Merdeka Belajar

Red
- Senin, 17 Mei 2021 | 00:20 WIB

UNIVERSITAS 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang, belum lama ini menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) tentang kurikulum terkait dengan konsep Merdeka Belajar-Kampus Merdeka. Beberapa pengguna diundang untuk memberikan masukan demi peningkatan kualitas lulusan. Intinya, FGD sebagai upaya mengaplikasikan konsep ìMerdeka Belajar-Kampus Merdekaî.

Kegiatan tersebut juga sejalan dengan tema Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2021 lalu, yaitu ìSerentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajarî. Merdeka Belajar merupakan tema besar kebijakan pendidikan Menteri Nadiem Anwar Makarim. Dalam lingkup perguruan tinggi, Mas Menteri (sapaan akrab Nadiem) meluncurkan kebijakan bertajuk ìKampus Merdekaî.

Kebijakan Merdeka Belajar- Kampus Merdeka tertuang dalam Peraturan Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi dan Buku Panduan Merdeka Belajar- Kampus Merdeka Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti).

Terdapat empat program utama, yaitu kemudahan pembukaan program studi baru, perubahan sistem akreditasi perguruan tinggi, kemudahan perguruan tinggi negeri menjadi berbadan hukum, dan hak belajar bagi mahasiswa untuk mengambil tiga semester di luar program studinya.

Disebutkan, perguruan tinggi wajib memfasilitasi hak bagi mahasiswa (dapat diambil atau tidak) untuk mengambil Satuan Kredit Semester (SKS) di luar perguruan tinggi paling lama dua semester atau setara dengan 40 SKS dan mengambil SKS di program studi yang berbeda di perguruan tinggi yang sama sebanyak satu semester atau setara dengan 20 SKS.

Program tersebut adalah magang/praktik kerja, asistensi mengajar di satuan pendidikan, proyek kemanusiaan, kegiatan wirausaha, riset, pertukaran pelajar, membangun desa/kuliah kerja nyata tematik, dan studi proyek independen.

Kebijakan yang tampaknya dilandasi ìberpikir di luar kotakî (out of the box) ini memerlukan perubahan pola pikir linear yang cenderung lurus-lazim ke pola pikir lateral yang kreatif-inovatif dengan metode yang tidak biasa. Tidak berlebihan kalau dikatakan, inilah reformasi pendidikan tinggi.

Pendekatan Interdisiplin

Dalam konteks Merdeka Belajar- Kampus Merdeka, maka pembelajaran berorientasi kelas yang kognitif-teoretik tidak cukup untuk meningkatkan kompetensi lulusan menjawab tantangan zaman. Zaman sudah berubah, maka pola pikir mahasiswa dan dosen pun perlu berubah.

Halaman:

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Negosiasi dan Efisiensi untuk Selamatkan Garuda

Sabtu, 19 Juni 2021 | 05:32 WIB

Kampanye Panutan Literasi

Sabtu, 19 Juni 2021 | 05:17 WIB

Selamatkan Penyu dengan Ilmu Titen

Jumat, 18 Juni 2021 | 01:00 WIB

Bener nanging Ora Pener

Jumat, 18 Juni 2021 | 00:20 WIB

Menghambat Penambahan Zona Merah

Jumat, 18 Juni 2021 | 00:10 WIB

Tantangan Berinvestasi di Klub Sepak Bola

Jumat, 18 Juni 2021 | 00:00 WIB

Eksistensi dan Pelindungan Ekonomi Kreatif

Kamis, 17 Juni 2021 | 01:27 WIB

Bennett dan Masa Depan Israel

Kamis, 17 Juni 2021 | 01:17 WIB

Tantangan Meningkatkan Tax Ratio

Rabu, 16 Juni 2021 | 02:51 WIB

Negara Bukan Surga bagi Pencuri

Rabu, 16 Juni 2021 | 02:44 WIB

Lingkungan dan Kelangsungan Bisnis

Rabu, 16 Juni 2021 | 02:28 WIB

Sinergi Membangkitkan Industri Tekstil

Selasa, 15 Juni 2021 | 05:09 WIB

Dibutuhkan Cara Tidak Konvensional

Selasa, 15 Juni 2021 | 05:00 WIB

Aktualisasi Pemikiran Sukarno

Selasa, 15 Juni 2021 | 04:47 WIB

Mewujudkan PPDB untuk Semua

Senin, 14 Juni 2021 | 00:44 WIB

Kembalikan BUMN pada Konstitusi Ekonomi

Senin, 14 Juni 2021 | 00:10 WIB

Negara Harus Menang Melawan Premanisme

Senin, 14 Juni 2021 | 00:00 WIB

Biden, Amerika Serikat dan Eropa

Sabtu, 12 Juni 2021 | 05:39 WIB

Kontroversi Rencana Kebijakan Baru PPN

Sabtu, 12 Juni 2021 | 05:32 WIB

Menuju Kota Konservasi Iklim

Sabtu, 12 Juni 2021 | 05:18 WIB
X