Asesmen Nasional, Siapkah Kita?

Red
- Kamis, 4 Maret 2021 | 00:17 WIB

"Ini memberikan bukti bahwa pelaksanaan UN selama ini belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kualitas pendidikan."

TAHUN Pelajaran 2020/2021 sudah memasuki pertengahan semester genap. Tidak seperti tahuntahun sebelumnya, hiruk pikuk persiapan ujian nasional (UN) sudah tidak lagi terdengar. Demikian juga program jam tambahan, doa bersama, dan bimbingan belajar sudah tidak lagi ramai dibicarakan. Mulai tahun 2021 ini pemerintah telah memutuskan tidak lagi melaksanakan UN dan menggantikannya dengan asesmen nasional (AN). Meskipun ihwal asesmen nasional ini sudah ditetapkan beberapa bulan lalu, tak semua orang, khususnya yang memiliki anak sekolah, telah mengetahui hal itu.

AN adalah kebijakan baru. Karena itu, sosialisasi perlu diintensifkan mengenai cara pelaksanaannya, pengaruh terhadap kelulusan siswa, dan apakah hasil asesmen itu jadi prasyarat pendaftaran sekolah. Sehubungan dengan hal itu, komunikasi orang tua siswa dan pihak sekolah harus berlangsung dengan baik. Berawal dari evaluasi pelaksanaan pendidikan yang kurang baik, Mendikbud Nadiem Makarim meluncurkan empat inisiatif Merdeka Belajar. Salah satu poin yang menjadi penekanan adalah menghapus UN menjadi AN. Tujuannya agar para pendidik, siswa, dan orang tua tidak lagi menjadikan UN target utama dalam pembelajaran. Masih banyak pekerjaan rumah yang lebih penting selain mengurus UN. Dan AN telah mengakhiri kehebohan ujian yang setiap tahun terjadi. Di tingkat internasional, peringkat Indonesia dalam Programme for International Student Assessment (PISA) kalah jauh dibanding negara lain. Dalam membaca, Indonesia berada di urutan 72 dari 77 negara. Nilai Matematika di urutan 72 dari 78 negara, sedangkan nilai sains berada di 70 dari 78 negara. Ini memberikan bukti bahwa pelaksanaan UN selama ini belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kualitas pendidikan. Melihat kondisi yang demikian pemerintah ingin mendorong agar kualitas pendidikan meningkat dengan menerapkan AN. Bagaimana AN dilaksanakan?

Asesmen dilaksanakan dalam tiga bagian yang meliputi asasmen kompetensi minimal (AKM), survei karakter, dan survei lingkungan belajar. AKM dirancang untuk mengukur hasil belajar kognitif yang terdiri atas hasil literasi dan numerasi. Asesmen yang kedua adalah survei karakter disiapkan untuk mengukur seberapa tinggi hasil belajar terkait sosial emosional yang bertujuan mencetak profil pelajar Pancasila.

Adapun survei lingkungan belajar berfungsi mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran oleh sekolah. Berbeda dari UN, hasil asesmen nasional tidak digunakan sebagai penentu kelulusan siswa, juga tidak digunakan untuk syarat pendaftaran siswa baru karena tidak semua siswa terlibat dalam asesmen ini. Subjek siswa diambil dari kelas V, VIII, dan IX, setiap sekolah diambil 45 siswa. Jadi, orang tua tidak perlu khawatir tentang pelaksanaan AN karena tidak akan berpengaruh terhadap kenaikan kelas ataupun kelulusan siswa. Hasil AN digunakan sebagai pemetaan mutu sekolah dan tidak untuk pemeringkatan sekolah, apalagi untuk menghakimi sekolah.

Lima Syarat AN

Agar tujuan AN ini tercapai maka ada lima syarat yang harus dipenuhi sekolah. Pertama, sekolah harus memiliki sarana komputer yang terhubung dengan internet. Hal ini mutlak harus ada karena sistem asesmen menggunakan internet. Kedua, guru harus konsisten dalam melaksanakan pembelajaran yang digariskan pada Kurikulum 2013. Guru wajib menggunakan scientific approach melalui metode yang merangsang siswa memahami konsep dari materi yang diberikan. Ketiga, perbanyak pembelajaran praktik yang interaktif dengan menerapkan cooperative learning.

Ciptakan orkestra pembelajaran dengan melibatkan interaksi antara guru-siswa, siswa-siswa, dan siswaguru. Keempat, berikan kebebasan seluas-luasnya kepada siswa dalam memperdalam keilmuannya melalui praktik di laboratorium. Kelima, gelorakan gerakan literasi sekolah (GLS), terutama keterampilan menulis agar siswa peka, peduli, kritis, kreatif yang tergambarkan melalui tulisan. Untuk itu, pengadaan buku perlu ditambah untuk memperkaya koleksi buku perpustakaan di sekolah. Berbagai perubahan kebijakan untuk kualitas pendidikan telah dilakukan, namun hasilnya belum menggembirakan.

Asesmen nasional digadang-gadang menjadi pintu gerbang menuju kualitas pendidikan. Hal ini hanya akan menjadi jargon kosong belaka jika tidak ada dukungan dan perubahan pola pikir guru, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Sudah siapkah kita menghadapi asesmen nasional? (40)

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB

Metamorfosis Implementasi MBKM di Perguruan Tinggi

Senin, 8 November 2021 | 11:12 WIB

Kebijakan Publik Versus PCR dan Antigen

Minggu, 7 November 2021 | 23:23 WIB

Pangan dan Telur Ayam

Minggu, 7 November 2021 | 15:26 WIB

Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Senin, 25 Oktober 2021 | 23:45 WIB

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB

Aksi Kita adalah Masa Depan Kita

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 21:36 WIB

Masjid dan Peran Memakmurkan Umat

Selasa, 5 Oktober 2021 | 13:31 WIB

Aspek Hukum Arisan Online

Jumat, 24 September 2021 | 00:30 WIB
X