Memacu Tulang Punggung Ekonomi Kreatif

Red
- Jumat, 25 Juni 2021 | 00:00 WIB
Logo SM (b01m)
Logo SM (b01m)

Tahun ini pemerintah telah mengeluarkan peraturan yang memastikan para musisi di Tanah Air memperoleh hak royalti atas komersialisasi oleh pihak-pihak lain terhadap karyanya. Kebijakan tersebut tentu merupakan angin segar untuk mengembangkan industri hiburan di Tanah Air. Sebagai salah satu bagian dari pelaku ekonomi kreatif, para musisi tidak hanya memiliki peran strategis bagi dunia musik. Pelajaran dari Korea Selatan menunjukkan luasnya pengaruh mereka.

Pengaruh yang luas itu bahkan memberi efek signifikan dalam perekonomian. Karyakarya mereka yang kemudian dipopulerkan oleh para penyanyi dan grup-grup musik bisa memunculkan efek budaya yang kemudian memengaruhi industriindustri lainnya. Demam Korean Pop atau K-pop misalnya telah memunculkan para penggemar loyal di berbagai penjuru dunia, dengan imbas pada pemanfaatan para bintangnya untuk kepentingan promosi dan pemasaran berbagai jenis produk.

Studi yang dilakukan Pusat Penelitian Insitut Kebudayaan dan Pariwisata Korea pada 2020 memaparkan, single Dynamite yang diluncurkan boyband BTS telah menghasilkan nilai ekonomi 1,7 triliun won atau Rp 21,1 triliun. Dari jumlah itu, penjualan dari Dynamite sendiri mencapai 245, 7 miliar won (Rp 305,4 miliar). Sedangkan ekspor dari produk- produk yang terkait dengan aspek-aspek personifikasi dari para personel BTS diperkirakan sebesar 371,7 miliar won (Rp 461,3 miliar).

Produk-produk ekspor itu meliputi kosmetik, makanan, dan pakaian. Bahkan efek BTS juga menghebohkan Indonesia barubaru ini, ketika sebuah restoran franchise makanan cepat saji meluncurkan menu yang terkait dengan grup tersebut. Multiplier effect dari keberhasilan industri hiburan ternyata luar biasa, karena terkait dengan pasar domestik maupun global. Manfaat ekonomi yang ditimbulkan akan dirasakan sektor industri, perdagangan, dan jasa di berbagai negara.

Kebijakan pemerintah untuk menggairahkan para pencipta lagu merupakan langkah strategis melihat efek berantai yang ditimbulkan industri hiburan. Terlebih industri hiburan sebenarnya adalah tulang punggung ekonomi kreatif. Karena itu, langkah- langkah lainnya dibutuhkan supaya muncul sinergi dengan tujuan jangka panjang yang jelas dan terukur. Sinergi yang diharapkan berupa kemampuan industri hiburan untuk menggerakkan subsektor-subsektor lain dalam ekonomi kreatif.

Mau tak mau Korea Selatan perlu menjadi rujukan karena telah merasakan manfaat dari sinergi yang muncul. Hal itu nampak dari keberhasilan mengekspor cultural goods. Penjualan global dari produk-produk ekonomi kreatif mereka untuk tahun 2019 mencapai 10,39 miliar dolar AS, meningkat sekitar lima persen dibanding lima tahun sebelumnya. Produk-produk itu antara lain game komputer, musik, sajian-sajian penyiaran, animasi, dan karakter yang termasuk intellectual property.

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Demokrasi Pengelolaan Laut

Rabu, 26 Januari 2022 | 13:30 WIB

Menengok Potensi Peran Milenial Kabupaten Brebes

Selasa, 18 Januari 2022 | 10:12 WIB

Quo Vadis Kejaksaan RI?

Senin, 10 Januari 2022 | 09:12 WIB

Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia Pascapandemi

Sabtu, 8 Januari 2022 | 08:12 WIB

Digitalisasi Ibuisme

Kamis, 6 Januari 2022 | 12:30 WIB

Negeri-negeri Ambon Manise untuk Indonesia

Senin, 27 Desember 2021 | 08:45 WIB

Beri mereka waktu

Rabu, 22 Desember 2021 | 10:12 WIB

Peran Ibu dalam Penguatan Literasi Digital

Rabu, 22 Desember 2021 | 09:12 WIB

NEWA, Peluang Baru Bisnis Perhotelan

Selasa, 14 Desember 2021 | 11:30 WIB

Di Balik Kebakaran Pasar Weleri

Minggu, 12 Desember 2021 | 17:42 WIB

Di Balik Meroketnya Harga Minyak Goreng

Kamis, 9 Desember 2021 | 07:45 WIB

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB
X