Menerawang Masa Depan Pendidikan Indonesia Pasca Pandemi

Red
- Jumat, 16 Juli 2021 | 13:33 WIB

PANDEMI Covid-19 selain menciptakan krisis perekonomian juga menjadi persoalan penting dalam dunia pendidikan.

Pasalnya, keadaan yang diciptakan oleh pandemi ini mengharuskan pemerintah memberlakukan peraturan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi para guru dan siswa, dan regulasi tersebut sudah dilaksanakan terhitung sejak mulai merebaknya Covid-19 di Indonesia pada Maret 2019 lalu.

Pendidikan Indonesia semakin nyata dihadapkan kepada jurang kemerosotan, berdasarkan survei Programme for International Student Assessment (PISA) selama 3 tahun terakhir, Indonesia selalu menempati peringkat 10 terbawah pada kategori kemampuan membaca, sains, dan matematika.

Pada 2018 lalu, Indonesia hanya mampu menempati peringkat 74 dari 79 Negara. Hal ini jelas sangat mengkhawatirkan, apalagi pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai membuat para guru dan siwa sangat kesulitan dalam menciptakan ruang pembelajaran yang nyaman dan interaktif.

Pasalnya program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dicanangkan pemerintah dinilai kurang efektif, yang justru membuat para siswa tidak fokus dalam belajar.

Bahkan kebijakan pemerintah dalam hal pendidikan sering berubah-ubah. Kurikulum yang menjadi basis acuan dalam sistem pendidikan seharusnya mampu mengawal pendidikan Indonesia agar lebih bermutu.

Namun sangat disayangkan, pergantian kebijakan dari para pemimpin yang cenderung tambal sulam menjadikan pendidikan Indonesia tidak terfokus dan majunya pendidikan Indonesia seakan hanya sebuah wacana belaka.

Hal tersebut tidak terlepas dari sistem pendidikan Indonesia yang masih bersifat diskriminatif dan elitis.

Bahkan di era Nadiem Makarim, sosok millenial yang sebelumnya dijagokan mampu merubah wajah pendidikan Indonesia agar lebih baik, nyatanya menghadapi pelbagai persoalan yang pelik.

Dari pendidikan tingkat dasar sampai perguruan tinggi mengalami sejumlah krisis yang sangat hebat. Kebijakan pendidikan masih timpang dan cenderung menciptakan disparitas antara yang miskin dan kaya (inequality in education).

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Aspek Hukum Arisan Online

Jumat, 24 September 2021 | 00:30 WIB

Mengganti Beban Pembiayaan BLBI

Jumat, 24 September 2021 | 00:10 WIB

Antusiasme Menyambut Kompetisi Liga 3

Jumat, 24 September 2021 | 00:00 WIB

Memindai Cermin Kota Kudus

Kamis, 23 September 2021 | 11:36 WIB

Indonesia Diuji dalam Ketegangan AUKUS

Kamis, 23 September 2021 | 01:28 WIB

Mewujudkan Sekolah Tatap Muka Aman

Kamis, 23 September 2021 | 01:25 WIB

Keterampilan dan Kompetensi Abad 21

Kamis, 23 September 2021 | 01:16 WIB

Maksimalkan Efektivitas Blended Learning

Rabu, 22 September 2021 | 01:11 WIB

Gernas BBI Jangan Hanya Seremonial

Rabu, 22 September 2021 | 01:08 WIB

Mahasiswa Merdeka

Rabu, 22 September 2021 | 01:03 WIB

Penguatan Imunitas Usaha Koperasi

Selasa, 21 September 2021 | 00:32 WIB

Jangan Lengah dalam Mitigasi Covid-19

Selasa, 21 September 2021 | 00:27 WIB

Wakaf untuk Sektor Informal

Selasa, 21 September 2021 | 00:22 WIB

Menjaga Keamanan ”PeduliLindungi”

Senin, 20 September 2021 | 00:20 WIB

Keamanan Nelayan di Laut China Selatan

Senin, 20 September 2021 | 00:10 WIB

Berharap kepada Inovasi Kepariwisataan

Senin, 20 September 2021 | 00:00 WIB

Menyusuri Masa Lalu Aneka Kota

Sabtu, 18 September 2021 | 00:59 WIB

Arah Jalan Berbahaya bagi KPK

Sabtu, 18 September 2021 | 00:49 WIB

Strategi UMKM saat Endemi

Sabtu, 18 September 2021 | 00:44 WIB
X