Ancaman Bahaya Varian Delta

Red
- Kamis, 24 Juni 2021 | 01:17 WIB
Tajuk Rencana
Tajuk Rencana

Pertama kali muncul sebagai perhatian publik di tengah pandemi di India, kini varian Delta Covid-19 sudah menyebar di Indonesia.

Lebih memprihatinkan lagi, pemerintah baru saja merilis data bahwa Jawa Tengah berada pada peringkat pertama di Indonesia untuk persebaran varian Delta. Berdasarkan hasil tes, persebaran varian Delta di Jawa Tengah bahkan lebih tinggi dibandingkan DKI.

Data itu terasa mengejutkan. Namun, keterkejutan itu tidak boleh berlama-lama. Pemerintah dan seluruh pihak harus bergerak dan berkoordinasi lebih cepat menghadapi ancaman varian Delta. Para ahli virus dan epidemiolog menyatakan, virus varian Delta menyebar lebih cepat dibandingkan Covid-19 asalnya.

Ledakan Covid-19 akibat varian Delta sudah melumpuhkan India. Beberapa ciri varian Delta antara lain, menimbulkan gejala diare dan demam yang lebih parah dan lebih cepat.

Seseorang yang terpapar varian Delta dapat mengalami serangan akut dalam waktu dua hari dan berakibat terlambat mendapatkan pertolongan.

Dikabarkan pula, proses penyembuhan dari virus varian Delta bisa berlangsung dua bulan. Ledakan di Cilacap dan Kudus diduga karena varian Delta. Dengan karakteristik seperti itu, sebaran varian Delta di Jawa Tengah memunculkan status bahaya.

Lonjakan kasus Covid-19 mengakibatkan rumah sakit-rumah sakit di Jawa Tengah tidak mampu melayani pasien Covid. Pemerintah kabupaten/ kota sudah berupaya memanfaatkan gedung-gedung publik untuk menambah tempat tidur bagi perawatan pasien Covid.

Respons cepat itu patut diapresiasi. Perlu diingat pula, penambahan ruangan dan tempat tidur untuk pasien Covid-19 berapa pun tidak akan mampu menampung apabila jumlah pasien terus meningkat. Karena itu, pencegahan dan pembatasan penyebaran Covid-19 saat ini adalah pilihan yang paling urgen.

Tanpa tindakan paling maksimal untuk pembatasan penularan, peningkatan kasus Covid-19 akan sulit diperlambat atau dihentikan. Kesadaran masyarakat mutlak perlu. Peningkatan kesadaran membutuhkan pula kebijakan yang jelas dan tegas dari pemerintah.

Kalau diperlukan lockdown, pemerintah tidak perlu ragu-ragu karena semua itu sudah diatur dalam undangundang. Lonjakan Covid-19, apabila tidak terkendali, justru berisiko menimbulkan kekacauan yang lebih luas. Kesehatan dulu, baru ekonomi.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB

Aksi Kita adalah Masa Depan Kita

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 21:36 WIB

Masjid dan Peran Memakmurkan Umat

Selasa, 5 Oktober 2021 | 13:31 WIB

Aspek Hukum Arisan Online

Jumat, 24 September 2021 | 00:30 WIB

Mengganti Beban Pembiayaan BLBI

Jumat, 24 September 2021 | 00:10 WIB

Antusiasme Menyambut Kompetisi Liga 3

Jumat, 24 September 2021 | 00:00 WIB

Memindai Cermin Kota Kudus

Kamis, 23 September 2021 | 11:36 WIB

Indonesia Diuji dalam Ketegangan AUKUS

Kamis, 23 September 2021 | 01:28 WIB

Mewujudkan Sekolah Tatap Muka Aman

Kamis, 23 September 2021 | 01:25 WIB

Keterampilan dan Kompetensi Abad 21

Kamis, 23 September 2021 | 01:16 WIB

Maksimalkan Efektivitas Blended Learning

Rabu, 22 September 2021 | 01:11 WIB

Gernas BBI Jangan Hanya Seremonial

Rabu, 22 September 2021 | 01:08 WIB

Mahasiswa Merdeka

Rabu, 22 September 2021 | 01:03 WIB

Penguatan Imunitas Usaha Koperasi

Selasa, 21 September 2021 | 00:32 WIB

Jangan Lengah dalam Mitigasi Covid-19

Selasa, 21 September 2021 | 00:27 WIB

Wakaf untuk Sektor Informal

Selasa, 21 September 2021 | 00:22 WIB

Menjaga Keamanan ”PeduliLindungi”

Senin, 20 September 2021 | 00:20 WIB
X