Pancasila dan Ancaman Pengasong Khilafah

- Jumat, 8 Juli 2022 | 13:46 WIB
Prof Dr Syamsul Maarif, Guru Besar UIN Walisongo dan Ketua FKPT Jateng. (suaramerdeka.com/dok)
Prof Dr Syamsul Maarif, Guru Besar UIN Walisongo dan Ketua FKPT Jateng. (suaramerdeka.com/dok)

MENARIK mencermati upacara peringatan hari lahir Pancasila tahun 2022, yang dilakukan secara virtual dan dipimpin langsung oleh Presiden RI Joko Widodo di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Rabu (01/06).

Upacara diikuti oleh seluruh kementerian, Lembaga, dan pemerintah daerah. Salah satu amanat penting yang disampaikan presiden bahwa;

Pancasila telah mempersatukan kita dan sebagai bintang penuntun ketika Indonesia menghadapi tantangan dan ujian."

Presiden mengajak seluruh anak bangsa untuk bersama-sama membumikan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pesan tersebut sangat tepat, apalagi Pancasila masih menghadapi sejumlah tantangan serius; seperti pudarnya rasa persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa dan munculnya sejumlah kelompok intoleran dan radikal (takfiri jihadis) yang senantiasa merongrong dan ingin mengganti Pancasila.

Bahkan hampir bersamaan dengan Ultah Pancasila, publik dihebohkan dengan konvoi rombongan yang membawa tulisan kebangkitan khilafah di Cawang, Jakarta Timur (Minggu, 29/5/2022) dan sebelumnya terjadi juga di Brebes.

Kelompok Khilafatul Muslimin ini, memiliki kedekatan dengan NII dan MMI atau HTI yang sudah ditetapkan pemerintah sebagai organisasi terlarang.

Mereka memiliki orientasi yang sama berusaha mendirikan Khilafah di Indonesia.

Pertanyaan yang sering muncul kenapa masih muncul kelompok-kelompok radikal dan pengasong khilafah di Indonesia.

Bukankah Pancasila sebagai falsafah dan dasar negara sudah final? Yang menyesakkan dada adalah sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dan dikatakan sebagai negara Muslim terpadat di dunia seringkali harus menjadi pihak yang 'dirugikan' dalam berbagai aksi radikalisme dan ektremisme.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tidak Ada Alasan, KITB Lamban

Minggu, 25 September 2022 | 12:07 WIB

Seriuskah Kawasan Industri Terpadu Batang?

Sabtu, 17 September 2022 | 08:43 WIB

Jokowi Ngamuk Lagi, Karena Ulah Imigrasi

Rabu, 14 September 2022 | 07:31 WIB

Menjaga Relasi, Memupuk Kolaborasi

Rabu, 14 September 2022 | 01:34 WIB

Kenaikan Harga BBM, Solusi atau Beban untuk Masyarakat?

Senin, 12 September 2022 | 08:48 WIB

Mungkinkah Kenaikan BBM Direvisi ?

Kamis, 8 September 2022 | 08:56 WIB

Jangan Ada Lagi Politik Identitas dan Politisasi Agama

Minggu, 21 Agustus 2022 | 21:32 WIB

RUU KIA dan Peran Negara untuk Perempuan

Sabtu, 20 Agustus 2022 | 10:05 WIB

Kiai NU dan Kretek

Rabu, 10 Agustus 2022 | 15:26 WIB

Mengapa BUMN Membentuk Holding?

Minggu, 17 Juli 2022 | 08:38 WIB

Pancasila dan Ancaman Pengasong Khilafah

Jumat, 8 Juli 2022 | 13:46 WIB

Pemuda Pancasila dan Rumah Kemartabatan

Kamis, 7 Juli 2022 | 23:18 WIB

Mencari Format Ideal Penjabat Kepala Daerah

Rabu, 6 Juli 2022 | 22:12 WIB

Keragaman Lebah, Pangan dan Manusia

Minggu, 22 Mei 2022 | 22:18 WIB

Buku dan Literasi Indonesia

Selasa, 17 Mei 2022 | 18:38 WIB

Semarang Menuju Kota Megapolitan

Selasa, 10 Mei 2022 | 15:51 WIB
X