Kadin Jateng dan Komitmen Bangun Ekosistem Ekonomi Syariah

Red
- Selasa, 30 Maret 2021 | 09:34 WIB
Ahmad Rofiq Wakil Ketua Umum MUI Jateng (suaramerdeka.com/dok)
Ahmad Rofiq Wakil Ketua Umum MUI Jateng (suaramerdeka.com/dok)

Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Jawa tengah di bawah pimpinan Kukrit Suryo Wicaksono, Selasa, 30/3/2021 menggelar webinar dengan tema menarik dan provokatif “Peluang dan Tantangan Ekosistem Ekonomi Syariah”.

"Saya mendapat kehormatan diundang sebagai salah satu narasumber, selain Mas Kukrit, Pimpinan Wilayah Bank Syariah Indonesia (BSI) Jawa Tengah, Imam Hidayat Sunarto, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah, Kepala OJK Jawa Tengah, Aman Santosa, Direktur Pand’s Muslim Departemen Store Mochamad Zaqi, dan dimoderatori kandidat doctor ekonomi Syariah UNDIP, Iskandar Chang, M.Si, yang mengomandoi Muslim Trade Center (MTC) Jawa Tengah," ungkapnya.

Judul yang ditugaskan pada saya adalah “Tantangan Ekosistem Syariah dalam Rantai Perbankan Konvensional”. Tema yang tidak kalah “seru” dan “provokatif”. Memang dalam dunia usaha dan dagang, nyali, gerak, dan keberanian untuk mengambil dan sekaligus memitigasi risiko, adalah bagian penting seorang pengusaha. Ini sejalan dengan kaedah dalam ekonomi Syariah “al-ghurmu bi l-ghunmi” artinya “(besar-keculnya) risiko itu (sebanding) dengan perolehan (yang didapatkannya)”. Karena itu, meskipun yang mengetahui maksud persis dari tema webinar pagi hari ini, adalah yang membuat tema tersebut, ini merupakan bentuk komitmen dari KADIN Jawa Tengah – dan tentu saja Mas Kukrit dengan segenap jajarannya, akan menjelaskannya.

Bahwa dalam kenyataannya, marketshare ekonomi Syariah umumnya dan perbankan Syariah khususnya, webinar ini diharapkan akan mampu menjadi diagnosis dan terapi secara sistematis. Karena yang diundang adalah narasumber yang memang menggeluti di bidangnya, dari otoritas regulator dan pengawas, pelaku perbankan Syariah dari BSI, dan KADIN sebagai “instruktur” atau “dirigen” meminjam istilah dalam sebuah orchestra ekosistem ekonomi Syariah ke depan. Hingga tulisan ini dibuat, tantangan ekosistem Syariah masih cukup berat.

Perbankan Syariah yang awal berdirinya 1 Mei 1992, Bank Muamalat Indonesia (BMI) resmi beroperasi dengan modal awal sebesar Rp 106.126.382.000,- pertumbuhannya sebenarnya cukup menggembirakan. Pangsa Pasar Keuangan Syariah per-April 2020 naik, menjadi 9,03 persen (Direktur Pengaturan dan Perizinan Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Deden Firman Hendarsyah). Posisi ini mengalami kenaikan dari posisi 2019 sebesar 8 persen.  Per-April 2020, total aset keuangan syariah Indonesia, tidak termasuk saham syariah, mencapai Rp1.496,05 triliun. Apabila dirinci, aset keuangan syariah terbesar berasal dari pasar modal syariah yang memiliki nilai sebesar Rp851,72 triliun.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Syariah Masih Jauh dari Target, Ini Penjelasan Wapres

Perbankan syariah dan industri keuangan non-bank (IKNB) syariah masing-masing senilai Rp534,86 triliun dan Rp109,47 triliun. Dampaknya market share asset Perbankan Syariah baru sebesar 6,34%. Saya yang pernah mendapat amanat sebagai anggota Komite Pengembangan Jasa Keuangan Syariah (KPJKS) pada masa Prof. Muliaman D. Hadad sebagai ketua dewan komisioner OJK, ikut melahirkan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang kemudian bertambah menjadi Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS). Waktu itu, relative dalam waktu lama, pertumbuhan marketshare perbankan Syariah terjebak dalam angka lima persen.

Mengutip materi Pak Hery Gunardi, kendala atau tantangan yang dihadapi perbankan Syariah, di antaranya adalah karena “profitabilitas, kualitas, efisiensi biaya dan performan keuangan Bank Syariah relative belum sebaik bank konvensional. Ini wajar, namun memperhadapkan antara perbankan Syariah dan perbankan konvensional, tidak cukup fair, karena Perbankan Syariah, baru lahir 1992, sementara Bank Konvensional sudah satu abad lebih tumbuh dan berkembang di Indonesia.

Ini ditambah dengan lemahnya daya saing, jaringan yang terbatas serta literasi dan inklusi keuangan Syariah yang rendah. Dalam (1) Daya saing, PbS:PbK, Giro 4,26%:95,74%, Tabungan 7,22%: 92,78%, Deposito 8,31%: 91,69%). (2). Jangkauan Jaringan (1:114.339):(1:19.477), dan (3). Literasi dan Inklusi. Literacy Index 8,11%:29,66%. Inclusion Index 11,06%:67,82%.   

Halaman:

Editor: Maya

Tags

Terkini

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB

Metamorfosis Implementasi MBKM di Perguruan Tinggi

Senin, 8 November 2021 | 11:12 WIB

Kebijakan Publik Versus PCR dan Antigen

Minggu, 7 November 2021 | 23:23 WIB

Pangan dan Telur Ayam

Minggu, 7 November 2021 | 15:26 WIB

Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Senin, 25 Oktober 2021 | 23:45 WIB

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB

Aksi Kita adalah Masa Depan Kita

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 21:36 WIB
X