Menjadi Guru Blended Learning

Red
- Senin, 5 Juli 2021 | 00:20 WIB
SM/Dok
SM/Dok

Oleh Dyah Cahyani Hartanti

PEMBELAJARAN Jarak Jauh (PJJ) di perpanjang lagi. Kalimat tersebut tidak asing lagi bagi insan pendidikan di Indonesia. Setahun lebih, peserta didik terpaksa belajar daring. Hal ini tidak lepas dari kondisi pandemi di Indonesia.

Dalam pengamatan penulis, sebagain besar peserta didik menyampaikan jenuh dan bosan dengan keadaan ini. Tetapi mau bagaimana lagi, bersabar dan tetap mematuhi segala macam protokol kesehatan rasanya adalah pilihan yang paling tepat. Mengingat sampai sekarang, belum tampak tanda-tanda pandemi akan berakhir, bahkan pada bulan ini ledakan jumlah pasien Covid-19 terdengar di mana-mana.

Sebelum pemberlakuan PPKM Darurat, Presiden Jokowi melalui Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pernah menyampaikan bahwa pembelajaran tatap muka di sekolah yang direncanakan akan dijadwalkan mulai Juli 2021 hanya boleh dilakukan dengan maksimal dua hari dalam seminggu. Presiden juga mengarahkan setiap harinya, waktu belajar maksimal hanya selama dua jam. Kelas hanya diperbolehkan maksimal 25 persen dari jumlah peserta didik.

Sebelumnya Mendikbudristek Nadiem Makarim juga menyampaikan bahwa sekolah tatap muka akan di mulai Juli 2021. Pelaksanaannya akan direncanakan secara bertahap mulai dari PAUD, SD sampai perguruan tinggi.

Melihat dari apa yang disampaikan Presiden Jokowi dan (Mas) Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim, rasanya memang tidak akan dilakukan pembelajaran tatap muka secara penuh yang dapat diartikan bahwa pembelajaran nantinya sebagian besar masih tetap akan daring. Apalagi, selama PPKM Darurat (khusus Jawa dn Bali), pembelajaran wajib dilakanakan secara online.

Jadi, Bagaimana? Peserta didik siapkah apabila dilanjutkan pembelajaran daring lagi? Guru, sudah melakukan refleksi dirikah untuk menyongsong tahun pelajaran baru dengan sistem daring lagi?

Melihat fenomena yang ada, sepertinya guru harus mulai menata diri agar mampu menjadi guru profesional dan tidak menjadi guru yang sesuai animo masyarakat yang katanya tidak bekerja tapi terima gaji. Guru harus bisa menjadi guru yang inovatif agar para peserta didik mau dan siap untuk belajar walau dengan kondisi seperti ini.

Guru yang inovatif adalah guru yang mampu menjadi inspirasi bagi peserta didiknya untuk belajar dan guru yang mampu membuat peserta didiknya mau berpikir kritis, kreatif dan menyelesaikan masalah. Sehingga untuk menjadi guru yang inovatif, guru harus mampu menentukan model pembelajaran yang tepat untuk digunakan dalam pembelajaran masa sekarang.

Halaman:

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Satu Abad Nahdlatul Ulama

Selasa, 7 Februari 2023 | 13:34 WIB

Berharap pada Media Massa, Mungkinkah?

Senin, 30 Januari 2023 | 11:30 WIB

Medical Tourism, Indonesia Mengejar Ketertinggalan

Kamis, 19 Januari 2023 | 20:37 WIB

Kotak Suara Berbahan Dupleks untuk Pemilu 2024

Rabu, 18 Januari 2023 | 11:12 WIB

PR Penanganan Banjir

Senin, 9 Januari 2023 | 08:48 WIB

Program Pena Kemensos Dorong Perekonomian Masyarakat

Rabu, 28 Desember 2022 | 15:34 WIB

Latar Gelap Kampanye Politik dan Krisis Tahun 2023

Selasa, 27 Desember 2022 | 09:00 WIB

Fintech Syariah, Sang Primadona Transformasi Digital

Rabu, 23 November 2022 | 11:32 WIB

Ancaman Senyap Asap Rokok

Selasa, 22 November 2022 | 19:19 WIB

PMA 68 dan Dinamika Akademik di Kampus

Kamis, 17 November 2022 | 16:57 WIB

Kepemimpinan Berorientasi Pengetahuan

Rabu, 16 November 2022 | 11:12 WIB

Memperkuat Jaringan Koperasi Syariah

Selasa, 15 November 2022 | 11:32 WIB

Utang atau Cetak Uang Baru?

Senin, 14 November 2022 | 11:12 WIB

Kepemimpinan dalam Organisasi Pembelajar

Sabtu, 12 November 2022 | 11:12 WIB
X