Komunikasi Humanis untuk PPKM Darurat

Red
- Rabu, 21 Juli 2021 | 05:17 WIB
Tajuk Rencana
Tajuk Rencana

Banyak catatan atas Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sejak 3 Juli 2021. Tingkat kepatuhan masyarakat masih rendah. Data terakhir dari Satgas Covid-19 Jateng menunjukkan penurunan mobilitas hanya sekitar 10 persen pada sebagian besar wilayah di Jawa Tengah, khususnya di kota-kota besar seperti Kota Semarang, Kota Tegal, Surakarta, dan kota-kota lain.

Seruan Wakil Menteri Agama yang mengajak para tokoh agama berperan serta menyosialisasikan PPKM Darurat dengan bahasa agama secara tersirat juga menggarisbawahi persoalan krusial dalam pelaksanaan kebijakan tersebut, yakni pemahaman, persepsi, dan kemudian tindakan warga atas kebijakan tersebut. Menggunakan bahasa agama hanya salah satu dari banyak opsi yang perlu ditempuh.

Dalam wilayah komunikasi dan kebahasaan itu, sesungguhnya terangkum lebih luas dengan strategi komunikasi humanis.

Komunikasi yang berorientasi pada penerima pesan sebagai subjek, bukan objek, mungkin tidak banyak atau belum dilakukan secara sepenuh hati.

Warga sebagai penerima pesan hanya menjadi objek dari pelaksanaan kebijakan, bukan menjadikan mereka sebagai subjek PPKM Darurat.

Dalam pemosisian penyampai pesan sebagai objek, kemasan dalam ragam bahasa apa pun akan sangat kecil tingkat keberhasilan dan penerimaan pesan.

PPKM Darurat sangat berdampak pada ekonomi rakyat. Mereka yang menggantungkan penghasilan pada pekerjaan harian jelas sangat terpukul dengan kebijakan PPKM.

Bantuan sosial yang diberikan pemerintah belum mampu menjamin kebutuhan warga. Kebutuhan warga tidak hanya pangan, tetapi juga berbagai rupa, mungkin kebutuhan sewa rumah, membayar listrik, air minum, pendidikan anak-anak, dan sebagainya yang tidak bisa ditunda dan tidak bisa digantikan dengan sembako.

Bantuan sembako pasti meringankan beban belanja, tetapi tidak serta merta meningkatkan kemampuan untuk pemenuhan kebutuhan lain yang membutuhkan biaya tunai.

Dalam situasi kemelut seperti itu, peran komunikasi humanis lebih diperlukan dibandingkan pesanpesan yang bermuatan dogmatis dibingkai bahasa agamawi.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Aspek Hukum Arisan Online

Jumat, 24 September 2021 | 00:30 WIB

Mengganti Beban Pembiayaan BLBI

Jumat, 24 September 2021 | 00:10 WIB

Antusiasme Menyambut Kompetisi Liga 3

Jumat, 24 September 2021 | 00:00 WIB

Memindai Cermin Kota Kudus

Kamis, 23 September 2021 | 11:36 WIB

Indonesia Diuji dalam Ketegangan AUKUS

Kamis, 23 September 2021 | 01:28 WIB

Mewujudkan Sekolah Tatap Muka Aman

Kamis, 23 September 2021 | 01:25 WIB

Keterampilan dan Kompetensi Abad 21

Kamis, 23 September 2021 | 01:16 WIB

Maksimalkan Efektivitas Blended Learning

Rabu, 22 September 2021 | 01:11 WIB

Gernas BBI Jangan Hanya Seremonial

Rabu, 22 September 2021 | 01:08 WIB

Mahasiswa Merdeka

Rabu, 22 September 2021 | 01:03 WIB

Penguatan Imunitas Usaha Koperasi

Selasa, 21 September 2021 | 00:32 WIB

Jangan Lengah dalam Mitigasi Covid-19

Selasa, 21 September 2021 | 00:27 WIB

Wakaf untuk Sektor Informal

Selasa, 21 September 2021 | 00:22 WIB

Menjaga Keamanan ”PeduliLindungi”

Senin, 20 September 2021 | 00:20 WIB

Keamanan Nelayan di Laut China Selatan

Senin, 20 September 2021 | 00:10 WIB

Berharap kepada Inovasi Kepariwisataan

Senin, 20 September 2021 | 00:00 WIB

Menyusuri Masa Lalu Aneka Kota

Sabtu, 18 September 2021 | 00:59 WIB

Arah Jalan Berbahaya bagi KPK

Sabtu, 18 September 2021 | 00:49 WIB

Strategi UMKM saat Endemi

Sabtu, 18 September 2021 | 00:44 WIB
X