Menyingkap Doktrin Terorisme

Red
- Senin, 5 April 2021 | 00:40 WIB

RENTETAN kejadian teror di gerbang Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan (28/3) dan Mabes Polri (31/3) sungguh menghentak akal sehat. Betapa tidak, di tengah gigihnya negara melawan serangan ganasnya mikroba Covid-19, kombatan justru melakukan bom bunuh diri dan melepaskan tembakan membabi buta. Tak seperti lazimnya, aksi kali ini memiliki kemiripan, pelakunya sama-sama tergolong milenial.

Esensi terorisme, menurut Yuval Noah Harari (2016), adalah pertunjukan. Logikanya, semakin viral akan membawa kelegitan tersendiri bagi mereka. Para teroris sengaja menghidangkan spiral kekerasan hingga membuat kita digiring pada imaji kekacauan abad pertengahan.

Kengawuran yang agresif akan digdaya ketimbang kepakaran yang pasif. Sesuatu yang tak benar sekalipun akan dinilai ”benar” bila dibenar-benarkan terus-menerus. Tak peduli betapa absurdnya ”kebenaran” tersebut. Akal sehat pun dikafani lalu dimakamkan, digantikan dengan merasa tahu dalam ketidaktahuan.

Teringat ajaran Leviathan-nya Hobbes, menurutnya manusia ditakdirkan homo homini lupus, manusia adalah serigala pemangsa bagi sesama. Para peneror telah mengajarkan kibul ideologis hingga terbentuk manekin pecinta kematian (nekrofilis), bukan pecinta kehidupan (biofilis).

Dalam ekstase teror, kematian menjadi sesuatu yang banal, surga ditawarkan secara murah. Dan ada orang-orang yang didoktrin siap mati untuk itu. Padahal realitasnya, menurut Baudrillard, kematiannya adalah justru strategi kesiasiaan belaka (banal strategy).

Tentu saja, tak bisa dipungkiri, fenomena pengerasan pemahaman keagamaan tak terlepas dari selera publik yang mengalami pergeseran, dari pola agamawan high-brow (terdidik) menjadi low-brow (serba instan). Dalam rimba narasi, ocehan awam yang sok tahu bisa jadi malah lebih didengarkan ketimbang uraian sistematis cerdikcendekia.

Simbol-simbol agama hanya diperalat menjadi kuda troya dengusan nafsu para kombatan. Citra Ketuhanan Yang Maha Pengasih dan Penyayang pun lenyap tenggelam oleh hasrat angkara murka. Tingkat spiritualitas hanya ditera lewat desingan mesiu dan bau amis darah. Religiusitas pun menjadi tandus dan gersang.

Ajaran Islam yang bernilai mulia diringkus bersalin rupa menjadi narasi apokaliptik. Hingga secara serampangan menganggap yang tak sepaham sebagai bidíah, kafir, bahkan sesat. Tak urung, terjadilah apa yang disebut gejala pengilahian diri (self-deification).

Di balik selubung terorisme, ada akal sehat yang dihina, diacuhkan bahkan diludahi. Hingga bisa disebut bahwa terorisme adalah penghayatan keagamaan yang bercerai dengan rasio. Imbasnya, agama akan kehilangan elan vitalnya bila terus-menerus dirudung narasi radikalisme (tatharruf).

Halaman:

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Fintech Syariah, Sang Primadona Transformasi Digital

Rabu, 23 November 2022 | 11:32 WIB

Ancaman Senyap Asap Rokok

Selasa, 22 November 2022 | 19:19 WIB

PMA 68 dan Dinamika Akademik di Kampus

Kamis, 17 November 2022 | 16:57 WIB

Kepemimpinan Berorientasi Pengetahuan

Rabu, 16 November 2022 | 11:12 WIB

Memperkuat Jaringan Koperasi Syariah

Selasa, 15 November 2022 | 11:32 WIB

Utang atau Cetak Uang Baru?

Senin, 14 November 2022 | 11:12 WIB

Kepemimpinan dalam Organisasi Pembelajar

Sabtu, 12 November 2022 | 11:12 WIB

Mewaspadai Budaya Gila Kerja

Jumat, 11 November 2022 | 11:15 WIB

Sustainability dalam Bisnis Perusahaan

Kamis, 10 November 2022 | 11:12 WIB

Pungli dalam Pengurusan Warisan

Minggu, 30 Oktober 2022 | 12:04 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Minggu, 23 Oktober 2022 | 21:00 WIB

Peci untuk Cakades

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 21:55 WIB

Mencari Pemimpin Profetik

Senin, 10 Oktober 2022 | 12:03 WIB

Tragedi Oktober di Kanjuruhan

Minggu, 2 Oktober 2022 | 10:02 WIB

Obstruction of Press Freedom

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 09:16 WIB

Mari Dukung Partisipasi Taiwan di ICAO

Jumat, 30 September 2022 | 21:47 WIB
X