Maraknya Pelecehan Seksual di Indonesia, Pendidikan Karakter Gagal?

- Kamis, 2 Desember 2021 | 11:12 WIB
Dr H Abdul Rohman M Ag. (suaramerdeka.com / dok)
Dr H Abdul Rohman M Ag. (suaramerdeka.com / dok)

Bagaimana pelaksanaan pendidikan selama ini? Praktik pendidikan di Indonesia selama ini lebih tertuju pada lembaga pendidikan formal (sekolah atau madrasah).

Pada umumnya orang tua menyerahkan secara penuh pendidikan anaknya ke lembaga sekolah.

Sedangkan pendidikan informal (keluarga) dan nonformal (masyarakat) sering terabaikan, padahal riset Syarkawi (2011) menjelaskan bahwa praktik pembelajaran di sekolah dan madrasah selama ini lebih didominasi oleh aspek kognitif, daripada aspek afektif dan psikomotorik Pembelajaran lebih menekankan pada pembentukan anak-anak yang cerdas (kognitif), dan trampil (pskomotorik) daripada pembentukan karakter dan pribadi yang memiliki akhlak dan integritas yang baik (afektif).

Demikian juga riset Prabowo & Sidi (2010) yang menunjukkan bahwa pembelajaran yang menjadi unsur penting dalam proses pendidikan belum memberikan kontribusi yang baik dalam pembentukan karakter siswa.

Hal ini dikarenakan pembelajaran lebih mengarah pada pembentukan siswa yang cerdas secara intelektualitas, tapi masih lemah pada aspek spiritualitas.

Thomas Lickona (1992) menyarankan bahwa pendidikan mestinya bisa mengarahkan anak didik menjadi pribadi yang baik (good) dan pintar (smart) secara simultan.

Pribadi yang baik (good) merupakan pondasi bagi terbentuknya pribadi yang pintar (smart).

Kedua hal ini harus bisa berjalan secara seimbang dan selaras.

Dalam terminologi Islam, ilmu dan amal harus dilakukan secara seimbang. Banyak sekali ayat-ayat Alquran maupun Hadits yang menegaskan akan hal ini.

Dalam konteks ini, sederetan kasus tentang pelecehan, kekerasan seksual, dan berbagai penyimpangan lain di Indonesia ini, ada kemungkinan disebabkan oleh praktik pendidikan dan pembelajaran yang dilaksanakan selama ini.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Fintech Syariah, Sang Primadona Transformasi Digital

Rabu, 23 November 2022 | 11:32 WIB

Ancaman Senyap Asap Rokok

Selasa, 22 November 2022 | 19:19 WIB

PMA 68 dan Dinamika Akademik di Kampus

Kamis, 17 November 2022 | 16:57 WIB

Kepemimpinan Berorientasi Pengetahuan

Rabu, 16 November 2022 | 11:12 WIB

Memperkuat Jaringan Koperasi Syariah

Selasa, 15 November 2022 | 11:32 WIB

Utang atau Cetak Uang Baru?

Senin, 14 November 2022 | 11:12 WIB

Kepemimpinan dalam Organisasi Pembelajar

Sabtu, 12 November 2022 | 11:12 WIB

Mewaspadai Budaya Gila Kerja

Jumat, 11 November 2022 | 11:15 WIB

Sustainability dalam Bisnis Perusahaan

Kamis, 10 November 2022 | 11:12 WIB

Pungli dalam Pengurusan Warisan

Minggu, 30 Oktober 2022 | 12:04 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Minggu, 23 Oktober 2022 | 21:00 WIB

Peci untuk Cakades

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 21:55 WIB

Mencari Pemimpin Profetik

Senin, 10 Oktober 2022 | 12:03 WIB

Tragedi Oktober di Kanjuruhan

Minggu, 2 Oktober 2022 | 10:02 WIB

Obstruction of Press Freedom

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 09:16 WIB

Mari Dukung Partisipasi Taiwan di ICAO

Jumat, 30 September 2022 | 21:47 WIB
X