Kampus Bangkitkan Desa Wisata

Red
- Kamis, 8 Juli 2021 | 04:55 WIB
M Lukman Leksono
M Lukman Leksono

TIDAK terasa sudah dua tahun berlalu negara kita menghadapi pandemi virus Covid-19. Korban jiwa dan kerugian material di semua sektor pemerintahan hampir semuanya terdampak pandemi Covid-19.

Rasa bingung dan waswas akan terjadinya gelombang kedua tampak terlihat di wajah para pemimpin kita, tak terkecuali Presiden Joko Widodo dan Menteri Pariwisata Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno.

Ya, para pemimpin tersebut rupanya sedang gelisah, namun tetap berupaya keras mengembalikan kerugian di sektor pariwisata akibat dampak ini.

Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor penting di pemerintahan, karena menjadi salah satu sektor penyumbang devisa negara dan pengembangan perekonomian Indonesia tentunya.

Fakta berbicara sejak Sandiaga Uno resmi dilantik menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Desember 2020, ada banyak perubahan signifikan di sektor ini.

Ada tiga program yang ditawarkan beliau. Pertama mengenai strategi inovasi dengan pendekatan big data, untuk memetakan potensi dan menguatkan berbagai aspek pada sektor parekraf (pariwisata ekonomi kreatif).

Inovasi tentunya akan menjadi dasar bagi pengembangan destinasi superprioritas dalam satu tahun, bisa meliputi kuliner, busana, tarian, dan infrastruktur.

Kedua, adaptasi yang membiasakan dan mendisiplinkan penerapan protokol CHSE di setiap destinasi wisata sebagai bentuk atau adaptasi kebiasaan baru di masa pandemi Covid-19.

CHSE merupakan Cleanliness (kebersihan), Healthy (kesehatan), Safety (keamanan), dan Environment (ramah lingkungan). Kemudian yang ketiga, yaitu berkolaborasi dengan semua pihak maupun stakeholder untuk menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya. Sepertinya program-program ini menarik dan meyakinkan mata publik yang mungkin sudah kangen berpariwisata dan melepas penat, karena setiap hari mendengar kabar Covid-19 yang belum tuntas.

Peran Perguruan Tinggi

Dari ketiga progam tersebut, rupanya ada satu program yang memiliki magnet ketertarikan untuk mengembangkannya di bidang pendidikan perguruan tinggi, yaitu memetakan strategi inovasi dengan pendekatan big data dan teknologi.

Big data saat ini sudah tidak asing lagi di telinga pengembang perangkat lunak dengan skala proyek yang luas.

Penggunaan basis data sangat diperlukan untuk dapat mengelola, menyimpan, memanajemen segala informasi yang berbentuk data secara terstruktur dan tersistem.

Banyak perusahaan besar di bidang pariwisata yang membutuhkan kapasitas data sangat besar untuk menyimpan data terkait perusahaan tersebut. Untuk proyek dengan skala kecil, pada umumnya cukup dengan menggunakan bantuan database yang bersifat open source seperti MySQL, PostGre, MariaDB, dan lain- lain.

Akan tetapi, untuk kebutuhan software yang menampung berbagai jenis data, maka dapat mengakibatkan proses penanganan data menjadi lambat dan kurang efektif.

Langkah terbaik untuk menangani masalah tersebut adalah dengan menggunakan big data.

Big data digunakan oleh industri perjalanan dan pariwisata untuk menganalisis dan mengumpulkan informasi tentang orang-orang untuk mendapatkan pemahaman yang jelas tentang apa yang ditawarkan dalam dunia pariwisata.

Hal ini mungkin cocok dengan kondisi kita sekarang yang masih beraktivitas lewat media online dan sebagian masyarakat juga mendapatkan semua informasi di dunia melalui internet.

Beberapa perguruan tinggi di Indonesia yang sedang mengembangkan big data dan teknologi sebenarnya punya potensi juga untuk mendukung perekonomian masyarakat di sektor pariwisata dengan salah satu kegiatan tridharmanya, yaitu pengabdian kepada masyarakat. Salah satunya adalah kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Melung, Kabupaten Banyumas, yang dilakukan perguruan tinggi di Jawa Tengah, yaitu Institut Teknologi Telkom Purwokerto.

Kegiatan pengabdian ini di antaranya memperkenalkan internet masuk desa untuk memasarkan produkproduk desa wisata yang ada di dalamnya. Kegiatan ini juga dibantu oleh kelompok Penggiat Kelompok Sadar Wisata) (Pokdarwis) Kabupaten Banyumas.

Penggiat Pokdarwis harus melek dan mampu memanfaatkan teknologi untuk mengelola destinasi wisata di desanya. Tidak hanya sebagai sarana promosi, tapi juga sarana pembayaran yang bersifat nontunai. Institut Teknologi Telkom Purwokerto (ITTP) berkerja sama dengan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas sudah memberikan pelatihan kepada pegiat Pokdarwis se- Kabupaten Banyumas, beberapa bulan yang lalu.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan sumber daya manusia penggiat wisata untuk mengembangkan aspek kelembagaan, penataan, dan pengelolaan destinasi wisata.

Pada era serbadigital seperti sekarang ini, sektor wisata sangat memungkinkan untuk menggunakan pembayaran ketika masuk zona wisata secara non-tunai.

Beberapa platform yang dapat digunakan, seperti di kami (ITTP) saat ini semua transaksi dilakukan menggunakan aplikasi Link Aja dan QRIS. Momentum dan kesempatan yang sangat baik buat semua elemen Pokdarwis jika menggunakan ragam aplikasi pembayaran non-tunai sebagai syarat masuk ke wisata.

Saat ini Kabupaten Banyumas sedang membangun sistem yang bersumber pada Dana Alokasi Khusus (DAK) Non-Fisik. Salah satunya adalah mendorong kelompok sadar wisata untuk menerapkan sistem pembayaran secara nontunai menggunakan QRIS. Namun, ada juga kendala dan permasalahan yang sering dihadapi oleh para penggiat Pokdarwis, yaitu terkendala jaringan internet dan miniminya pengetahuan mengenai transaksi non-tunai.

Selain itu, kampus juga akan selalu memberikan inovasi teknologi yang bermanfaat demi memajukan desa wisata yanga ada di wilayah Banyumas, khususnya di Desa Melung ini.

Semoga dengan adanya kolaborasi dengan perguruan tinggi, ke depan harapan kami bisa mendukung dan membantu program Menkraf untuk mewujudkan pariwisata yang kuat dan tangguh di masa pandemi Covid-19, serta bisa memulihkan perekonomian masyarakat.

Solusi Terbaik

Solusi pengelolaan wisata di masa pandemi, menurut ringkasan acara webinar yang berjudul ''Reset Restart Recover Tourism: Regional Tourism Collaborative Opportunities post-Covid-19 for Malaysia and Indonesia'', Jumat (19/6/2020). Acara ini diselenggarakan oleh Minister of Tourism, Arts, and Culture Malaysia, Nancy Shukri.

Beliau mengatakan bahwa pandemi membawa peluang untuk mengubah industri pariwisata. Krisis ini juga mengajarkan kepada kita adalah kemampuan untuk beradaptasi.

Covid-19 mempercepat evolusi industri dan digitalisasi seluruh layanan. Dengan ruang mobilitas masyarakat yang dibatasi, banyak masyarakat menggunakan media sosial untuk membaca berita seputar wabah, mengobrol dengan kerabat, dan produktif dalam pekerjaan.

Hal tersebut membuat teknologi digital berkembang dan dapat dimanfaatkan secara masif oleh pelaku industri pariwisata di Indonesia selama pandemi berlangsung.

Langkah awal untuk memasarkan wisata secara digital sudah menjadi salah satu jawabannya. Khususnya dalam pemasaran produk dan layanan pariwisata. Melihat hal tersebut, para pelaku industri pariwisata hendaknya dapat memanfaatkan teknologi digital semaksimal mungkin.

Misalnya, menggunakan media sosial. Hal ini merupakan sesuatu yang penting untuk memperkenalkan paket atau layanan baru kepada pasar yang lebih luas.

Dengan ini akan membuat industri pariwisata tetap segar dan relevan. Bagi para pelaku industri pariwisata, mempelajari hal-hal baru yang ditawarkan oleh teknologi digital sangatlah penting dalam mengelola perkembangan industri pariwisata. Adapun hal baru yang dimaksud adalah berlangsungnya webinar, aplikasi e-commerce, serta para operator pariwisata yang menawarkan produk dan layanan mereka yang bisa dipesan secara daring.

Pemasaran produk pariwisata secara digital lebih efektif dalam memberikan rasa percaya diri kepada pelanggan.

Ini juga akan lebih hemat biaya untuk jangka panjang. Hal ini adalah tren yang baru di era new normal.

Banyak bisnis pariwisata yang telah meningkatkan kehadiran mereka di dunia maya di tengah pandemi virus korona. Melalui berbagai macam penawaran yang disampaikan secara daring, mereka tetap relevan di mata masyarakat. Alhasil, banyak dari mereka yang telah menemukan cara baru guna membuat portofolio mereka semakin beragam guna memasarkan kegiatan pariwisata ke pasar yang lebih luas.

Kemudian, standar kebersihan dan kesehatan harus juga diperhatikan. Pemerintah dan Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) seharusnya dapat membuat standar kebersihan dan kesehatan di industri pariwisata semakin meningkat.

Menurutnya, pandemi mengajarkan masyarakat untuk semakin rajin mencuci tangan setiap hari. Tidak hanya itu, kebersihan dan kesehatan kini menjadi prioritas utama. Selain teknologi digital yang memiliki peran penting, untuk kebersihan, kesehatan, dan keamanan sudah menjadi prioritas. (27)

–– M Lukman Leksono, dosen Bahasa Indonesia Institut Teknologi Telkom Purwokerto dan Penggiat Literasi Banyumas

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB

Metamorfosis Implementasi MBKM di Perguruan Tinggi

Senin, 8 November 2021 | 11:12 WIB

Kebijakan Publik Versus PCR dan Antigen

Minggu, 7 November 2021 | 23:23 WIB

Pangan dan Telur Ayam

Minggu, 7 November 2021 | 15:26 WIB

Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Senin, 25 Oktober 2021 | 23:45 WIB

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB
X