Covid-19 dan Perikemanusiaan

Red
- Kamis, 22 Juli 2021 | 03:06 WIB
Bambang Soesatyo
Bambang Soesatyo

"Berempati kepada penderitaan orang lain berarti mau menahan diri untuk tidak membuat gaduh ruang publik di tengah situasi darurat ini. Tidak juga nyinyir atau menyemburkan kritik-kritik tidak proporsional hanya karena ingin menunjukkan diri sendiri paling benar."

KETIKA sistem kesehatan berpotensi gagal memberi layanan kepada semua pasien akibat lonjakan jumlah orang sakit (functional collapse) di setiap rumah sakit, fakta ini menjadi pertanda bahwa situasinya benar-benar darurat. Suasana kebatinan pun begitu sulit dilukiskan dengan kata karena ratusan kematian per hari tak bisa dicegah.

Krisis kesehatan yang tereskalasi sekarang ini hendaknya menjadi panggilan bagi semua orang sehat untuk mengejahwantahkan perikemanusiaan bagi mereka yang menderita.

Situasi sekarang tak cukup disikapi dengan kepekaan dan keprihatinan, tetapi kepedulian dan keberanian siapa saja untuk segera bertindak atau menolong (sense of crisis).

Agar semua orang mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang situasi darurat saat ini, patutlah untuk mengacu pada pengumuman kematian puluhan pasien Covid-19 di RSUP Sardjito Yogyakarta dan pesan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tentang potensi sistem kesehatan mengalami ketidakmampuan melayani semua pasien.

Sebagaimana laporan dan penjelasan resmi manajemen RSUP Dr Sardjito, terhitung sejak Sabtu (3/7) pukul 20.00 sampai Minggu (4/7) pagi, tercatat 33 pasien Covid-19 meninggal karena RSUP itu kehabisan atau kekurangan stok oksigen.

Sebelumnya, ada pasien di Jakarta yang tak tertolong karena terlambat mendapatkan perawatan akibat rumah sakit penuh pasien Covid-19. Fakta di RSUP Sardjito itu praktis membenarkan pernyataan dan pesan dari IDI tentang lonjakan tajam jumlah pasien Covid- 19 akhir-akhir ini yang sudah sangat membebani sistem kesehatan.

IDI mengingatkan, situasi saat ini benar-benar mengkhawatirkan karena sejumlah fasilitas kesehatan berpotensi mengalami functional collapse atau tidak mampu memberi layanan kepada semua pasien.

Menanggapi keadaan itu, Presiden Joko Widodo menginstruksikan kementerian/lembaga dan pemerintah daerah agar membuat tempat isolasi untuk pasien Covid- 19.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga mendorong pemerintah daerah mendirikan rumah sakit lapangan untuk menambah tempat perawatan pasien Covid-19.

Kementerian PUPR kemudian menyiapkan 14 rumah sakit darurat sebagai tambahan. Namun, gerak cepat dari pemerintah itu ternyata belum cukup untuk menutup semua kebutuhan yang sangat mendesak. Masalah dan tantangan riilnya bukan sekadar kebutuhan ruang dan tempat tidur untuk merawat pasien, tetapi juga menipisnya stok alat-alat kesehatan, obat-obatan, hingga jumlah dokter dan perawat yang nyata-nyata menjadi sangat terbatas, atau tidak berimbang, akibat lonjakan tajam jumlah pasien pada semua rumah sakit rujukan.

Maka, kejadian fatal sebagaimana yang terjadi di RSUP Sardjito pun tak terhindarkan. Situasi yang demikian menyebabkan angka kematian akibat Covid-19 di dalam negeri juga meningkat.

Pada 15-16 Juli 2021 misalnya, tercatat 1.205 orang pasien yang meninggal dunia karena Covid-19. Total pasien Covid- 19 di Indonesia yang meninggal dunia sudah melampaui jumlah 70.000-an jiwa. Kini, tantangan bersama di tengah darurat Covid-19 sudah jelas.

Setelah pemerintah menambah belasan rumah sakit darurat, persoalan berikutnya yang harus segera dikerjakan adalah pengadaan alat-alat kesehatan dan obatobatan dalam jumlah yang memadai.

Siapa pun yang memiliki akses untuk pengadaan alat kesehatan dan obat-obatan tentu sangat diharapkan kontribusinya. Selain itu, problem penambahan tenaga dokter dan tenaga perawat pun harus segera dicarikan jalan keluar. Ini problem nyata. Contoh kasusnya adalah keluhan Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Jumlah tenaga kesehatan di sana terus berkurang karena banyak yang terpapar Covid-19 dan harus menjalani perawatan.

Sekitar 33 persen atau 180 tenaga kesehatan di kota itu dilaporkan terinfeksi Covid-19. Sebelumnya, Pemkot Tangerang juga telah meminta bantuan Pemerintah Pusat untuk segera memasok obatobatan dan oksigen.

Bantuan dan Empati

Jadi, situasi sekarang memanggil semua orang yang sehat untuk memberi pertolongan kepada mereka yang menderita. Semua orang dipanggil untuk mengejahwantahkan perikemanusiaan.

Sekecil apa pun bantuan yang bisa diberikan pasti sangat bermanfaat bagi mereka yang menderita.

Kalaupun tidak bisa membantu, minimal menunjukkan empati kepada mereka yang menderita. Berempati kepada penderitaan orang lain berarti mau menahan diri untuk tidak membuat gaduh ruang publik di tengah situasi darurat ini. Tidak juga nyinyir atau menyemburkan kritik-kritik tidak proporsional hanya karena ingin menunjukkan diri sendiri paling benar.

Sangat bijak jika semua pihak mau memberi kesempatan seluas-luasnya kepada pemerintah, para dokter, tenaga kesehatan, dan sukarelawan untuk merespons situasi darurat ini sejalan dengan strategi yang sudah ditetapkan.

Kalaupun ada kekurangan atau kelemahan, suarakanlah dengan kritik yang konstruktif dan solutif. Para elite dan pemerhati mungkin layak memaknai aksi sejumlah orang biasa-biasa saja dalam merespons situasi darurat sekarang ini. Mereka tidak bersuara tetapi lebih memilih langsung berbuat untuk menolong mereka yang menderita. Mereka adalah contoh orang biasa yang lebih mengedepankan naluri perikemanusiaannya. (40)

–– Bambang Soesatyo, Ketua MPR RI/Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Hukum Unpad.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Menyusuri Masa Lalu Aneka Kota

Sabtu, 18 September 2021 | 00:59 WIB

Arah Jalan Berbahaya bagi KPK

Sabtu, 18 September 2021 | 00:49 WIB

Strategi UMKM saat Endemi

Sabtu, 18 September 2021 | 00:44 WIB

Perpres Pendanaan Pesantren

Jumat, 17 September 2021 | 00:20 WIB

Membangun Fondasi Green Economy

Jumat, 17 September 2021 | 00:10 WIB

Standar Pembelajaran Tatap Muka

Jumat, 17 September 2021 | 00:00 WIB

Membenahi Rantai Pasokan Pangan

Kamis, 16 September 2021 | 00:47 WIB

Modal Manusia Islami untuk LKMS

Rabu, 15 September 2021 | 01:40 WIB

Mewujudkan Jalur Kereta Api Semarang-Rembang

Selasa, 14 September 2021 | 20:24 WIB

”Samudra Biru” Pendidikan Tinggi

Selasa, 14 September 2021 | 20:10 WIB

Mengawal Dana PEN di Bank Umum

Senin, 13 September 2021 | 11:21 WIB

Mewaspadai Covid-19 Varian Mu

Senin, 13 September 2021 | 00:20 WIB

Menatap Kemungkinan Pandemi ke Endemi

Senin, 13 September 2021 | 00:10 WIB

Membangun Ekosistem Industri Game Lokal

Senin, 13 September 2021 | 00:00 WIB

Menjaga Kohesi Sosial

Sabtu, 11 September 2021 | 04:13 WIB

Menjaga Kohesi Pascapandemi

Jumat, 10 September 2021 | 09:48 WIB

Ketenangan Atasi Long Covid-19

Jumat, 10 September 2021 | 00:20 WIB

Segerakan Reformasi Pengelolaan Lapas

Jumat, 10 September 2021 | 00:10 WIB

Meniru Semangat Pembuatan UU Cipta Kerja

Jumat, 10 September 2021 | 00:00 WIB
X