Selamatkan Penyu dengan Ilmu Titen

- Jumat, 18 Juni 2021 | 01:00 WIB
SM/Supriyanto - SELESAI BERTELUR :Anggota Kelompok Pelestari Alam (KPA) Jogosimo, Kecamatan Klirong, Kebumen mendapati seekor penyu yang selesai bertelur di Pantai Kalibuntu. (55)
SM/Supriyanto - SELESAI BERTELUR :Anggota Kelompok Pelestari Alam (KPA) Jogosimo, Kecamatan Klirong, Kebumen mendapati seekor penyu yang selesai bertelur di Pantai Kalibuntu. (55)

Kelompok Pelestari Alam Jogosimo di Kebumen

Juni hingga September merupakan musim bertelur bagi habitat penyu di pesisir selatan Kebumen. Sayangnya, seringkali telur-telur itu tidak pernah sampai menetas dan kembali ke habitat asalnya.

SAAT cuaca dingin, induk penyu mendarat ke pesisir menjauh dari bibir pantai dan menggali pasir membuat sarang untuk menyimpan telur-telurnya.

Setelah menimbunnya, sang induk penyu meninggalkan telur-telur itu dan kembali mengarungi Samudera Hindia. Yang memprihatinkan, telurtelur tersebut kerap tak sampai menetas.

Selain karena faktor alam dan dimakan oleh predator, telurtelur itu seringkali lebih dulu ditemukan oleh manusia pemburu. Telur-telur penyu itu biasanya dijual untuk dikonsumsi karena dipercaya dapat meningkatkan vitalitas maupun beragam khasiat lainnya.

Makin maraknya perburuan telur penyu di pesisir selatan beberapa tahun silam membuat para pemuda Desa Jogosimo, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen gusar. Menurut Ahmad Munajat (40) warga Desa Jogosimo, pada dekade 1980-an dia sering melihat kemunculan penyu di sekitar Pantai Kalibuntu, muara Sungai Lukulo.

Namun seiring berjalannya waktu, pada 1990 hingga 2000 semakin jarang ditemui penyu terutama jenis Lekang (Lepidochelys olivacea). "Sewaktu saya kecil, masih dapat melihat penyu-penyu di pantai. Namun, sejak dua dekade lalu, penyu-penyu itu mulai menghilang," katanya.

Munajat khawatir perburuan telur penyu pada saat musim bertelur akan berdampak makin berkurangnya populasi penyu. Maka mulai 2018, Munajat pun pelan-pelan mengajak para pemuda di desanya untuk mengambil peran untuk menyelamatkan penyu dari perburuan. Dia lantas menyampaikan kepada warga agar yang menemukan telur untuk diberikan kepada dirinya.

Meskipun orang tidak menjual, dia pun memberikan ganti dengan merogoh kocek sendiri. Pada musim bertelur dia bisa sampai mengeluarkan Rp 1 juta sebagai apresiasi kepada warga. Telur-telur itu kemudian ditempatkan di lokasi khusus semacam penangkaran sampai telur penyu menetas menjadi tukik yang siap dilepasliarkan.

Halaman:

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB

Aksi Kita adalah Masa Depan Kita

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 21:36 WIB

Masjid dan Peran Memakmurkan Umat

Selasa, 5 Oktober 2021 | 13:31 WIB

Aspek Hukum Arisan Online

Jumat, 24 September 2021 | 00:30 WIB

Mengganti Beban Pembiayaan BLBI

Jumat, 24 September 2021 | 00:10 WIB

Antusiasme Menyambut Kompetisi Liga 3

Jumat, 24 September 2021 | 00:00 WIB

Memindai Cermin Kota Kudus

Kamis, 23 September 2021 | 11:36 WIB

Indonesia Diuji dalam Ketegangan AUKUS

Kamis, 23 September 2021 | 01:28 WIB

Mewujudkan Sekolah Tatap Muka Aman

Kamis, 23 September 2021 | 01:25 WIB

Keterampilan dan Kompetensi Abad 21

Kamis, 23 September 2021 | 01:16 WIB

Maksimalkan Efektivitas Blended Learning

Rabu, 22 September 2021 | 01:11 WIB

Gernas BBI Jangan Hanya Seremonial

Rabu, 22 September 2021 | 01:08 WIB

Mahasiswa Merdeka

Rabu, 22 September 2021 | 01:03 WIB

Penguatan Imunitas Usaha Koperasi

Selasa, 21 September 2021 | 00:32 WIB

Jangan Lengah dalam Mitigasi Covid-19

Selasa, 21 September 2021 | 00:27 WIB

Wakaf untuk Sektor Informal

Selasa, 21 September 2021 | 00:22 WIB

Menjaga Keamanan ”PeduliLindungi”

Senin, 20 September 2021 | 00:20 WIB
X