Cegah Perundungan dengan Buku Saku

Red
- Jumat, 21 Mei 2021 | 00:00 WIB

Perundungan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masa kini. Korbannya bukan hanya orang dewasa tetapi juga remaja dan anak-anak. Dampak perundungan sangat bervariasi. Saking tak kuat dirundung bisa saja seseorang bunuh diri. Atau sebaliknya yang dirundung melawan dengan melakukan tindakan- tindakan destruktif. Ada yang melukai diri sendiri atau orang lain. Ada yang membunuh perundung. Karena itulah, dengan berbagai cara, perundungan harus dicegah.

Ada kabar menarik dari Yogyakarta. Sekelompok mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum Fakultas Ilmu Sosial merancang buku saku untuk mencegah perundungan. Didalambukusaku itu termaktub pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Meskipun demikian para mahasiswa ini menamai buku itu dengan sebutan Anti-perundungan Pocket Book atau Anpook yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan belajar-mengajar PPKn. Alasannya PPKn diidentikkan dengan pendidikan karakter.

Apa saja yang bisa dipelajari oleh pengguna buku saku ini? Tentu terutama pengetahuan mengenai perundungan secara umum yang dipadukan dengan desain grafis menarik. Dengan penataan yang menarik, anakanak dan pembaca dengan dibimbing oleh guru, bisa mempraktikkan bagaimana bersimpati, berempati, bekerja sama, bertoleransi terhadap orang lain dan bergotong royong. Praktikpraktik semacam itu bisa menerbitkan sifat tepa salira atau bertenggang rasa kepada orang lain.

Mengapa bertenggang rasa sangat diperlukan? Jelas tenggang rasa adalah rahim yang memungkinkan melahirkan sikap-sikap indah kehidupan. Sikap-sikap indah, antara lain menolong dan menghormati sesama, jelas menjauhkan seseorang untuk melakukan perundungan terhadap orang lain. Sikap ini juga akan membuat seseorang merasa daif dan menganggap orang lain sebagai sosok yang layak dihormati dan dihargai. Jadi, buku perihal tenggang rasa ini memang sangat dibutuhkan terutamaolehanak-anakmasakini.

Buku saku tentang tenggang rasa ini sebenarnya bisa dipakai sebagai media untuk mengembangkan literasi dasar. Dengan mempelajari buku ini anak-anak berkenalan dengan kegotongroyongan dan toleransi yang merupakan produk- produk unggul dalam sistem kebudayaan kita. Ini membuat anak tak buta budaya. Lebih dari itu mereka diajari untuk tak menganggap sosoksosok lain di luar dirinya sebagai pihak-pihak inferior yang layak dihina atau dirundung dan disepelekan.

Tak pelak kita mesti angkat topi kepada para perancang buku anti-perundungan ini. Tindakan mereka bukan tidak mungkin akan ditiru oleh mahasiswa-mahasiswa lain. Bukan tidak mungkin pada saatnya nanti banyak mahasiswa yang bikin buku saku perihal antikorupsi, antiprostitusi, anti-perusakan lingkungan hidup bagi teman sebaya atau anakanak usia dini. Bukan tidak mungkin pula jika semua mahasiswa punya kepedulian di bidang masing- masing, bangsa ini akan bisa bangkit dari keterpurukan.

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Demokrasi Pengelolaan Laut

Rabu, 26 Januari 2022 | 13:30 WIB

Menengok Potensi Peran Milenial Kabupaten Brebes

Selasa, 18 Januari 2022 | 10:12 WIB

Quo Vadis Kejaksaan RI?

Senin, 10 Januari 2022 | 09:12 WIB

Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia Pascapandemi

Sabtu, 8 Januari 2022 | 08:12 WIB

Digitalisasi Ibuisme

Kamis, 6 Januari 2022 | 12:30 WIB

Negeri-negeri Ambon Manise untuk Indonesia

Senin, 27 Desember 2021 | 08:45 WIB

Beri mereka waktu

Rabu, 22 Desember 2021 | 10:12 WIB

Peran Ibu dalam Penguatan Literasi Digital

Rabu, 22 Desember 2021 | 09:12 WIB

NEWA, Peluang Baru Bisnis Perhotelan

Selasa, 14 Desember 2021 | 11:30 WIB

Di Balik Kebakaran Pasar Weleri

Minggu, 12 Desember 2021 | 17:42 WIB

Di Balik Meroketnya Harga Minyak Goreng

Kamis, 9 Desember 2021 | 07:45 WIB

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB
X