Konsep Islam Cegah Stunting

Red
- Rabu, 7 Juli 2021 | 04:25 WIB
Ahmad Rofiq
Ahmad Rofiq

STUNTING atau disebut gagal tumbuh pada anak balita akibat kurang gizi kronis menimbulkan dampak ikutan yang lebih serius. Dari pertumbuhan jasmani yang kurang sehat, perkembangan kecerdasan intelektual yang tidak maksimal, tentu saja akan mengurangi semangat untuk belajar, implikasinya akan mengalami dan sekaligus menaikkan angka putus sekolah.

Naiknya angka putus sekolah akan mengubah atau setidaknya memengaruhi orientasi hidup anakanak stunting tersebut, untuk segera mendapat pekerjaan. Tentu saja dapat dipastikan bahwa mereka akan bekerja di sektor padat karya pekerjaannya berat dengan penghasilan kecil kecuali apabila mereka membuka usaha sendiri.

Stunting menjadi bagian dari persoalan kependudukan yang lebih kompleks, dan merupakan problema aktual yang terusmenerus meminta perhatian dan kesungguhan para petinggi dan pemangku kepentingan di negeri ini secara berkesinambungan.

Secara nasional, angka stunting masih berada di angka 27,6% pada 2019. Dan dampak pandemi Covid-19 ini angka naik menjadi 27,68 %.

Rencana awal, 2020 bisa turun menjadi 24,1%, 2021 jadi 21,1%, 2022: 18,4 %, 2023: 16,0%, dan 2024: 14,0 %. Di Jawa Tengah, angka stunting pada tahun 2019 masih cukup tinggi. Paling tinggi Kabupaten Wonosobo 38,57%, Demak 35,76 %, Kabupaten Pekalongan 34,74 %, Brebes 34,65%, dan Sragen 32,40%.

Islam menawarkan konsep mencegah dan mengatasi problema stunting ini, dengan merencanakan keluarga dan kependudukan melalui keluarga samawa dan penanganan keluarga melalui zakat secara berkelanjutan. Karena itu, dalam merencanakan keturunan, musti dilakukan dengan pernikahan yang direncanakan, dan dilaksanakan oleh pasangan yang sudah memiliki kecakapan dan kemampuan, agar keluarga yang dibangun mampu meraih kebahagiaan dan ketenangan (sakinah) berdasarkan cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah) (QS. Al-Rum (30): 21). Untuk dapat mewujudkan rumah tangga yang bahagia, maka diperlukan kesiapan dan kematangan, termasuk di dalamnya usia menikah, yang benar-benar siap, usia 19 tahun (UU No 16/2019).

Pernikahan Dini

Berdasarkan data DP3AP2KB Jawa Tengah tercatat ada 11.301 kasus pernikahan anak usia dini perempuan dan 1.671 bagi laki-laki (5/4/2021). Untuk dapat mencari solusi secara tepat, kiranya diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: pertama, data yang akurat bagaimana kondisi keluarga yang termasuk dalam kategori stunting?

Angka, 27,68% menurut laporan rutin seksi Kesga Gizi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah 2020 sebanyak 226.686 balita stunting.

Angka tertinggi Kabupaten Brebes 19.166, Banyumas 14.146, Banjarnegara 13.346, Kebumen 11.958, Tegal 11.655, dan Cilacap 11.037. Yang paling kecil angka stuntingnya adalah Kota Magelang 445, Kota Salatiga 620, dan Kota Surakarta 830.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Jebol Benteng Terakhir Peradilan, MA oh MA

Rabu, 28 September 2022 | 10:28 WIB

Tidak Ada Alasan, KITB Lamban

Minggu, 25 September 2022 | 12:07 WIB

Seriuskah Kawasan Industri Terpadu Batang?

Sabtu, 17 September 2022 | 08:43 WIB

Jokowi Ngamuk Lagi, Karena Ulah Imigrasi

Rabu, 14 September 2022 | 07:31 WIB

Menjaga Relasi, Memupuk Kolaborasi

Rabu, 14 September 2022 | 01:34 WIB

Kenaikan Harga BBM, Solusi atau Beban untuk Masyarakat?

Senin, 12 September 2022 | 08:48 WIB

Mungkinkah Kenaikan BBM Direvisi ?

Kamis, 8 September 2022 | 08:56 WIB

Jangan Ada Lagi Politik Identitas dan Politisasi Agama

Minggu, 21 Agustus 2022 | 21:32 WIB

RUU KIA dan Peran Negara untuk Perempuan

Sabtu, 20 Agustus 2022 | 10:05 WIB

Kiai NU dan Kretek

Rabu, 10 Agustus 2022 | 15:26 WIB

Mengapa BUMN Membentuk Holding?

Minggu, 17 Juli 2022 | 08:38 WIB

Pancasila dan Ancaman Pengasong Khilafah

Jumat, 8 Juli 2022 | 13:46 WIB

Pemuda Pancasila dan Rumah Kemartabatan

Kamis, 7 Juli 2022 | 23:18 WIB

Mencari Format Ideal Penjabat Kepala Daerah

Rabu, 6 Juli 2022 | 22:12 WIB

Keragaman Lebah, Pangan dan Manusia

Minggu, 22 Mei 2022 | 22:18 WIB

Buku dan Literasi Indonesia

Selasa, 17 Mei 2022 | 18:38 WIB
X