Labur, Lebur, Luber (3L)

- Jumat, 29 April 2022 | 21:07 WIB
Waryono Abdul Ghafur, Wakil Rois Syuriah PWNU DIY. (suaramerdeka.com/dok)
Waryono Abdul Ghafur, Wakil Rois Syuriah PWNU DIY. (suaramerdeka.com/dok)

SETIAP masyarakat memiliki tradisi yang dipraktekkan secara turun-temurun atau dari generasi ke generasi.

Salah satu tradisi yang ada pada masyarakat Jawa misalnya adalah dibuatnya gapura pada jalan masuk ke kampung atau desa/kelurahan.

Tradisi membuat gapura ini hampir selalu dibawa oleh komunitas masyarakat Jawa yang mendiami wilayah luar Jawa, seperti Lampung, Palembang, dan sebagainya.

Gapura adalah penanda bagi desa atau kampung tersebut yang memiliki makna, antara lain sebagai batas kawasan, sehingga siapa pun yang masuk pada kawasan tersebut harus memperhatikan etika yang berlaku di masyarakat kawasan tersebut.

Dalam perkembangannya, di gapura tersebut ditulis antara lain angka tahun dan bulan serta tanggal kemerdekaan RI. Karena itu, gapura juga sebagai penanda komitmen kebangsaan warga yang tinggal di Kawasan tersebut.

Gapura merupakan ejaan masyarakat Jawa dari Bahasa Arab ghafuro, yang berarti Maha Pengampun.

Ia merupakan salah satu dari Asma’ul Husna yang disematkan kepada Allah dan kita sebagai Muslim dianjurkan untuk meneladani atau meniru sifat Allah tersebut (takhallaqu bi akhlaqillah).

Ini artinya, pola relasi warga yang dibangun adalah adanya kesadaran untuk saling mengingatkan agar tidak terus-menerus dalam kesalahan dan sekaligus saling membuka pintu maaf bila terlanjur berbuat salah.

Kesadaran inilah yang membuat hubungan antar warga berjalan cair dan relative tanpa sekat dan jarak. Sesama warga sangat saling mengenal.

Ketika ada masalah diantara mereka, musyawarah warga digunakan sebagai mekanisme penyelesaianya. Karena itu, konflik antara warga relative tidak ada atau cepat diselesaikan.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keragaman Lebah, Pangan dan Manusia

Minggu, 22 Mei 2022 | 22:18 WIB

Buku dan Literasi Indonesia

Selasa, 17 Mei 2022 | 18:38 WIB

Semarang Menuju Kota Megapolitan

Selasa, 10 Mei 2022 | 15:51 WIB

Punjungan

Minggu, 1 Mei 2022 | 14:30 WIB

Labur, Lebur, Luber (3L)

Jumat, 29 April 2022 | 21:07 WIB

Emansipasi Wanita: dari Wanita untuk Wanita

Kamis, 21 April 2022 | 13:00 WIB

Persiapan Jelang Mudik Covid-19

Selasa, 12 April 2022 | 20:06 WIB

Demokrasi Pengelolaan Laut

Rabu, 6 April 2022 | 11:00 WIB

Ber-NU dan Ber-PKB: Mencontoh Gus Yusuf Chudlori

Senin, 4 April 2022 | 08:48 WIB

Minyak Goreng, Sembako dan Politik Pangan

Rabu, 16 Maret 2022 | 11:12 WIB

Pentingnya Manifest Muatan Barang

Sabtu, 12 Maret 2022 | 06:40 WIB

Permenaker 2/2022: Manfaat atau Mudarat bagi Buruh?

Jumat, 18 Februari 2022 | 16:06 WIB

Jalan Tengah Penyelesaian Konflik Wadas

Rabu, 16 Februari 2022 | 10:43 WIB

Tali Jiwa dalam Tari Sintren

Selasa, 15 Februari 2022 | 23:38 WIB

Merintis Desa Mandiri Pangan

Senin, 14 Februari 2022 | 16:22 WIB
X