Melawan Gerakan Inkonstitusional

Red
- Kamis, 29 Juli 2021 | 02:46 WIB
Dr Sumaryoto Padmodingrat MM
Dr Sumaryoto Padmodingrat MM

"Kalau memang hendak mengambil alih kekuasaan, lakukanlah secara kesatria dan konstitusional melalui pemilu. Tawarkan kebijakan alternatif, jangan asal mengkritik tanpa solusi. Kritik boleh, nyinyir jangan. Kalau memang rakyat bersimpati, niscaya akan memberikan dukungan pada Pemilu 2024."

ENTAH siapa yang mulai. Seruan aksi demonstrasi itu menggelegar di media sosial. "Long march" bertajuk "Jokowi End Game" akan digelar dari Glodok ke Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu (24/7/2021).

Seruan yang sama juga bergaung di Jawa Tengah, oleh grup WhatsApp "Klub Tenis" yang menyerukan aksi demo di Semarang, Solo, Sukoharjo, Brebes dan Kudus.

Tujuan aksi itu sama: mengacaukan kota! Kini, polisi tengah memburu penyebar seruan itu.

Di Jakarta, polisi menangkap enam orang yang terindikasi hendak ikut demo meski kemudian dilepas lagi. Di Jateng, polisi menangkap dua orang inisiator grup WA "Klub Tenis".

Namun, aksi itu tak benarbenar terjadi. Mungkin karena polisi sudah melakukan antisipasi. Mungkin juga karena rakyat jengah dan tak mau ikut aksi. Apa pun motifnya, siapa pun penggeraknya, memang tak patut aksi demo digelar di tengah pandemi Covid-19.

Apalagi sedang diterapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKPM) Darurat, 3-20 Juli 2021, yang kemudian dilanjutkan dengan PKPM Level 4 hingga 25 Juli 2021/dan 2 Agustus 2021. Jika dipaksakan, berarti mereka tidak mengasihi rakyat yang nasibnya ibarat sudah jatuh tertimpa tangga.

Rakyat memang sedang susah. Sudah lebih dari setahun ini rakyat menanggung derita akibat krisis kesehatan dan krisis ekonomi yang ditimbulkan pandemi Covid-19.

Apalagi rakyat kecil yang pencahariannya berdagang atau menjual jasa seperti ojek. Rakyat yang sedang susah itu ibarat rumput kering yang mudah terbakar. Disulut api sedikit saja bisa langsung menyala.

Apalagi jika lebih dulu disiram minyak. Jadi, jika ada yang menghasut untuk demo dan berbuat anarkis, mereka lebih mudah terprovokasi. Padahal yang akan rugi adalah rakyat sendiri.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Aspek Hukum Arisan Online

Jumat, 24 September 2021 | 00:30 WIB

Mengganti Beban Pembiayaan BLBI

Jumat, 24 September 2021 | 00:10 WIB

Antusiasme Menyambut Kompetisi Liga 3

Jumat, 24 September 2021 | 00:00 WIB

Memindai Cermin Kota Kudus

Kamis, 23 September 2021 | 11:36 WIB

Indonesia Diuji dalam Ketegangan AUKUS

Kamis, 23 September 2021 | 01:28 WIB

Mewujudkan Sekolah Tatap Muka Aman

Kamis, 23 September 2021 | 01:25 WIB

Keterampilan dan Kompetensi Abad 21

Kamis, 23 September 2021 | 01:16 WIB

Maksimalkan Efektivitas Blended Learning

Rabu, 22 September 2021 | 01:11 WIB

Gernas BBI Jangan Hanya Seremonial

Rabu, 22 September 2021 | 01:08 WIB

Mahasiswa Merdeka

Rabu, 22 September 2021 | 01:03 WIB

Penguatan Imunitas Usaha Koperasi

Selasa, 21 September 2021 | 00:32 WIB

Jangan Lengah dalam Mitigasi Covid-19

Selasa, 21 September 2021 | 00:27 WIB

Wakaf untuk Sektor Informal

Selasa, 21 September 2021 | 00:22 WIB

Menjaga Keamanan ”PeduliLindungi”

Senin, 20 September 2021 | 00:20 WIB

Keamanan Nelayan di Laut China Selatan

Senin, 20 September 2021 | 00:10 WIB

Berharap kepada Inovasi Kepariwisataan

Senin, 20 September 2021 | 00:00 WIB

Menyusuri Masa Lalu Aneka Kota

Sabtu, 18 September 2021 | 00:59 WIB

Arah Jalan Berbahaya bagi KPK

Sabtu, 18 September 2021 | 00:49 WIB

Strategi UMKM saat Endemi

Sabtu, 18 September 2021 | 00:44 WIB
X