Merajut Ekonomi Pancasila

Red
- Jumat, 23 Juli 2021 | 05:40 WIB
Adi Ekopriyono
Adi Ekopriyono

Pengajaran Ilmu Ekonomi

Beberapa referensi menyebutkan, pengajaran ilmu ekonomi perguruan tinggi Indonesia didominasi oleh pemikiran-pemikiran ekonomi Klasik dan Neoklasik. Salah satu kelemahan mendasar ajaran ekonomi Neoklasik adalah terlalu bias pada pengusaha besar.

Materi ekonomi yang diajarkan dalam ekonomi Neoklasik berpijak pada keyakinan manusia sebagai homo economicus, yang selalu mengejar kepentingan privadi (self-interest) secara efisien.

Efisiensi ekonomi dianggap hanya terwujud melalui maksimalisasi profit dan minimalisasi biaya.

Efisiensi dipercaya hanya dapat dicapai melalui persaingan pasar (pasar bebas), sehingga ajaran yang ditonjolkan adalah persaingan (kompetitivisme), bukan kerja sama. Ajaran ekonomi Neoklasik yang terlalu mengagung-agungkan pasar melupakan aspek kelembagaan sosialbudaya, politik, dan ideologi gotong royong yang dianut masyarakat Indonesia. Ada anggapan bahwa keadilan bukanlah masalah dalam ilmu ekonomi, melainkan sudah masuk wilayah hukum ataupun politik.

Padahal, lebih dari 90% pelaku usaha kita adalah ekonomi rakyat, yang berkecimpung dalam usaha berskala mikro, kecil, dan menengah. Saat ini ilmu ekonomi yang diajarkan di perguruan tinggi merupakan ilmu ekonomi yang dikembangkan dari praktik ekonomi Barat, tepatnya ilmu ekonomi Neoklasik.

Dalam praktik, ekonomi pasar yang dilandasi oleh paham Neoklasik menjadi lebih dominan dalam aktivitas ekonomi di Indonesia, baik dalam tataran pelaku usaha, konsumen, maupun pengambil kebijakan.

Pengajaran ekonomi di perguruan tinggi cenderung menjauh dari nilai-nilai yang ada dalam Pancasila.

Sri Edi Swasono (dalam Kemandirian Ekonomi: Menghapus Sistem Ekonomi Subordinasi Membangun Ekonomi Rakyat, 2008) memaparkan kekeliuran pengajaran ekonomi di Indonesia, khususnya di perguruan tinggi, yaitu belum mampu melepaskan diri dari pemikiran Neoklasikal; menyandarkan diri pada paham kompetitivisme; sejak semula telah diawali dengan paham market fundamentalism; kurang memberikan perhatian cukup tentang sistem ekonomi komparatif di luar ortodoksi kapitalisme vs sosialisme; sejak awal telah diberikan kepada mahasiswa tanpa membedakan antara prinsip-prinsip ekonomi dan hukum-hukum ekonomi. Selain itu, pengajaran ilmu ekonomi banyak mengabaikan metode induktif dan lebih menekankan pada metode deduktif; globalisasi ekonomi banyak diungkapkan sebagai suatu cita-cita untuk mencapai efisiensi ekonomi dunia. Kekeliruan tersebut sudah saatnya disadari, khususnya para pengajar ekonomi di perguruan tinggi di Indonesia. Kekeliruan itu akan berdampak luas terhadap masa depan bangsa kita di masa depan.

Mahasiswa adalah aset penting yang akan melanjutkan tonggak estafet perjuangan bangsa. Itu sebabnya, dipandang perlu untuk menyusun dan merekonstruksikan kurikulum Ekonomi Pancasila di perguruan tinggi.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Aspek Hukum Arisan Online

Jumat, 24 September 2021 | 00:30 WIB

Mengganti Beban Pembiayaan BLBI

Jumat, 24 September 2021 | 00:10 WIB

Antusiasme Menyambut Kompetisi Liga 3

Jumat, 24 September 2021 | 00:00 WIB

Memindai Cermin Kota Kudus

Kamis, 23 September 2021 | 11:36 WIB

Indonesia Diuji dalam Ketegangan AUKUS

Kamis, 23 September 2021 | 01:28 WIB

Mewujudkan Sekolah Tatap Muka Aman

Kamis, 23 September 2021 | 01:25 WIB

Keterampilan dan Kompetensi Abad 21

Kamis, 23 September 2021 | 01:16 WIB

Maksimalkan Efektivitas Blended Learning

Rabu, 22 September 2021 | 01:11 WIB

Gernas BBI Jangan Hanya Seremonial

Rabu, 22 September 2021 | 01:08 WIB

Mahasiswa Merdeka

Rabu, 22 September 2021 | 01:03 WIB

Penguatan Imunitas Usaha Koperasi

Selasa, 21 September 2021 | 00:32 WIB

Jangan Lengah dalam Mitigasi Covid-19

Selasa, 21 September 2021 | 00:27 WIB

Wakaf untuk Sektor Informal

Selasa, 21 September 2021 | 00:22 WIB

Menjaga Keamanan ”PeduliLindungi”

Senin, 20 September 2021 | 00:20 WIB

Keamanan Nelayan di Laut China Selatan

Senin, 20 September 2021 | 00:10 WIB

Berharap kepada Inovasi Kepariwisataan

Senin, 20 September 2021 | 00:00 WIB

Menyusuri Masa Lalu Aneka Kota

Sabtu, 18 September 2021 | 00:59 WIB

Arah Jalan Berbahaya bagi KPK

Sabtu, 18 September 2021 | 00:49 WIB

Strategi UMKM saat Endemi

Sabtu, 18 September 2021 | 00:44 WIB
X