Bennett dan Masa Depan Israel

Red
- Kamis, 17 Juni 2021 | 01:17 WIB
Prof Dr Tjipto Subadi MSi
Prof Dr Tjipto Subadi MSi

"Palestina semakin skeptis, mengingat rekam jejak Bennett selama ini. Bagi mereka, Kabinet Bennett-Lapid justru akan lebih buruk dibanding Natanyahu dalam solusi persoalan Palestina. Ibaratnya, rakyat Palestina telah berhasil keluar dari mulut buaya, tetapi kembali masuk mulut singa."

SUDAH jatuh tertimpa beton. Kiranya itulah sindiran yang pantas dikenakan kepada Benjamin Netanyahu, mantan Perdana Menteri Israel (2009-2021), terlama dalam sejarah Negara Zionis itu.

Sudah dipermalukan perlawanan Palestina dalam perang selama 11 hari bulan lalu, sekarang harus jatuh dari kekuasaannya. Pasalnya, Ahad (13/6) lalu, Knesset secara resmi mengukuhkan Bennett sebagai PM Israel yang baru menggantikan Netanyahu yang juga Ketua Partai Likud.

Dari 120 anggota Knesset, Bennett didukung 60 anggota, 59 menentangnya, dan 1 orang dari Partai Daftar Arab Bersatu yang pro-Palestina, Said Al Harumi, abstain.

Bennet (49) yang semula sekutu Netanyahu dan Menhan (2019) adalah pemimpin aliansi sayap kanan sekaligus Ketua Partai Yamina dan salah satu tokoh kunci dalam Koalisi Perubahan, yang menaungi delapan kekuatan politik anti-Netanyahu di Israel.

Bennett berhasil menggeser Netanyahu karena didukung sekutunya, Yair Lapid, pemimpin partai Yesh Atid yang akan menjadi PM Israel berikutnya dalam perjanjian rotasi kekuasaan sebagai Menlu dengan Bennett sampai 27 Agustus 2023. Ketika berbicara di Knesset menjelang pemungutan suara yang akan mengubah sejarah Israel itu, Netanyahu yang selama ini dikenal sebagai "Mister Iran" itu telah memperingatkan akan kelemahan pemerintahan Bennett kelak dalam menghadapi musuh bebuyutannya, Iran.

Menurut Netanyahu, di bawah Bennett, kelak Israel akan mendapatkan "pemerintahan yang lemah" di bawah Kabinet Koalisi Perubahan. Bagi Netanyahu, Bennett "tidak memiliki kedudukan global" dan "kredibilitas" untuk melawan Iran.

Bennett akan menjadikan Teheran merayakan kemenangannya setelah pemungutan suara.

Terpilihnya Bennett diharapkan akan mengakhiri kebuntuan politik yang telah berlangsung lama di Israel. Sejak 2019, Israel telah menyaksikan empat pemilu ketika koalisi yang berkuasa yang yang dipimpin partai Likud Netanyahu terus berantakan.

Bahkan kebuntuan politik itu juga membuat Israel tidak fokus dan bersatu dalam perang menghadapi Palestina. Namun tidak berarti di bawah Kabinet Koalisi yang dipimpin PM Bennett dan didukung Presiden Biden, Perdamaian Israel Palestina sebagaimana yang digagas Trump dan Netanyahu akan semakin terwujud.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Kecepatan dan Penyaluran Anggaran Daerah

Jumat, 23 Juli 2021 | 05:44 WIB

Merajut Ekonomi Pancasila

Jumat, 23 Juli 2021 | 05:40 WIB

Mencegah Klaster di Proyek Infrastruktur

Kamis, 22 Juli 2021 | 03:17 WIB

Covid-19 dan Perikemanusiaan

Kamis, 22 Juli 2021 | 03:06 WIB

Komunikasi Humanis untuk PPKM Darurat

Rabu, 21 Juli 2021 | 05:17 WIB

Perspektif Ekonomi Ibadah Kurban

Rabu, 21 Juli 2021 | 05:12 WIB

Lucu-lucuan dalam Getir PPKM

Senin, 19 Juli 2021 | 13:37 WIB

Kurban: Manifestasi Syukur dan Kepedulian Sosial

Senin, 19 Juli 2021 | 08:12 WIB

PPKM Darurat Vs Harus 'Dipaksa'

Sabtu, 17 Juli 2021 | 21:58 WIB

MUI, Ulama, Pelita, dan Derita Umat

Sabtu, 17 Juli 2021 | 10:24 WIB

Perpanjangan PPKM Darurat

Sabtu, 17 Juli 2021 | 03:49 WIB

Membangkitkan Anak Gemar Menulis

Sabtu, 17 Juli 2021 | 03:38 WIB

Spirit Kurban untuk Berkorban

Jumat, 16 Juli 2021 | 00:20 WIB

Berharap Bukan Vaksin Pencitraan

Jumat, 16 Juli 2021 | 00:10 WIB

Keoptimisan dengan Solidaritas dan Menekan Ego

Jumat, 16 Juli 2021 | 00:00 WIB

Ketegasan terhadap Fokus Kesehatan

Kamis, 15 Juli 2021 | 06:04 WIB

Mengatasi Rasa Takut saat Pandemi

Kamis, 15 Juli 2021 | 05:53 WIB

Tepat, Penundaan Vaksin Gotong Royong

Rabu, 14 Juli 2021 | 04:00 WIB
X