah Masa Depan Kita

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 21:36 WIB

Masjid dan Peran Memakmurkan Umat

Selasa, 5 Oktober 2021 | 13:31 WIB

Aspek Hukum Arisan Online

Jumat, 24 September 2021 | 00:30 WIB

Mengganti Beban Pembiayaan BLBI

Jumat, 24 September 2021 | 00:10 WIB

Antusiasme Menyambut Kompetisi Liga 3

Jumat, 24 September 2021 | 00:00 WIB

Memindai Cermin Kota Kudus

Kamis, 23 September 2021 | 11:36 WIB

Indonesia Diuji dalam Ketegangan AUKUS

Kamis, 23 September 2021 | 01:28 WIB

Mewujudkan Sekolah Tatap Muka Aman

Kamis, 23 September 2021 | 01:25 WIB

Keterampilan dan Kompetensi Abad 21

Kamis, 23 September 2021 | 01:16 WIB

Maksimalkan Efektivitas Blended Learning

Rabu, 22 September 2021 | 01:11 WIB

Gernas BBI Jangan Hanya Seremonial

Rabu, 22 September 2021 | 01:08 WIB

Mahasiswa Merdeka

Rabu, 22 September 2021 | 01:03 WIB

Penguatan Imunitas Usaha Koperasi

Selasa, 21 September 2021 | 00:32 WIB

Jangan Lengah dalam Mitigasi Covid-19

Selasa, 21 September 2021 | 00:27 WIB

Wakaf untuk Sektor Informal

Selasa, 21 September 2021 | 00:22 WIB

Menjaga Keamanan ”PeduliLindungi”

Senin, 20 September 2021 | 00:20 WIB

Keamanan Nelayan di Laut China Selatan

Senin, 20 September 2021 | 00:10 WIB

Berharap kepada Inovasi Kepariwisataan

Senin, 20 September 2021 | 00:00 WIB
X