Kembalikan BUMN pada Konstitusi Ekonomi

Red
- Senin, 14 Juni 2021 | 00:10 WIB

Perbincangan tentang penyelamatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebenarnya bukan perkara baru. Sudah sejak bertahun-tahun lalu, dan terutama pada 2019, kondisi performa BUMN sudah disorot banyak pihak. Tidak kurang dari 10 BUMN terancam kolaps, bahkan secara teknis sudah bangkrut. Pandemi Covid-19 yang meruntuhkan sendi-sendi ekonomi makin memperparah situasi yang dihadapi BUMN.

Problem utama BUMN adalah utang. Pada 2018, BRI menanggung utang Rp 1.008 triliun, Bank Mandiri utang Rp 997 triliun, BNI utang Rp 660 triliun, PLN utang Rp 543 triliun, Pertamina utang Rp 522 triliun, BTN utang Rp 249 triliun, Taspen utang Rp 222 triliun, Waskita Karya utang Rp 102 triliun, Telekomunikasi Indonesia utang Rp 99 triliun, dan Pupuk Indonesia utang Rp 76 triliun.

Menyusul kemudian PT Jiwasraya (Persero). Dugaan korupsi oleh manajemen lama Jiwasraya hingga Agustus 2019 mencapai Rp 13,7 triliun dari pelanggaran tata kelola investasi produk saving plan Jiwasraya. Terkena dampak pandemi, maskapai penerbangan Garuda Indonesia kini juga di ujung tanduk. Kisah-kisah itu melengkapi banyak kisah sedih atas BUMN yang berjumlah 142 unit.

Presiden Joko Widodo pernah meminta menteri BUMN menuntaskan problem-problem akut BUMN. Tentu tugas itu bukan perkara mudah, namun juga tidak terhindarkan. Evaluasi secara menyeluruh dan mendalam terhadap BUMN mutlak diperlukan. Restrukturisasi yang sudah diterapkan terhadap beberapa BUMN bakal perlu dilanjutkan. Terlebih penting dari itu, evaluasi atas status perusahaan milik negara.

BUMN adalah perwujudan Pasal 33 UUD 1946. Ini tidak boleh dilupakan. Namun, beberapa BUMN tidak lagi berakar pada konstitusi. Kepemilikan saham beberapa BUMN tidak lagi 100% berada pada negara. Saham Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN, Garuda Indonesia, Perusahaan Gas Negara (PGN), Inalum, Aneka Tambang (Antam) dan lain-lain hanya 51 persen saja yang masih dikuasai negara.

Privatisasi terhadap BUMN waktu itu diharapkan dapat memperbaiki kinerja dan pengelolaan BUMN, terutama kerentanan korupsi. Jika ternyata privatisasi justru malah semakin membelit BUMN sebagai “sapi perah”, persoalan dasar ini harus diperbaiki terlebih dahulu. Mengembalikan BUMN kepada negara sebagai representasi publik dengan kontrol publik barangkali adalah jawaban.

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Kecepatan dan Penyaluran Anggaran Daerah

Jumat, 23 Juli 2021 | 05:44 WIB

Merajut Ekonomi Pancasila

Jumat, 23 Juli 2021 | 05:40 WIB

Mencegah Klaster di Proyek Infrastruktur

Kamis, 22 Juli 2021 | 03:17 WIB

Covid-19 dan Perikemanusiaan

Kamis, 22 Juli 2021 | 03:06 WIB

Komunikasi Humanis untuk PPKM Darurat

Rabu, 21 Juli 2021 | 05:17 WIB

Perspektif Ekonomi Ibadah Kurban

Rabu, 21 Juli 2021 | 05:12 WIB

Lucu-lucuan dalam Getir PPKM

Senin, 19 Juli 2021 | 13:37 WIB

Kurban: Manifestasi Syukur dan Kepedulian Sosial

Senin, 19 Juli 2021 | 08:12 WIB

PPKM Darurat Vs Harus 'Dipaksa'

Sabtu, 17 Juli 2021 | 21:58 WIB

MUI, Ulama, Pelita, dan Derita Umat

Sabtu, 17 Juli 2021 | 10:24 WIB

Perpanjangan PPKM Darurat

Sabtu, 17 Juli 2021 | 03:49 WIB

Membangkitkan Anak Gemar Menulis

Sabtu, 17 Juli 2021 | 03:38 WIB

Spirit Kurban untuk Berkorban

Jumat, 16 Juli 2021 | 00:20 WIB

Berharap Bukan Vaksin Pencitraan

Jumat, 16 Juli 2021 | 00:10 WIB

Keoptimisan dengan Solidaritas dan Menekan Ego

Jumat, 16 Juli 2021 | 00:00 WIB

Ketegasan terhadap Fokus Kesehatan

Kamis, 15 Juli 2021 | 06:04 WIB

Mengatasi Rasa Takut saat Pandemi

Kamis, 15 Juli 2021 | 05:53 WIB

Tepat, Penundaan Vaksin Gotong Royong

Rabu, 14 Juli 2021 | 04:00 WIB
X