Kolaborasi Pentahelix Antisipasi Bencana

Red
- Jumat, 5 Maret 2021 | 00:15 WIB

Indonesia merupakan satu-satunya negara di dunia yang mengalami hampir semua jenis bencana. Gunung meletus, sudah menjadi tanda-tanda alam yang akrab sejak masyarakat adat terbentuk. Banjir, longsor, tsunami, likuifaksi, semburan lumpur atau gunung api lumpur, dan berbagai jenis bencana geologis atau hidrologis pernah terjadi dan bisa diibaratkan laboratorium bencana terlengkap di dunia.

Sebelum terbentuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), penanganan bencana di berbagai wilayah di Indonesia masih bersifat kerelawanan semata. Semua pihak tentu bahu-membahu saat dan setelah terjadi bencana. Setelah BNPB berdiri, penanganan bencana menjadi lebih terkoordinasi dan terorganisasi sehingga langkah dan tindakan yang ditempuh makin efektif dan tepat sasaran.

Iktikad BNPB untuk meningkatkan kolaborasi pentahelix dalam mengantisipasi bencana perlu diletakkan dalam kerangka tersebut. Bukan berarti selama ini tidak ada kolaborasi. Berbagai elemen di Indonesia sangat kolaboratif. Organisasi- organisasi seperti Palang Merah Indonesia, Aksi Cepat Tanggap (ACT), ormas, dan banyak lagi tidak bisa disebutkan satu per satu, selalu bergerak cepat.

Dikarenakan Indonesia merupakan wilayah yang paling lengkap mengandung potensi bencana, koordinasi dan kolaborasi diperlukan tidak saja pada saat dan setelah terjadi bencana tetapi juga pada langkah-langkah antisipasi. Selama ini, antisipasi bencana sudah dilakukan dengan penerapan sistem peringatan dini, penguatan masyarakat, soliditas aksi sosial, dan literasi kebencanaan.

Antisipasi bencana diperlukan karena bencana bisa terjadi sewaktu-waktu dan semua pihak harus siap. Pentahelix, yang terdiri dari elemen akademisi, bisnis, komunitas, media massa, dan pemerintah, selalu menjadi pilarpilar utama yang menentukan setiap keberhasilan program. BNPB berada pada posisi yang tepat untuk mengelola dan meningkatkan kolaborasi pentahelix.

Kolaborasi pentahelix yang selama ini sudah terbangun membutuhkan sentuhan sistem agar setiap elemen dalam pentahelix dapat bekerja secara sistemik untuk menumbuhkan literasi kebencanaan. Gerakan literasi kebencanaan memerlukan kerja bersama. Semakin tinggi literasi kebencanaan, semakin sistemik pula antisipasi kebencanaan yang pada ujungnya meminimalisasi dampak kerugian bencana.

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Senin, 25 Oktober 2021 | 23:45 WIB

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB

Aksi Kita adalah Masa Depan Kita

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 21:36 WIB

Masjid dan Peran Memakmurkan Umat

Selasa, 5 Oktober 2021 | 13:31 WIB

Aspek Hukum Arisan Online

Jumat, 24 September 2021 | 00:30 WIB

Mengganti Beban Pembiayaan BLBI

Jumat, 24 September 2021 | 00:10 WIB

Antusiasme Menyambut Kompetisi Liga 3

Jumat, 24 September 2021 | 00:00 WIB

Memindai Cermin Kota Kudus

Kamis, 23 September 2021 | 11:36 WIB

Indonesia Diuji dalam Ketegangan AUKUS

Kamis, 23 September 2021 | 01:28 WIB

Mewujudkan Sekolah Tatap Muka Aman

Kamis, 23 September 2021 | 01:25 WIB

Keterampilan dan Kompetensi Abad 21

Kamis, 23 September 2021 | 01:16 WIB

Maksimalkan Efektivitas Blended Learning

Rabu, 22 September 2021 | 01:11 WIB

Gernas BBI Jangan Hanya Seremonial

Rabu, 22 September 2021 | 01:08 WIB

Mahasiswa Merdeka

Rabu, 22 September 2021 | 01:03 WIB
X