Negosiasi dan Efisiensi untuk Selamatkan Garuda

Red
- Sabtu, 19 Juni 2021 | 05:32 WIB
Tajuk Rencana
Tajuk Rencana

Pembatasan mobilitas masyarakat yang menjadi bagian dari mitigasi Covid-19 telah memukul perusahaan-perusahaan di sektor transportasi.

Arus penumpang yang sangat berkurang intensitas dan frekuensinya tentu mengurangi pendapatan. Utang yang merupakan hal biasa dalam bisnis umumnya menyandarkan pembayaran pada pendapatan reguler. Bila kegiatan operasional banyak ditopang utang, maka penurunan pendapatan akan sangat memukul kondisi keuangan perusahaan.

Hal itulah yang saat ini dirasakan oleh Garuda Indonesia, perusahaan yang diposisikan sebagai national flag carrier.

Ada misi untuk membawa nama bangsa dalam dinamika bisnisnya. Hal yang wajar, terlebih Garuda Indonesia adalah sebuah BUMN. Namun, lalu-lintas penumpang antarbangsa yang harus dibatasi untuk mencegah penyebaran Covid-19 merontokkan pendapatan dari rute internasional. Pendapatan dari jalurjalur penerbangan di dalam negeri juga terpukul luar biasa.

Pendapatannya dikabarkan anjlok sampai sekitar 90 persen. Padahal perusahaan dituntut untuk rutin mengangsur pinjaman. Utang Garuda diperkirakan sekitar Rp 70 triliun, yang berpotensi bertambah Rp 1 triliun tiap bulan tergantung skema pembiayaan dalam pengadaan pesawat. Di tengah pandemi yang belum diketahui kapan akan berakhir, negosiasi ulang dalam pembayaran pembelian dan sewa beli pesawat dibutuhkan.

Sebelum renegosiasi langkah internal dibutuhkan. Persoalan-persoalan yang terkait dengan pengadaan pesawat pada masa lalu perlu menjadi hal yang dibicarakan dalam renegosiasi.

Bila terdapat masalah hukum yang menyertai, maka nilai pengadaan dan pembayarannya pun seharusnya ditelaah kembali. Negosiator-negosiator tangguh dibutuhkan untuk berunding dengan berbagai pihak, antara lain perusahaan- perusahaan yang bergerak dalam leasing pesawat.

Lewat negosiasi diharapkan perusahaan bisa menata kembali arus kasnya. Sembari menunggu hasil perundingan, efisiensi mutlak dilakukan.

Rute-rute yang tidak menguntung kan perlu ditutup, dan berbagai pengeluaran harus dihemat.

Sedangkan lini bisnis yang berpotensi untuk meningkat di masa depan perlu ditangani lebih intensif. Seiring dengan kesemarakan perdagangan online, jasa kargo diperkirakan menjadi bisnis yang masih menarik saat ini dan bakal prospektif di masa depan.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Aspek Hukum Arisan Online

Jumat, 24 September 2021 | 00:30 WIB

Mengganti Beban Pembiayaan BLBI

Jumat, 24 September 2021 | 00:10 WIB

Antusiasme Menyambut Kompetisi Liga 3

Jumat, 24 September 2021 | 00:00 WIB

Memindai Cermin Kota Kudus

Kamis, 23 September 2021 | 11:36 WIB

Indonesia Diuji dalam Ketegangan AUKUS

Kamis, 23 September 2021 | 01:28 WIB

Mewujudkan Sekolah Tatap Muka Aman

Kamis, 23 September 2021 | 01:25 WIB

Keterampilan dan Kompetensi Abad 21

Kamis, 23 September 2021 | 01:16 WIB

Maksimalkan Efektivitas Blended Learning

Rabu, 22 September 2021 | 01:11 WIB

Gernas BBI Jangan Hanya Seremonial

Rabu, 22 September 2021 | 01:08 WIB

Mahasiswa Merdeka

Rabu, 22 September 2021 | 01:03 WIB

Penguatan Imunitas Usaha Koperasi

Selasa, 21 September 2021 | 00:32 WIB

Jangan Lengah dalam Mitigasi Covid-19

Selasa, 21 September 2021 | 00:27 WIB

Wakaf untuk Sektor Informal

Selasa, 21 September 2021 | 00:22 WIB

Menjaga Keamanan ”PeduliLindungi”

Senin, 20 September 2021 | 00:20 WIB

Keamanan Nelayan di Laut China Selatan

Senin, 20 September 2021 | 00:10 WIB

Berharap kepada Inovasi Kepariwisataan

Senin, 20 September 2021 | 00:00 WIB

Menyusuri Masa Lalu Aneka Kota

Sabtu, 18 September 2021 | 00:59 WIB

Arah Jalan Berbahaya bagi KPK

Sabtu, 18 September 2021 | 00:49 WIB

Strategi UMKM saat Endemi

Sabtu, 18 September 2021 | 00:44 WIB
X