Kontroversi Mewarnai Kebijakan Penghapusan FABA dari Golongan B-3

Red
- Rabu, 28 April 2021 | 09:48 WIB
Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

MANUSIA menghasilkan sampah dan limbah yang datang dari kegiatan yang dilakukan sehari-hari untuk menunjang keberlangsungan hidupnya. Tidak terkecuali kita yang hidup dan melakukan berbagai aktivitas di perkotaan. Menilik hal tersebut, pemanfaatan limbah batu bara dalam upaya menjadi bahan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) menuai beragam pandangan dan opini masyarakat.

Layaknya dua sisi mata koin, terdapat masyarakat yang setuju terhadap kebijakan tersebut dan terdapat juga masyarakat yang berpandangan menolak karena keberadaan limbah batu bara. Hal ini dikarenakan dapat mengganggu aktivitas manusia sehingga menimbulkan permasalahan kesehatan, merusak ekologi atau lingkungan, dan merusak tatanan ekosistem di bumi.

Faktanya, FABA yang tergolong limbah B3 dengan volume besar akan memberikan dampak jangka panjang tidak hanya kepada lingkungan tetapi juga masyarakat secara luas. Fly Ash dan Bottom Ash merupakan limbah padat yang dihasilkan dari pembakaran batu bara pada fasilitas pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Ada tiga tipe pembakaran batu bara yang dikenal dalam industri listrik, yaitu dry bottom boilers, wet bottom boilers, dan cyclon furnace. Tipe yang paling lazim digunakan adalah tipe dry bottom boilers.

Mestinya, dengan adanya pencabutan status FABA dari limbah B3 pihak pemerintah pun harus memperlihatkan usaha yang jauh lebih serius dalam mengendalikan dan mengelola lingkungan hidup, utamanya yang bersinggungan erat dan masyarakat umum di sekitar industri.

Akhirnya perdebatan ini bukan lagi masalah sains atau hukum saja, namun jauh lebih mendasar yakni terkait masalah rasa keadilan dan kepercayaan publik pada pemerintah, yang tentu harus dijawab dengan lugas dan baik agar terwujud suasana yang kondusif bagi pelaku usaha dan masyarakat secara umum. Melihat persoalan kontroversi FABA ini, adapun tujuan yang mendasari dikeluarkannya FABA dalam kategori limbah B3 adalah untuk menghindari praktik korupsi yang marak terjadi di dalam lingkaran perizinan dan pengelolaan limbah, menghemat biaya produk listrik PLN dengan estimasi Rp 300 triliun, serta kebijakan dikeluarkannya AMDAL hingga mencapai angka ratusan juta dapat dihindari.

Polemik ini kemudian meruak sampai ke permukaan dan di sisi lain adanya penegakan hukum yang lemah, termasuk di dalamnya pemberian izin lingkungan yang sangat rawan dengan praktik korupsi dan nepotisme, ditambah dengan rendahnya kepercayaan publik pada pemerintah akan perhatian yang lebih tinggi kepada kemaslahatan masyarakat umum yang terdampak oleh adanya industri yang membuang limbah berupa FABA, makin membuat dua persepsi terkait status FABA tidak menemukan titik temu pembicaraan.

Terlebih dengan adanya rekam jejak kasus pelanggaran ketika limbah FABA masih tergolong limbah B3, pengesahan UU Omnibus Law yang sangat kontroversial, ditambah dengan regulasi terbaru yang seakan melonggarkan pihak investor, tentu semakin memunculkan persepsi bahwa pemerintah lebih condong pada pengusaha daripada rakyat. Tentu saja, kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak akan serta merta memuaskan segala pihak. Dibutuhkan dukungan dan diskusi terbuka dari masyarakat menyangkut hal tersebut.

Tidak hanya berhenti disitu saja, dengan dikeluarkannya peraturan baru oleh pemerintah Indonesia terlebih untuk mengenalkan istilah Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) sebagai hasil pembakaran batu bara dari daftar limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).  Pada 2 Februari 2021 melalui PP No. 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dicabutnya FABA dari daftar limbah B3 termuat dalam perubahan Tabel 4 yang memuat daftar limbah B3 dari sumber spesifik khusus pada Lampiran IX PP No. 22 Tahun 2021, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari PP tersebut.

Fly Ash merupakan material yang memiliki ukuran butiran yang halus, berwarna keabu-abuan, dan mengandung unsur kimia antara lain silika (SiO2), alumina (Al2 O3), fero oksida (Fe2 O3) dan unsur tambahan lain (Wardani, 2008). Sedangkan Bottom Ash adalah campuran antara abu batu bara, pasir kuarsa, dan pecahan-pecahan dinding furnace yang terkikis selama proses pembakaran berlangsung.

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Senin, 25 Oktober 2021 | 23:45 WIB

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB

Aksi Kita adalah Masa Depan Kita

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 21:36 WIB

Masjid dan Peran Memakmurkan Umat

Selasa, 5 Oktober 2021 | 13:31 WIB

Aspek Hukum Arisan Online

Jumat, 24 September 2021 | 00:30 WIB

Mengganti Beban Pembiayaan BLBI

Jumat, 24 September 2021 | 00:10 WIB

Antusiasme Menyambut Kompetisi Liga 3

Jumat, 24 September 2021 | 00:00 WIB

Memindai Cermin Kota Kudus

Kamis, 23 September 2021 | 11:36 WIB

Indonesia Diuji dalam Ketegangan AUKUS

Kamis, 23 September 2021 | 01:28 WIB

Mewujudkan Sekolah Tatap Muka Aman

Kamis, 23 September 2021 | 01:25 WIB

Keterampilan dan Kompetensi Abad 21

Kamis, 23 September 2021 | 01:16 WIB

Maksimalkan Efektivitas Blended Learning

Rabu, 22 September 2021 | 01:11 WIB

Gernas BBI Jangan Hanya Seremonial

Rabu, 22 September 2021 | 01:08 WIB

Mahasiswa Merdeka

Rabu, 22 September 2021 | 01:03 WIB
X