Pro-Kontra Penutupan Masjid

Red
- Sabtu, 10 Juli 2021 | 05:37 WIB
Prof Dr Tjipto Subadi MSi
Prof Dr Tjipto Subadi MSi

"Adapun yang kontra penutupan masjid mempertanyakan, mengapa masjid ditutup sedangkan pasar, proyek pembangunan infrastruktur dan transportasi dibiarkan meski dengan prokes ketat."

“Apabila kalian mendengar wabah Thaun melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri, sedangkan kalian di dalamnya, maka janganlah kalian lari keluar dari negeri itu.” (Hadist Riwayat Imam Bukhori dan Muslim)

MELONJAKNYA korban Covid-19 varian Delta yang sangat menular, memaksa pemerintah memberlakukan PPKM darurat mulai 3-20 Juli di Jawa dan Bali.

Varian Delta menginfeksi lebih cepat daripada varian Alpha. Kalau Alpha butuh waktu 10-20 menit untuk menginfeksi, Delta cuma 10-15 detik. Jadi kecepatannya 10 kali lipat daripada Alpha.

Kebijakan pemerintah memberlakukan darurat PPKM didukung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir. Pihaknya mendorong pemerintah pusat hingga daerah agar konsisten menerapkan kebijakan penanganan Covid-19, utamanya kebijakan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Meski demikian Pak Haidar mengingatkan agar para pejabat dan elite negeri, dari pusat sampai daerah, juga penting menyatukan sikap dan langkah, disertai keteladanan dalam menegakkan protokol kesehatan dan tidak memberi angin kepada warga yang membuat semuanya menjadi longgar dan lalai.

Dengan memberlakukan PPKM darurat, pemerintah siap mengerahkan seluruh sumber daya dan menyiapkan 53.000 personel TNI Polri untuk mengawalnya.

Namun yang jadi masalah adalah, PPKM darurat yang dikomandani Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan dan diumumkan Presiden Jokowi itu juga diikuti dengan penutupan rumah ibadah termasuk masjid, meski hanya sementara sampai 20 Juli 2021. Tentu saja ini menimbulkan reaksi keras dari umat Islam Indonesia yang mayoritas. Apalagi nanti shalat Idul Adha di lapangan atau masjid juga dilarang dengan dalih pandemi Covid-19 sedang merebak.

Tentu saja larangan shalat fardhu di masjid ini yg paling dirugikan adalah umat Islam. Sebab sebagai umat mayoritas, umat Islam melaksanakan kewajiban shalat lima waktu sehari semalam di masjid.

Tidak hanya untuk shalat, masjid juga berfungsi untuk kegiatan lainnya seperti berdoa, membaca Al- Qur’an, pengajian, belajar mengajar, pemeriksaan kesehatan termasuk vaksinasi Covid-19, pernikahan, kegiatan sosial kemasyarakatan bahkan halamannya bisa sebagai arena bermain anak anak. Jadi dalam sehari, masjid tidak pernah sepi dari kegiatan ibadah dan sosial kemasyarakatan umat Islam.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB

Metamorfosis Implementasi MBKM di Perguruan Tinggi

Senin, 8 November 2021 | 11:12 WIB

Kebijakan Publik Versus PCR dan Antigen

Minggu, 7 November 2021 | 23:23 WIB

Pangan dan Telur Ayam

Minggu, 7 November 2021 | 15:26 WIB

Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Senin, 25 Oktober 2021 | 23:45 WIB

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB

Aksi Kita adalah Masa Depan Kita

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 21:36 WIB

Masjid dan Peran Memakmurkan Umat

Selasa, 5 Oktober 2021 | 13:31 WIB

Aspek Hukum Arisan Online

Jumat, 24 September 2021 | 00:30 WIB
X