Meneropong Konstelasi Politik Timteng

Red
- Kamis, 10 Juni 2021 | 04:50 WIB
Tajuk Rencana
Tajuk Rencana

Pasti bukan sebuah kunjungan biasa ketika Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab bertemu dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), di Riyadh, baru-baru ini. Sudah pasti itu adalah pertemuan politik bilateral strategis, mengingat hubungan dekat kedua negara dengan Amerika Serikat dan termasuk dalam lingkaran sahabat dekat Israel.

Beberapa poin pembicaraan termasuk dalam agenda umum politik global, seperti agenda perubahan iklim, ekonomi, dan perdagangan.

Namun, pembahasan soal Iran, secara khusus menyangkut program nuklir Iran, membawa substansi dan nuansa politik yang berbeda.

Pertemuan tersebut mewakili representasi kekuatan negara-negara yang berupaya membangkitkan kembali kesepakatan nuklir dengan Iran. Saudi menentang kesepakatan pada 2015 itu karena tidak mencakup program rudal Iran dan dukungan untuk proxy kawasan, termasuk di Yaman.

Pertemuan Inggris dan Arab Saudi, karena masih berlangsung pada tingkat menteri, sepertinya masih sebatas langkah konsultasi dan eksplorasi kesepahaman.

Kesepakatan final masih akan membutuhkan pertemuan tingkat tinggi kepala negara. Namun, arah angin perkembangan sudah jelas.

Program nuklir Iran adalah target prioritas dalam jaringan negara-negara tersebut, dan hal itu sudah barang tentu akan berdampak pada konstelasi politik Timur Tengah. Jika memakai metafora senyawa kimia, Iran ibarat unsur radikal bebas yang mampu bergerak leluasa.

Sekali menempel pada salah satu unsur, seluruh komposisi senyawa akan berubah. Dalam konteks geopolitik Timur Tengah, isu program nuklir Iran membawa konsekuensi pada persoalan hubungan negara-negara Timur Tengah yang saat ini masih berjuang keras menyelesaikan peta jalan perdamaian, dengan isu utama perdamaian permanen Israel-Palestina.

Program nuklir Iran akan menjadi variabel penentu penyusunan peta jalan perdamaian Timur Tengah secara lebih komprehensif.

Pembicaraan tingkat menteri antara Inggris dan Arab Saudi merupakan sebuah sinyal yang perlu direspons oleh setiap negara yang merasa berkepentingan, baik karena landasan moral maupun politik, terhadap perdamaian Timur Tengah. Indonesia tentu ikut menjadi bagian dari kekuatan moral dunia untuk membantu perdamaian Timur Tengah.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Sinergi Membangkitkan Industri Tekstil

Selasa, 15 Juni 2021 | 05:09 WIB

Dibutuhkan Cara Tidak Konvensional

Selasa, 15 Juni 2021 | 05:00 WIB

Aktualisasi Pemikiran Sukarno

Selasa, 15 Juni 2021 | 04:47 WIB

Mewujudkan PPDB untuk Semua

Senin, 14 Juni 2021 | 00:44 WIB

Kembalikan BUMN pada Konstitusi Ekonomi

Senin, 14 Juni 2021 | 00:10 WIB

Negara Harus Menang Melawan Premanisme

Senin, 14 Juni 2021 | 00:00 WIB

Biden, Amerika Serikat dan Eropa

Sabtu, 12 Juni 2021 | 05:39 WIB

Kontroversi Rencana Kebijakan Baru PPN

Sabtu, 12 Juni 2021 | 05:32 WIB

Menuju Kota Konservasi Iklim

Sabtu, 12 Juni 2021 | 05:18 WIB

Mencari Solusi Krisis Myanmar

Jumat, 11 Juni 2021 | 00:20 WIB

Gugatan untuk Pasal Penghinaan Presiden

Jumat, 11 Juni 2021 | 00:10 WIB

Menjaga Romantika Piala Eropa

Jumat, 11 Juni 2021 | 00:00 WIB

Mencari Terobosan Wisata Aman

Kamis, 10 Juni 2021 | 04:55 WIB

Meneropong Konstelasi Politik Timteng

Kamis, 10 Juni 2021 | 04:50 WIB

Santun Berbahasa di Medsos

Kamis, 10 Juni 2021 | 04:43 WIB

Perlu Upaya Pemerataan Kesejahteraan

Kamis, 10 Juni 2021 | 04:28 WIB

Risiko Bersandar pada Kenaikan PPN

Rabu, 9 Juni 2021 | 02:08 WIB

Zona Merah di Delapan Daerah

Rabu, 9 Juni 2021 | 02:03 WIB

Islamic Entrepreneurship

Rabu, 9 Juni 2021 | 01:41 WIB

Pengoptimalan Potensi dengan Dana Desa

Selasa, 8 Juni 2021 | 05:34 WIB
X