Bahasa Inggris dan Kemajuan Bangsa

Red
- Selasa, 27 April 2021 | 00:07 WIB

“Korelasi ini menunjukkan adanya penanda bahwa jika nilai TOEFL suatu negara tergolong tinggi maka perekonomiannya juga baik. Sebaliknya, jika nilai TOEFL suatu negara tergolong rendah maka GDP negara tersebut juga cenderung rendah.”

BAHASA adalah media komunikasi yang sering kita abaikan keberadaannya. Penyebabnya, kita sudah bisa berbahasa sejak kita masih balita. Kita sering merasa bahwa bahasa telah menjadi bagian dari diri manusia layaknya anggota tubuh yang melekat pada diri kita sejak lahir. Kita tidak pernah ingat kapan pertama kalinya kita mulai berbahasa. Dari sudut pandang orang awam, tidak banyak orang yang memperhatikan fungsi bahasa. Padahal, bahasa memiliki banyak fungsi untuk memproyeksikan beberapa aspek dalam kehidupan manusia. Bahasa mampu menjadi indikator kondisi psikologis penuturnya. Kita bisa memahami kesedihan, kegembiraan, dan kemarahan dari pilihan kata dan variasi tonal yang dipakai penutur. Bahasa juga mampu menjadi indikator ideologi penuturnya. Dengan mengamati frekuensi kata yang muncul dan keterkaitan makna antartuturan, kita dapat memahami pandangan penutur terhadap isu tertentu.

Yang paling hebat tentunya, bahasa ternyata dapat menjadi indikator kemajuan suatu bangsa. Artikel ini khusus membahas tentang bagaimana keterkaitan penguasaan bahasa dan kemajuan suatu bangsa. Sebelum dibahas lebih lanjut, perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan kemajuan bangsa dalam artikel ini adalah kemajuan ekonomi. Perlu digarisbawahi juga bahwa penguasaan bahasa yang memengaruhi kemajuan ekonomi sebuah bangsa ternyata bukan penguasaan bahasa ibu. Hal ini cukup mengecewakan bagi para pegiat bahasa ibu, mengingat kita semua telah berusaha maksimal untuk menjaga kelestarian bahasa ibu. Berdasarkan temuan beberapa studi yang dilakukan di ratusan negara, ternyata penguasaan bahasa Inggris (bukan bahasa ibu dan bukan bahasa asing lain) yang berkorelasi positif dengan kemajuan ekonomi sebuah negara. Penelitian Chew Ging Lee dari Nottingham University Business School menunjukkan adanya korelasi positif antara nilai rata-rata TOEFLdi suatu negara dan pertumbuhan tahunan GDPnegara tersebut. Seperti diketahui bersama, Gross Domestic Product (GDP) adalah estimasi nilai ekonomi dari barang dan jasa yang ditransaksikan di suatu negara pada tahun tertentu. Penyebab terjadinya korelasi positif ini belum dapat dijelaskan secara tuntas oleh Lee. Namun demikian, korelasi ini menunjukkan adanya penanda bahwa jika nilai TOEFL suatu negara tergolong tinggi maka perekonomiannya juga baik. Sebaliknya, jika nilai TOEFLsuatu negara tergolong rendah maka GDP negara tersebut juga cenderung rendah. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada indikator nilai TOEFL dan GDP. English First (EF), sebuah lembaga pengajaran bahasa terkemuka di dunia membuat sebuah pengukuran indeks kemampuan bahasa Inggris dari negara-negara di dunia. Indeks kemampuan bahasa Inggris ini bernama EF English Proficiency Index (EF EPI). Cara membaca skor EF EPI ini cukup mudah.

Contohnya, Belanda adalah negara dengan skor tertinggi di Eropa nilainya 652. Indonesia yang merupakan negara dengan kemampuan bahasa Inggris urutan ke-15 di Asia memiliki skor 453. Selanjutnya, ilmuwan mengorelasikan skor EF EPI dengan pendapatan per kapita dari puluhan negara. Hasilnya cukup signifikan. Kenaikan nilai indeks bahasa Inggris suatu negara memiliki hubungan kuat dengan kenaikan pendapatan per kapita negara itu. Bagaimana kita menjelaskan korelasi-korelasi tersebut? Tentu korelasi selalu bisa dijelaskan secara dwi arah. Alternatif yang pertama adalah model bahasa Inggris sebagai akibat. Penjelasannya, negara yang ekonominya maju memiliki fasilitas, kebijakan, dan pendidikan yang baik. Fasilitas yang baik tersebut dimungkinkan menyebabkan warga negara lebih mudah dalam menguasai bahasa Inggris.

Alternatif kedua, model bahasa Inggris sebagai sebab. Penjelasannya, kemampuan bahasa Inggris yang baik dari warga suatu negara menyebabkan bangsa tersebut mampu mengakses informasi global lebih cepat, menciptakan iklim bisnis internasional, mengembangkan teknologi, dan lebih percaya diri dalam pergaulan internasional yang lebih luas. Untuk mengetahui apakah bahasa Inggris adalah sebab atau akibat atas kemajuan ekonomi suatu bangsa, dibutuhkan beberapa penelitian ikutan yang lebih mendalam. Namun setidaknya, diagnosis kita sudah cukup mengerucut.

Perlu Usaha Sadar

Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara perlu melakukan usaha sadar dan terstruktur untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris warga negaranya. Kita tidak bisa mengambil risiko membiarkan kemampuan bahasa Inggris kita di bawah rata-rata regional. Jika memang bahasa Inggris berkorelasi positif dengan kemajuan ekonomi maka kemampuan tersebut perlu diperhatikan lebih saksama oleh pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya. Saat ini Indonesia menempati posisi ke-74 dari 100 negara yang diperingkat oleh EF EPI.

Saat ini kemampuan bahasa Inggris kita masih di bawah Vietnam dan Bangladesh. Kondisi tersebut adalah alarm darurat bagi kita untuk segera bangkit dari zona nyaman. Bagaimana kita menyikapi fenomena ini? Jawabannya ada pada bilingualisme yang terarah. Selama ini kita menganggap bahasa ibu dan bahasa Inggris adalah pilihan yang eksklusif. Seakan-akan bahasa Inggris dapat merusak jiwa patriotisme kita. Padahal tidak harus seperti itu. Sesungguhnya keduanya memiliki peran masing-masing. Bahasa ibu berfungsi untuk menjaga persatuan kita sebagai sebuah bangsa. Di sisi lain, bahasa Inggris berfungsi untuk meningkatkan potensi bangsa untuk menjadi negara yang lebih maju secara ekonomi. Ujungnya adalah kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Perubahan hanya bisa dilakukan dengan usaha sadar. Kita harus menyadari bahwa bahasa Inggris bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa Inggris juga merupakan alat kemajuan ekonomi bangsa. (40)

Dr Hendi Pratama MA, Wakil Rektor Bidang Perencaan dan Kerja Sama, Universitas Negeri Semarang Semarang (Unnes).

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB

Metamorfosis Implementasi MBKM di Perguruan Tinggi

Senin, 8 November 2021 | 11:12 WIB

Kebijakan Publik Versus PCR dan Antigen

Minggu, 7 November 2021 | 23:23 WIB

Pangan dan Telur Ayam

Minggu, 7 November 2021 | 15:26 WIB

Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Senin, 25 Oktober 2021 | 23:45 WIB

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB

Aksi Kita adalah Masa Depan Kita

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 21:36 WIB
X