Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

- Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB
dr Indra Adi Susianto, Msi.Med, SpOG. (suaramerdeka.com / dok pribadi)
dr Indra Adi Susianto, Msi.Med, SpOG. (suaramerdeka.com / dok pribadi)

Standar tersebut mulai dari proses masuk pendidikan dokter sampai lulus hingga memasuki dunia profesi tertuang pada sertifikasi kompetensi yang diterbitkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI)

Instrumen penting lainnya untuk menjaga standar kompetensi lulusan program profesi dokter adalah Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD).

UKMPPD merupakan ujian yang harus dilalui oleh mahasiswa Program Profesi Dokter sebelum dinyatakan layak menyandang jabatan dokter.

UKMPPD terdiri dari dua fase ujian yaitu Tes berbasis komputer (Computer Based Tes) dan OSCE (Objective Structured Clinical Examination).

Selain uji kompetensi, fakultas kedokteran sebagai kawah candradimuka para calon dokter harus terakreditasi secara nasional oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM-PTKes) atau Indonesian Accreditation Agency for Higher Education in Health (IAAHEH) yang beroperasi sejak Maret 2015 yang selalu dimonitoring dan dievaluasi setiap tahun oleh Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Tinggi (BAN-PT) dalam pengembangan sistem akreditasi nasional.

Dan yang tak kalah penting untuk mencetak dokter-dokter masa depan, para staf pengajar juga harus terus meningkatkan kualitasnya sebagai dosen sebagai pendidik para calon dokter dengan selalu melaksanakan tridharma perguruan tinggi, seperti pengabdian masyarakat dan melakukan penelitian-penelitian yang menghasilkan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Peran dosen sangat penting karena menjadi inspirasi dan contoh sehari-hari bagi para calon dokter.

Sehingga dosen menjadi garda terdepan bagi para calon dokter yang tidak hanya belajar mengenai kedokteran tetapi juga harus mempunyai etika dalam praktik kedokteran .

Sebagai penutup tulisan di atas, Saat ini, Indonesia, sangat mendesak untuk meningkatkan jumlah dokter untuk merespon krisis kesehatan yang sewaktu-waktu bisa terjadi lagi tidak hanya di area perkotaan tetapi juga pada area DTPK.

Dan, untuk mencetak SDM dokter yang tidak hanya bisa mengobati tetapi juga punya “hati’, fakultas kedokteran harus selalu meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengajaran.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menengok Potensi Peran Milenial Kabupaten Brebes

Selasa, 18 Januari 2022 | 10:12 WIB

Quo Vadis Kejaksaan RI?

Senin, 10 Januari 2022 | 09:12 WIB

Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia Pascapandemi

Sabtu, 8 Januari 2022 | 08:12 WIB

Digitalisasi Ibuisme

Kamis, 6 Januari 2022 | 12:30 WIB

Negeri-negeri Ambon Manise untuk Indonesia

Senin, 27 Desember 2021 | 08:45 WIB

Beri mereka waktu

Rabu, 22 Desember 2021 | 10:12 WIB

Peran Ibu dalam Penguatan Literasi Digital

Rabu, 22 Desember 2021 | 09:12 WIB

Di Balik Kebakaran Pasar Weleri

Minggu, 12 Desember 2021 | 17:42 WIB

Di Balik Meroketnya Harga Minyak Goreng

Kamis, 9 Desember 2021 | 07:45 WIB

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB
X