Ideologi Global untuk Perubahan Iklim

Red
- Kamis, 29 Juli 2021 | 02:52 WIB
Tajuk Rencana
Tajuk Rencana

Diskusi dan pembahasan mengenai perubahan iklim kembali digelar. Sekitar 200 negara sejak Senin (26/7) memulai negosiasi virtual untuk memvalidasi laporan tim pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai perubahan iklim.

Pembahasan itu kebetulan bertepatan dengan bencana banjir, kekeringan, dan cuaca ekstrem di tiga benua yang diyakini sebagai dampak perubahan iklim.

Perubahan iklim global telah menjadi perhatian serius para pakar sains di seluruh dunia. Perubahan iklim akibat kerusakan lingkungan sebagai dampak perilaku bisnis dan pemenuhan konsumsi manusia yang tidak terukur dan terkontrol telah mengakibatkan banyak perubahan lingkungan secara berantai.

Kenaikan temperatur misalnya, berdampak kerugian pada sektor pertanian dan perkebunan.

Banjir, cuaca ekstrem, kekeringan, kenaikan permukaan air laut dan penurunan tanah adalah sedikit dari akibat buruk perubahan iklim.

Meskipun para ilmuwan sudah menyerukan berbagai peringatan sejak beberapa dekade lalu mengenai isu ini, para pemimpin negara dan pemegang kekuatan bisnis besar masih sulit menghentikan laju perubahan iklim karena berbagai alasan.

Alasan terutama adalah kepentingan politik yang berkait dengan kapitalisasi bisnis. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membujuk para taipan industri otomotif untuk menerapkan teknologi ramah lingkungan dan rendah karbon.

Itupun, belum berhasil menurun secara signifikan emisi karbon di seluruh dunia yang mengakibatkan kerusakan lapisan ozon dan memicu perubahan iklim global. Agar perubahan iklim sungguhsungguh mendapat perhatian umat manusia dan tidak hanya terbatas pada diskusi-diskusi di ruangan negosiasi, perubahan iklim seharusnya tampil sebagai ideologi.

Sosialisme dan kapitalisme mampu menggerakkan manusia dan membangun sistem karena diterima sebagai ideologi.

Perubahan iklim bisa saja diramu dalam bingkai ideologi futurisme eskatologis. Dengan ideologi futurisme, isuisu mengenai perubahan iklim tidak sekadar sebagai sebuah materi esoteris di meja perundingan.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Aspek Hukum Arisan Online

Jumat, 24 September 2021 | 00:30 WIB

Mengganti Beban Pembiayaan BLBI

Jumat, 24 September 2021 | 00:10 WIB

Antusiasme Menyambut Kompetisi Liga 3

Jumat, 24 September 2021 | 00:00 WIB

Memindai Cermin Kota Kudus

Kamis, 23 September 2021 | 11:36 WIB

Indonesia Diuji dalam Ketegangan AUKUS

Kamis, 23 September 2021 | 01:28 WIB

Mewujudkan Sekolah Tatap Muka Aman

Kamis, 23 September 2021 | 01:25 WIB

Keterampilan dan Kompetensi Abad 21

Kamis, 23 September 2021 | 01:16 WIB

Maksimalkan Efektivitas Blended Learning

Rabu, 22 September 2021 | 01:11 WIB

Gernas BBI Jangan Hanya Seremonial

Rabu, 22 September 2021 | 01:08 WIB

Mahasiswa Merdeka

Rabu, 22 September 2021 | 01:03 WIB

Penguatan Imunitas Usaha Koperasi

Selasa, 21 September 2021 | 00:32 WIB

Jangan Lengah dalam Mitigasi Covid-19

Selasa, 21 September 2021 | 00:27 WIB

Wakaf untuk Sektor Informal

Selasa, 21 September 2021 | 00:22 WIB

Menjaga Keamanan ”PeduliLindungi”

Senin, 20 September 2021 | 00:20 WIB

Keamanan Nelayan di Laut China Selatan

Senin, 20 September 2021 | 00:10 WIB

Berharap kepada Inovasi Kepariwisataan

Senin, 20 September 2021 | 00:00 WIB

Menyusuri Masa Lalu Aneka Kota

Sabtu, 18 September 2021 | 00:59 WIB

Arah Jalan Berbahaya bagi KPK

Sabtu, 18 September 2021 | 00:49 WIB

Strategi UMKM saat Endemi

Sabtu, 18 September 2021 | 00:44 WIB
X