PTM Bukan Solusi Akhir

Red
- Selasa, 13 April 2021 | 00:07 WIB

"Fokus utama dalam PTM idealnya adalah soal kesehatan, bukan perihal kualitas pendidikan pada era pandemi ini."

UJI coba pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah pada masa pandemi Covid-19 sedang gencar dilakukan di beberapa daerah di Tanah Air. Pelaksaanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama masa pandemi ini dianggap beberapa kalangan akan mengurangi kualitas pendidikan karena banyak kendala dalam praktiknya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyatakan, salah satu hal yang mengkhawatirkan dari praktik PJJ adalah munculnya ancaman risiko kendala tumbuh dan kembang anak, risiko terbesar hilangnya pembelajaran secara berkepanjangan baik kognitif maupun pengembangan karakter. Namun rencana pelaksanaan PTM kembali sebenarnya bukanlah sebuah solusi akhir untuk meningkatkan kualitas pendidikan negeri ini. PJJ sebenarnya dapat digunakan sebagai momentum bagi semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan untuk saling bersinergi satu sama lain. Jika selama ini guru dan sekolah yang selalu menjadi sasaran tembak atas ketidakberhasilan peserta didik menguasai kompetensi yang diharapkan, justru selama PJJ orang tua dan pemerintah yang menjadi soroton utama. Praktik PJJ yang melibatkan orang tua dalam proporsi yang lebih besar dibandingkan saat PTM di sekolah menjadi perhatian utama. Banyak orang tua yang tidak mampu membantu tahapan pembelajaran kepada anak secara runtut sesuai dengan tahapan perkembangannya. Akibatnya muncul keluhan dari para orang tua mengenai kondisi sang anak terhadap materi pembelajaran. Jika mengacu pada taksonomi Anderson (A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assesing: A Revision of Bloomís Taxonomy of Educational Objectives: 2021), jangankan untuk mencipta pada domain psikomotor, untuk sekadar membantu anak mendapatkan pemahaman pengetahuan pada ranah kognitif saja masih penuh permasalahan. Pemerintah pun tidak lepas dari sorotan.

Kebijakan penerapan PJJ dengan konsep pembelajaran daring menuai banyak keluhan. Dari keterbatasan sarana belajar seperti ponsel atau laptop, kesulitan mendapatkan sumber belajar, kuota internet yang mahal, jaringan internet yang tidak stabil di beberapa daerah membuat praktik pembelajaran dengan cara daring tidak optimal. Lantas dengan membuka kembali sekolah agar permasalahan tersebut hilang, apakah akan mampu meningkatkan kualitas pendidikan kita atau sekadar mengembalikan beban tersebut kepada guru dan sekolah?

Perlu Bersinergi

Peningkatan kualitas pendidikan tidak akan muncul begitu saja saat pembelajaran tatap muka dilaksanakan kembali. Siswa, orang tua, guru, sekolah, pemerintah ataupun pemangku kepentingan yang terlibat dalam proses pembelajaran perlu bersinergi. Perlu pemahaman bersama bahwa mendidik anak adalah tugas semua pihak, tidak hanya dibebankan kepada guru dan sekolah. Orang tua yang selama ini berkesan lepas tangan soal kebutuhan pengetahuan anak dengan menyerahkan begitu saja kepada guru di sekolah, selama PPJ seolah-olah mendapatkan tinju yang menohok bahwa mendidik anak bukan hal yang mudah. Orang tua perlu memberikan pendampingan yang lebih intens kepada anak agar anak tumbuh lebih optimal melalui pembelajaran. Guru dan sekolah perlu memperbaiki kualitas pembelajarannya sehingga tidak monoton dengan metode yang sama kepada semua siswa. Perlu penyadaran lebih dari guru dan sekolah bahwa tiap siswa memiliki kebutuhan yang berbeda dalam proses pembelajaran sehingga dituntut lebih adaptif dan responsif pada kebutuhan setiap siswa.

Pemerintah dan pemnagku kepentingan yang selama PJJ mendapatkan keluhan mengenai sarana pembelajaran daring, juga perlu berbenah untuk lebih meningkatkan pemerataan teknologi hingga dapat dijangkau semua kalangan dan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan peningkatan kualitas pendidikan. Fokus utama dalam PTM idealnya adalah soal kesehatan, bukan perihal kualitas pendidikan pada era pandemi ini. Merujuk pada data digital pandemic talk Januari-Maret, kenaikan angka penderita Covid-19 pada anak usia sekolah (6-18 tahun) sebesar 83,1%. Hal ini tentu perlu menjadi perhatian. Perlu pengawasan yang betul-betul ketat perihal praktik penerapan protokol kesehatan di sekolah. Tidak sekadar dilihat dari sisi penyiapan sarana prasarana untuk menerapkan protokol kesehatan seperti penyediaan tempat cuci tangan, cek suhu tubuh, mengantur kursi di dalam kelas. Namun yang lebih penting adalah pada pembentukan kebiasaan gaya hidup baru pada semua yang terlibat langsung dalam praktik PTM.

Kebiasaan hidup baru seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak perlu ditingkatkan agar tidak terjadi klaster Covid-19 di sekolah. Sarana dan prasarana yang disediakan akan tidak bermafaat jika pada praktiknya belum muncul kebiasaan pada warga sekolah mengenai pola hidup sehat pada era pandemi. Jika ada siswa, guru atau warga sekolah lain yang terjangkit, justru kita yang akan kehilangan generasi penerus yang sehat lahir dan batin. Proses pembentukan kebiasaan gaya hidup baru pada masa pandemi tidak hanya dibebankan pada guru atau sekolah. Orang tua dan masyarakat juga perlu terlibat, karena waktu yang dihabiskan oleh anak justru lebih banyak di luar lingkungan sekolah. Kebiasaan merupakan puncak tertinggi pada konsep pendidikan karakter setelah melalui tahap pengetahuan dan pelaksanaan.

Fokus pada upaya pembentukan kebiasaan hidup sehat pada era pandemi ini akan membentuk karakter yang positif pula bagi anak. (40)

Fredy Hermanto, dosen Prodi Pendidikan IPS, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB

Aksi Kita adalah Masa Depan Kita

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 21:36 WIB

Masjid dan Peran Memakmurkan Umat

Selasa, 5 Oktober 2021 | 13:31 WIB

Aspek Hukum Arisan Online

Jumat, 24 September 2021 | 00:30 WIB

Mengganti Beban Pembiayaan BLBI

Jumat, 24 September 2021 | 00:10 WIB

Antusiasme Menyambut Kompetisi Liga 3

Jumat, 24 September 2021 | 00:00 WIB

Memindai Cermin Kota Kudus

Kamis, 23 September 2021 | 11:36 WIB

Indonesia Diuji dalam Ketegangan AUKUS

Kamis, 23 September 2021 | 01:28 WIB

Mewujudkan Sekolah Tatap Muka Aman

Kamis, 23 September 2021 | 01:25 WIB

Keterampilan dan Kompetensi Abad 21

Kamis, 23 September 2021 | 01:16 WIB

Maksimalkan Efektivitas Blended Learning

Rabu, 22 September 2021 | 01:11 WIB

Gernas BBI Jangan Hanya Seremonial

Rabu, 22 September 2021 | 01:08 WIB

Mahasiswa Merdeka

Rabu, 22 September 2021 | 01:03 WIB

Penguatan Imunitas Usaha Koperasi

Selasa, 21 September 2021 | 00:32 WIB

Jangan Lengah dalam Mitigasi Covid-19

Selasa, 21 September 2021 | 00:27 WIB

Wakaf untuk Sektor Informal

Selasa, 21 September 2021 | 00:22 WIB

Menjaga Keamanan ”PeduliLindungi”

Senin, 20 September 2021 | 00:20 WIB
X