Negeri-negeri Ambon Manise untuk Indonesia

- Senin, 27 Desember 2021 | 08:45 WIB
Andreas Pandiangan. (suaramerdeka.com / dok pribadi)
Andreas Pandiangan. (suaramerdeka.com / dok pribadi)

KEBHINEKAAN atau keragaman bangsa Indonesia tidak hanya berkaitan dengan unsur wilayah, suku, budaya, adat istiadat dan agama saja.

Melainkan juga menyentuh wajah dan pengalaman pengelola masyarakat dan komunitas berbasis adat istiadat juga. Salah satu wajah pengelolaan dimaksud didapati di Negeri-Negeri Kota Ambon.

Sebelum pengaruh serta kepentingan dari bangsa-bangsa Barat masuk ke wilayah Maluku, keberadaan dan penyelenggaraan pemerintahan kesultanan dan pemerintahan adat telah dikenal.

Umumnya, Negeri yang pemerintahan berbasis penyelenggaraan adat terdapat di pulau Ambon dan pulau-pulau sekitarnya. Pemerintahan berbasis penyelenggaraan adat terdiri sifatnya berdiri sendiri-sendiri dan tidak merupakan satu kesatuan. Mengapa?

Karena masing-masing Negeri yang ada saat ini memiliki sejarah dan perkembangan dalam mengatur dan mengelola kehidupan bersama mereka dengan bersendikan adat dan hukum adat yang telah disepakati.

Termasuk, memilih pemimpinnya, diatur dan dikelola, masing-masing berdiri sendiri. Oleh karena itu, Negeri dijuluki dorpsrepubliken (republik desa) dengan seorang pemimpin yang dipilih.

Tidak ada di antara Negeri itu yang saling membawahi. Dieter Bartels (2017) menyebut negeri sebagai kampung republik yang diperintah oleh Badan Saniri negeri yang umumnya disebut sebagai Saniri saja.

Meskipun di antara Negeri tidak merupakan satu kesatuan tetapi selalu ada relasi dekat dan ketat dengan aktualisasi adat.

Relasi yang menjadi adat dan tradisi di antara mereka tersebut dikenal sebagai pela dan atau gandong (C.M. Pattiruhu dkk, 1997).

Adat dan tradisi pela dan gandong merupakan warisan budaya dari masyarakat Maluku Tengah, khususnya masyarakat adat di Pulau Seram, Ambon dan Kepulauan Lease.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keragaman Lebah, Pangan dan Manusia

Minggu, 22 Mei 2022 | 22:18 WIB

Buku dan Literasi Indonesia

Selasa, 17 Mei 2022 | 18:38 WIB

Semarang Menuju Kota Megapolitan

Selasa, 10 Mei 2022 | 15:51 WIB

Punjungan

Minggu, 1 Mei 2022 | 14:30 WIB

Labur, Lebur, Luber (3L)

Jumat, 29 April 2022 | 21:07 WIB

Emansipasi Wanita: dari Wanita untuk Wanita

Kamis, 21 April 2022 | 13:00 WIB

Persiapan Jelang Mudik Covid-19

Selasa, 12 April 2022 | 20:06 WIB

Demokrasi Pengelolaan Laut

Rabu, 6 April 2022 | 11:00 WIB

Ber-NU dan Ber-PKB: Mencontoh Gus Yusuf Chudlori

Senin, 4 April 2022 | 08:48 WIB

Minyak Goreng, Sembako dan Politik Pangan

Rabu, 16 Maret 2022 | 11:12 WIB

Pentingnya Manifest Muatan Barang

Sabtu, 12 Maret 2022 | 06:40 WIB

Permenaker 2/2022: Manfaat atau Mudarat bagi Buruh?

Jumat, 18 Februari 2022 | 16:06 WIB

Jalan Tengah Penyelesaian Konflik Wadas

Rabu, 16 Februari 2022 | 10:43 WIB

Tali Jiwa dalam Tari Sintren

Selasa, 15 Februari 2022 | 23:38 WIB
X