Maraknya Pelecehan Seksual di Indonesia, Pendidikan Karakter Gagal?

- Kamis, 2 Desember 2021 | 11:12 WIB
Dr H Abdul Rohman M Ag. (suaramerdeka.com / dok)
Dr H Abdul Rohman M Ag. (suaramerdeka.com / dok)

Data dari Komnas Perempuan menyebutkan, dari tahun 2015 hingga 2020 setidaknya 27 persen pelecehan terjadi di tingkat Universitas, 19 persen di Pesantren, lalu 15 persen terjadi di sekolah khususnya SMA sederajat (www.siswaindonesia.com, 23 Juni 2021).

Bahkan kasus serupa juga terjadi di perguruan tinggi. Berita tentang seorang mahasiswi yang diduga mengalami pelecehan seksual oleh dosennya yang juga seorang Dekan Universitas Riau (UNRI) merupakan bukti akan hal itu.

Juga kasus yang terjadi di IAIN Kediri Jawa Timur, kasus IAIN Sultan Amai Gorontalo, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Palangka Raya (UPR), Universitas Negeri Jakarta, Universitas Jember, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta merupakan daftar panjang bukti-bukti akan terjadinya kasus pelecehan seksual (Media Indonesia, 20 November 2021).

Baca Juga: Pemkab Demak Dorong Pertumbuhan Kampung Ternak

Praktik Pendidikan di Indonesia

Bagaimanapun perilaku suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari praktek pendidikan yang dilaksanakan negaranya.

Pembelajaran yang berlangsung di lembaga-lembaga pendidikan memiliki andil dalam pembentukan karakter bangsa.

Hal ini dikarenakan pendidikan memiliki posisi dan peran penting dalam pembentukan karakter siswa (Peshkin, 1992). Pembangunan dan pengembangan masyarakat bisa dilakukan lewat jalur pendidikan (Schubert, 1986).

Hal ini bisa terjadi melalui pendidikan informal, formal dan nonformal. Dalam Undang-undang system Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 ditegaskan bahwa ketiga lembaga ini mesti berjalan secara terintegrasi.

Oleh karenanya, bila karakter suatu bangsa belum terbentuk secara baik, berarti ada problem dengan proses pendidikannya.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Fintech Syariah, Sang Primadona Transformasi Digital

Rabu, 23 November 2022 | 11:32 WIB

Ancaman Senyap Asap Rokok

Selasa, 22 November 2022 | 19:19 WIB

PMA 68 dan Dinamika Akademik di Kampus

Kamis, 17 November 2022 | 16:57 WIB

Kepemimpinan Berorientasi Pengetahuan

Rabu, 16 November 2022 | 11:12 WIB

Memperkuat Jaringan Koperasi Syariah

Selasa, 15 November 2022 | 11:32 WIB

Utang atau Cetak Uang Baru?

Senin, 14 November 2022 | 11:12 WIB

Kepemimpinan dalam Organisasi Pembelajar

Sabtu, 12 November 2022 | 11:12 WIB

Mewaspadai Budaya Gila Kerja

Jumat, 11 November 2022 | 11:15 WIB

Sustainability dalam Bisnis Perusahaan

Kamis, 10 November 2022 | 11:12 WIB

Pungli dalam Pengurusan Warisan

Minggu, 30 Oktober 2022 | 12:04 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Minggu, 23 Oktober 2022 | 21:00 WIB

Peci untuk Cakades

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 21:55 WIB

Mencari Pemimpin Profetik

Senin, 10 Oktober 2022 | 12:03 WIB

Tragedi Oktober di Kanjuruhan

Minggu, 2 Oktober 2022 | 10:02 WIB

Obstruction of Press Freedom

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 09:16 WIB

Mari Dukung Partisipasi Taiwan di ICAO

Jumat, 30 September 2022 | 21:47 WIB
X