Menjaga Romantika Piala Eropa

Red
- Jumat, 11 Juni 2021 | 00:00 WIB
Logo SM (b01m)
Logo SM (b01m)

Pandemi Covid-19 telah mengubah skedul berbagai peristiwa olahraga besar pada 2020. Tidak hanya Olimpiade, Piala Eropa 2020 juga terpaksa dimundurkan penyelenggaraannya satu tahun kemudian. Rencananya kejuaraan itu dilaksanakan di 12 kota pada 12 negara. Perbedaan dampak dari serangan virus korona baru memunculkan kemungkinan perubahan tuan rumah. Bahkan Israel sempat mengajukan menjadi tuan rumah seiring tingginya tingkat vaksinasi di negara Timur Tengah tersebut.

UEFA menolak usulan Israel, namun mengurangi jumlah tuan rumah menjadi 11 kota di 11 negara. Sabtu dinihari WIB (12/6) nanti, kejuaraan mulai digelar. Stadion Olimpico Roma menjadi lokasi pembukaan dengan menggelar pertandingan di grup A antara Italia melawan Turki. Banyaknya negara yang menjadi tuan rumah berkonsekuensi pada ketiadaan tiket lolos otomatis. Seluruh anggota UEFA - 55 negara -, harus mengikuti prakualifikasi untuk menentukan 24 tim yang berhak mengikuti putaran final.

Jumlah 24 tim dalam putaran final baru terjadi pada Piala Eropa 2016 yang digelar di Prancis. Keputusan itu mengindikasikan betapa UEFA sadar akan posisi sepak bola yang telah berkembang menjadi industri. Berbeda dari jenis industri hiburan lainnya, dalam olahraga yang dijual tidak hanya tontonannya. Esensi utama industri olahraga sebenarnya adalah menjual persaingan. Karena itulah mengutak-atik dinamika persaingan menjadi bagian kreativitas dalam mengembangkan industri olahraga.

Semakin banyak peserta tentu berujung pada semakin banyaknya pertandingan di putaran final. Saat ini hak siar televisi menjadi bisnis yang sangat menggiurkan karena besarnya aliran uang. Pertandingan yang makin banyak identik dengan penambahan kuantitas dalam klausul hak siar. Namun, kekuatan dalam bisnis juga tidak bisa dilepaskan dari kemenarikan Piala Eropa itu sendiri. Evolusi dalam format penyelenggaraan berbanding lurus dengan kualitas persepakbolaan Eropa, termasuk persebarannya.

Pergelaran di banyak negara merupakan ide presiden Uni Sepak Bola Eropa (UEFA) saat itu, Michel Platini. Sebelumnya putaran final paling hanya digelar di dua negara. Tujuannya supaya kesan romantis muncul sekaligus sebagai perayaan 60 tahun Piala Eropa. Romantika bisa mewujud dalam banyak aspek. Dengan banyaknya negara yang terlibat, maka banyak orang pula yang akan mengenang Piala Eropa 2020. Dari semula tidak ada babak grup di putaran final, sekarang terdapat enam grup.

Dalam evolusinya, Piala Eropa juga makin menegaskan betapa benua itu merupakan kiblat sepak bola dunia. Benua Biru telah menarik sumber daya istimewa dari benuabenua lain, sekaligus juga mengirim talenta-talentanya ke berbagai penjuru dunia . Sah saja romantika terhadap kualitas persepakbolaan Eropa juga muncul di kawasan lain, seperti ketika netizen negeri ini merindukan sosok Luis Milla. Pelatih itu dirindukan setelah beberapa hari lalu Timnas kalah 0-4 dari Vietnam dalam Pra-Piala Dunia.

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Tidak Ada Alasan, KITB Lamban

Minggu, 25 September 2022 | 12:07 WIB

Seriuskah Kawasan Industri Terpadu Batang?

Sabtu, 17 September 2022 | 08:43 WIB

Jokowi Ngamuk Lagi, Karena Ulah Imigrasi

Rabu, 14 September 2022 | 07:31 WIB

Menjaga Relasi, Memupuk Kolaborasi

Rabu, 14 September 2022 | 01:34 WIB

Kenaikan Harga BBM, Solusi atau Beban untuk Masyarakat?

Senin, 12 September 2022 | 08:48 WIB

Mungkinkah Kenaikan BBM Direvisi ?

Kamis, 8 September 2022 | 08:56 WIB

Jangan Ada Lagi Politik Identitas dan Politisasi Agama

Minggu, 21 Agustus 2022 | 21:32 WIB

RUU KIA dan Peran Negara untuk Perempuan

Sabtu, 20 Agustus 2022 | 10:05 WIB

Kiai NU dan Kretek

Rabu, 10 Agustus 2022 | 15:26 WIB

Mengapa BUMN Membentuk Holding?

Minggu, 17 Juli 2022 | 08:38 WIB

Pancasila dan Ancaman Pengasong Khilafah

Jumat, 8 Juli 2022 | 13:46 WIB

Pemuda Pancasila dan Rumah Kemartabatan

Kamis, 7 Juli 2022 | 23:18 WIB

Mencari Format Ideal Penjabat Kepala Daerah

Rabu, 6 Juli 2022 | 22:12 WIB

Keragaman Lebah, Pangan dan Manusia

Minggu, 22 Mei 2022 | 22:18 WIB

Buku dan Literasi Indonesia

Selasa, 17 Mei 2022 | 18:38 WIB

Semarang Menuju Kota Megapolitan

Selasa, 10 Mei 2022 | 15:51 WIB
X