Pengembangan Industri Olahan Mangrove Dukung Konservasi, Saatnya Sulap Bakau Jadi Sirup dan Kopi

- Selasa, 27 Juli 2021 | 21:30 WIB
hutan mangrove (jateng prov)
hutan mangrove (jateng prov)

BULAT pipih mirip biji asam. Buah berwarna hijau tua ini punya tekstur yang lembut setelah direbus. Rasanya pahit tapi ada manis-manisnya. Brayo namanya. Di era 1990-an, makanan ini masih lazim dijajakan di pasar-pasar tradisional di daerah Rembang.

Cukup ditambah kelapa parut, brayo rebus siap dikudap. Sayang, kini brayo jarang dijajakan di pasar. ''Kadang ada, tapi jarang sekali,'' kata Izzun, warga Lasem, Rembang.

Brayo merupakan kudapan dari biji mangrove. Di Rembang, brayo biasanya dijual dalam kondisi sudah direbus. Konsumen tinggal mencucinya dengan air hangat, ditiriskan, lalu dicampur dengan kelapa parut yang telah ditaburi garam.

Bisa dibilang ini pengolahan paling sederhana dari produk mangrove. Di Desa Bedono, Demak, produk turunan mangrove telah diolah menjadi berbagai komoditas. Di antaranya keripik daun mangrove.

Baca Juga: Mensos Cek Penyaluran BST, Bantuan yang Diterima KPM Tidak Sesuai yang Diberikan

Di kawasan segara anakan di Desa Ujungalang Kecamatan Kampunglaut Kabupaten Cilacap, warga yang tergabung dalam kelompok Patra Krida Wana Lestari bahkan telah mengembangkan industri kreatif olahan makanan berbahan baku buah mangrove seperti stik buah tancang (Bruhuiera), sirup buah bogem (Soneratia Casaiolaris), dan kerupuk jerujon (Acanthus).

Thomas Heri Wahyono dari kelompok Patra Krida Wana Lestari dalam webinar ''Bincang Mangrove'' yang dilakukan WRI Indonesia bersama Yayasan Lahan Basah beberapa waktu lalu mengatakan, pengembangan industri kreatif olahan makanan berbahan baku buah mangrove mampu mendorong warga untuk ikut serta dalam upaya konservasi mangrove di kawasan ini. Sebab, dengan pengembangan industri olahan mangrove, warga bisa merasakan secara langsung manfaat ekonomi dari upaya konservasi yang dilakukan.

Baca Juga: Taj Yasin Apresiasi Banyak Penyintas Mau Donor Plasma Darah Konvalesen

Indonesia sebagai pemilik 20 persen lahan mangrove di dunia memang menghadapi tantangan degradasi hutan mangrove. Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRBM) mencacat terdapat 637 hektare ekosistem mangrove yang masuk dalam kategori kritis.

Selain karena abrasi, degradasi mangrove juga disebabkan oleh alih fungsi lahan, konflik kepentingan pengelolaan mangrove, minimnya kepedulian dalam pelestarian mangrove, serta teknik rehabilitasi pesisir yang belum memadai.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Aspek Hukum Arisan Online

Jumat, 24 September 2021 | 00:30 WIB

Mengganti Beban Pembiayaan BLBI

Jumat, 24 September 2021 | 00:10 WIB

Antusiasme Menyambut Kompetisi Liga 3

Jumat, 24 September 2021 | 00:00 WIB

Memindai Cermin Kota Kudus

Kamis, 23 September 2021 | 11:36 WIB

Indonesia Diuji dalam Ketegangan AUKUS

Kamis, 23 September 2021 | 01:28 WIB

Mewujudkan Sekolah Tatap Muka Aman

Kamis, 23 September 2021 | 01:25 WIB

Keterampilan dan Kompetensi Abad 21

Kamis, 23 September 2021 | 01:16 WIB

Maksimalkan Efektivitas Blended Learning

Rabu, 22 September 2021 | 01:11 WIB

Gernas BBI Jangan Hanya Seremonial

Rabu, 22 September 2021 | 01:08 WIB

Mahasiswa Merdeka

Rabu, 22 September 2021 | 01:03 WIB

Penguatan Imunitas Usaha Koperasi

Selasa, 21 September 2021 | 00:32 WIB

Jangan Lengah dalam Mitigasi Covid-19

Selasa, 21 September 2021 | 00:27 WIB

Wakaf untuk Sektor Informal

Selasa, 21 September 2021 | 00:22 WIB

Menjaga Keamanan ”PeduliLindungi”

Senin, 20 September 2021 | 00:20 WIB

Keamanan Nelayan di Laut China Selatan

Senin, 20 September 2021 | 00:10 WIB

Berharap kepada Inovasi Kepariwisataan

Senin, 20 September 2021 | 00:00 WIB

Menyusuri Masa Lalu Aneka Kota

Sabtu, 18 September 2021 | 00:59 WIB

Arah Jalan Berbahaya bagi KPK

Sabtu, 18 September 2021 | 00:49 WIB

Strategi UMKM saat Endemi

Sabtu, 18 September 2021 | 00:44 WIB
X