Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

- Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB
dr Indra Adi Susianto, Msi.Med, SpOG. (suaramerdeka.com / dok pribadi)
dr Indra Adi Susianto, Msi.Med, SpOG. (suaramerdeka.com / dok pribadi)

PANDEMI Covid-19 membuat Indonesia kehilangan ratusan dokter. Ketua IDI Kota Semarang, dr Elang Sumambar mengungkapkan bahwa ada puluhan dokter di Semarang yang gugur saat menyelamatkan nyawa masyarakat dari virus Covid-19.

Hal tersebut juga diperkuat oleh pernyataan Ketua Pelaksana Harian Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), dr. Mahesa Paranadipa, jumlah dokter yang gugur menyelamatkan nyawa masyarakat dari pandemi Covid-19 di Indonesia mencapai 640 orang.

Angka tersebut belum ditambah jumlah tenaga kesehatan lain yang juga gugur akibat pandemi.

Meski sekarang angka kematian dokter akibat pandemi Covid-19 sudah menurun, namun, jumlah ratusan dokter yang gugur perlu mendapatkan perhatian.

Baca Juga: Kapolres Semarang Cetuskan Program Tilik Sedulur, Jenguk Anggota Polri yang Sakit

Di mana banyak fasilitas kesehatan yang kehilangan dokter terutama di area daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan (DTPK).

Keberadaan dan kehadiran dokter dan tenaga kesehatan di wilayah DTPK sangat dibutuhkan masyarakat karena keterbatasan akses dan fasilitas yang dimiliki

Saat ini rasio dokter dan penduduk di Indonesia masih jauh dari angka ideal. Distribusi dan penempatan dokter di seluruh wilayah Indonesia juga tidak merata.

Pemerintah melalui kementerian kesehatan terus berupaya melakukan pemerataan tenaga dokter hingga ke area DTPK dengan bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat.

Baca Juga: Adik Vanessa Angel Rilis Video Klip: Lebih Banyak Dislike, Netizen Komentari Fuji

Pada tahun 2018 sudah ditempatkan lebih dari 7.377 dokter, namun, rasio dokter di Indonesia masih yang terendah kedua di Asia Tenggara yaitu 0,4 dokter per 10.000 penduduk, di mana 4 dokter melayani 10.000 penduduk.

Saat ini pandemi Covid-19 memang sudah cukup terkendali. Tetapi situasi pandemi yang lain masih mungkin terjadi lagi di masa mendatang.

Artinya kita harus selalu waspada, bersiap diri dan melakukan langkah antisipatif.

Salah satunya dengan memperkuat respons terhadap krisis kesehatan masyarakat di masa depan dengan menyiapkan lebih banyak dokter yang terlatih.

Baca Juga: 50 Mustahik Desa Weding Dilatih Kerajinan Eceng Gondok Kualitas Ekspor

Dalam menyiapkan para dokter, fakultas kedokteran dituntun tidak hanya meningkatkan kuota penerimaan mahasiswa kedokteran tetapi memiliki peran sangat penting untuk melatih para calon dokter yang bukan hanya bisa mengobati tetapi juga mempunyai ‘’hati’’.

Seorang dokter tidak hanya bisa menyembuhkan para pasien tetapi juga harus punya empati, mampu berpikir cepat, mempunyai pandangan luas dan bijaksana sehingga dapat juga melakukan pencegahan suatu penyakit dengan memperbaiki kesehatan lingkungan tempat kita tinggal.

Pendidikan dokter, saat ini memang merupakan program studi yang paling diminati calon mahasiswa.

Namun, mempersiapkan dokter yang bukan hanya bisa mengobati tetapi juga mempunyai ‘’hati’’ tidak bisa secara instan.

Baca Juga: Beda Status Beda Perlindungan, Ini Tips Memilih Produk Asuransi bagi Lajang dan Sudah Berkeluarga

Karena para calon dokter harus melewati proses panjang dan keterlibatan banyak pihak.

Perlu diketahui, untuk menyelesaikan kuliah kedokteran, mahasiwa harus terlebih dulu menjalani program pendidikan sarjana kedokteran. 

Dan meraih gelar sarjana kedokteran (S1) menjadi langkah awal, karena perjalanan belum selesai.

Seorang sarjana kedokteran masih harus melanjutkan studi lagi berupa profesi dokter.

Baca Juga: Viral, Anggota TNI dan Polisi Ribut di Pinggir Jalan, Begini Permasalahannya

Pada program profesi atau biasa disebut co-ass (co-assistant) atau dokter muda, mereka harus belajar secara langsung di rumah sakit pendidikan yang tidak terakreditasi oleh kemenkes tetapi juga kemendikbud sebagai Rumah Sakit Pendidikan.

Dunia kedokteran dan pendidikan dokter saat ini memang dihadapkan pada tantangan yang cukup berat.

Dari dalam negeri, tantangan itu berupa pemenuhan kecukupan jumlah dokter yang ideal baik antara pusat dan daerah, disesuaikan dengan jumlah penduduk.

Di sisi lain, tantangan untuk memperebutkan posisi pekerjaan di bidang medis ini juga semakin keras, seiring dengan perkembangan profesi lain dan keterbatasan anggaran pemerintah.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Jateng Tumbuh Positif, Ini Sektor Pendukungnya

Sementara, dari luar negeri tantangan berupa ancaman dokter asing yang secara sistematis dalam aturan global akan ikut menjamah pasar jasa kesehatan di dalam negeri.

Perjuangan Meningkatkan Mutu

Bagaimana kondisi sistem pendidikan dokter di Indonesia saat ini?

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada Muktamar ke-30 tahun 2018 pernah menyoroti sistem pendidikan dokter di Indonesia yang masih berbiaya mahal dan kualitas sumber daya manusianya belum optimal dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara.

Pendidikan dokter masih sulit dijangkau oleh masyarakat kurang mampu karena tingginya biaya pendidikan.

Selain itu, penguasaan teknologi kesehatan belum memperlihatkan kemampuan daya saing dengan negara lain.

Kesenjangan teknologi kesehatan sangat terlihat.

Bahkan di tingkat ASEAN, Indonesia masih berada jauh di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Untuk menjawab tantangan di dunia kedokteran dan mengawal mutu pendidikan dokter dibutuhkan kerjasama yang baik serta menyatukan visi-misi antara pemerintah, kementerian pendidikan kebudayaan riset dan teknologi, kementerian kesehatan, konsil, dan organisasi profesi.

IDI misalnya terus mengupayakan perbaikan mutu melalui advokasi pendidikan kedokteran dan program Continuing Professional Development (CPD).

Kualitas pendidikan di lebih 80 fakultas kedokteran di seluruh Indonesia menjadi perhatian serius bagi IDI.

IDI juga mendorong mahasiswa kedokteran dibekali pemanfaatan teknologi, serta pengembangan teknologi kedokteran harus mulai diperkenalkan sejak pendidikan Basic Medical Education (BME).

Tantangan revolusi industri 5.0 yang berdampak luas terutama pada sektor kesehatan harus dihadapi dengan meningkatkan kemampuan SDM kesehatan kita dalam teknologi dan informasi.

Sementara itu, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) tengah membahas Rancangan Undang-Undang Pendidikan Kedokteran bersama pemerintah.

RUU ini dirancang untuk menjamin pemenuhan hak rakyat atas layanan kesehatan. Hak ini tidak boleh terhalang kelangkaan dokter.

Melalui RUU Pendidikan Dokter, DPR akan mendorong afirmasi biaya pendidikan dokter untuk putra-putri terbaik.

Targetnya untuk area DTPK diberikan Beasiswa berupa ikatan dinas untuk didistribusikan ke wilayah-wilayah yang minim dokter.

RUU Pendidikan Dokter juga akan mengatur penyetaraan strata pendidikan dokter.

Di mana para dokter yang diterima menjadi aparatur sipil negara (ASN) maka akan langsung menjadi golongan IIIC.

Langkah lain untuk semakin mengoptimalkan dan menjaga mutu pendidikan kedokteran adalah dengan mengatur dan menentukan standar kompetensi dan kualifikasi lulusan program pendidikan dokter.

Standar tersebut mulai dari proses masuk pendidikan dokter sampai lulus hingga memasuki dunia profesi tertuang pada sertifikasi kompetensi yang diterbitkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI)

Instrumen penting lainnya untuk menjaga standar kompetensi lulusan program profesi dokter adalah Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD).

UKMPPD merupakan ujian yang harus dilalui oleh mahasiswa Program Profesi Dokter sebelum dinyatakan layak menyandang jabatan dokter.

UKMPPD terdiri dari dua fase ujian yaitu Tes berbasis komputer (Computer Based Tes) dan OSCE (Objective Structured Clinical Examination).

Selain uji kompetensi, fakultas kedokteran sebagai kawah candradimuka para calon dokter harus terakreditasi secara nasional oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM-PTKes) atau Indonesian Accreditation Agency for Higher Education in Health (IAAHEH) yang beroperasi sejak Maret 2015 yang selalu dimonitoring dan dievaluasi setiap tahun oleh Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Tinggi (BAN-PT) dalam pengembangan sistem akreditasi nasional.

Dan yang tak kalah penting untuk mencetak dokter-dokter masa depan, para staf pengajar juga harus terus meningkatkan kualitasnya sebagai dosen sebagai pendidik para calon dokter dengan selalu melaksanakan tridharma perguruan tinggi, seperti pengabdian masyarakat dan melakukan penelitian-penelitian yang menghasilkan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Peran dosen sangat penting karena menjadi inspirasi dan contoh sehari-hari bagi para calon dokter.

Sehingga dosen menjadi garda terdepan bagi para calon dokter yang tidak hanya belajar mengenai kedokteran tetapi juga harus mempunyai etika dalam praktik kedokteran .

Sebagai penutup tulisan di atas, Saat ini, Indonesia, sangat mendesak untuk meningkatkan jumlah dokter untuk merespon krisis kesehatan yang sewaktu-waktu bisa terjadi lagi tidak hanya di area perkotaan tetapi juga pada area DTPK.

Dan, untuk mencetak SDM dokter yang tidak hanya bisa mengobati tetapi juga punya “hati’, fakultas kedokteran harus selalu meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengajaran.

--dr. Indra Adi Susianto, Msi.Med, SpOG. Dekan Fakultas Kedokteran Unika Soegijapranata, Anggota Ikatan Dokter Indonesia.***

Halaman:
1
2
3
4
5
6
7

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Quo Vadis Kejaksaan RI?

Senin, 10 Januari 2022 | 09:12 WIB

Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia Pascapandemi

Sabtu, 8 Januari 2022 | 08:12 WIB

Digitalisasi Ibuisme

Kamis, 6 Januari 2022 | 12:30 WIB

Negeri-negeri Ambon Manise untuk Indonesia

Senin, 27 Desember 2021 | 08:45 WIB

Beri mereka waktu

Rabu, 22 Desember 2021 | 10:12 WIB

Peran Ibu dalam Penguatan Literasi Digital

Rabu, 22 Desember 2021 | 09:12 WIB

Di Balik Kebakaran Pasar Weleri

Minggu, 12 Desember 2021 | 17:42 WIB

Di Balik Meroketnya Harga Minyak Goreng

Kamis, 9 Desember 2021 | 07:45 WIB

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB
X