Pangan dan Telur Ayam

- Minggu, 7 November 2021 | 15:26 WIB
Khaid Sirotudin. (suaramerdeka.com/dok)
Khaid Sirotudin. (suaramerdeka.com/dok)

SEJAK September 2021 harga telur ayam mengalami harga anjlok (Jawa: turun drastis) pada level yang paling parah di tingkat peternak ayam petelur. Yakni di kisaran Rp 14.000 per kilogram.

Jika sekilo telur berisi 16-17 butir, maka harga sebutir telur hanya Rp 825-875. Masih jauh dibawah HPP peternak yang berada di kisaran Rp 19.000-21.000 per kilogram alias Rp 1.100-1.300 an per butir.

HPP telur sangat dipengaruhi oleh harga pakan ternak yang sangat mendominasi biaya produksi (kurang lebih 80 persen). Kejadian ini mengulang hal yang sama 4 tahun yang lalu. Tetapi kondisi anjloknya harga telur saat itu tidak separah tahun ini.

Baca Juga: Sangat Wajar Hasil Peringkat Ke-6 Kontingen Jawa Tengah pada PON XX Papua

Di kabupaten Kendal terdapat 980-an peternak ayam petelur yang terhimpun dalam Koperasi Unggas Sejahtera yang berlokasi di Sukorejo, dengan populasi sekitar 3 juta ekor. Rata-rata peternak ayam rakyat di Kendal memelihara 2.000-3.000 ekor per orang.

Selain itu ada peternak besar dari luar Kendal yang memelihara ratusan ribu ekor di Limbangan, salah satu kecamatan di kabupaten Kendal yang berbatasan dengan Sumowono kabupaten Semarang.

Kami berteman baik dengan beberapa pengurus Koperasi Unggas Sejahtera Kendal dan puluhan peternak yang secara kebetulan merupakan teman sekolah di SMP Negeri dan SMA Muhammadiyah Weleri.

Baca Juga: Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Koperasi Unggas Sejahtera menginformasikan secara periodik melalui info-grafis pada group medsos kepada anggotanya tentang harga telur di tingkat peternak, harga jagung, harga bekatul dan harga ayam afkir.

Sehingga secara faktual dan aktual anggota mengetahui tentang kenaikan ataupun penurunan harga produksi setiap hari.

Harga jagung perlu diinformasikan ke anggota mengingat komponen pakan ternak ayam 50 persen terdiri dari jagung sebagai bahan pokoknya.

Baca Juga: PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Bahan lainnya berupa bekatul, tepung kedelai, tepung ikan, dan lainnya bisa dibeli dari beberapa sumber. Untuk bertahan dalam usaha ternak ayam petelur, seringkali peternak di Kendal menyiasati membuat pakan sendiri ketika harga pakan ternak pabrikan mengalami kenaikan harga yang sangat tinggi.

Dalam perspektif ketahanan pangan, dengan populasi ayam petelur sebanyak itu sudah barang tentu kabupaten Kendal memiliki ketahanan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan asupan protein hewani (telur) bagi penduduknya yang berjumlah hampir 1 juta orang.

Asupan pangan sumber protein lainnya bisa terpenuhi secara komplementer dengan ikan laut yang dihasilkan oleh nelayan yang tersebar di 5 Tempat Pelelangan Ikan (TPI) se kabupaten Kendal, maupun ikan budidaya air tawar (lele, nila, gurami) yang dibudidayakan oleh ratusan peternak di beberapa kecamatan.

Namun acapkali kita lupa bahwa nasib petani, peternak dan nelayan sebagai ujung tombak ketahanan pangan adalah rakyat juga, yang perlu dimakmurkan dan disejahterakan. Kebutuhan mereka tidak hanya soal pangan (makanan/minuman), namun juga membutuhkan biaya pendidikan, kesehatan, energi dan sosial lainnya.

Sebab manusia adalah makhluk sosial yang hanya bisa hidup layak dengan saling mengenal, memahami, memberi dan melindungi.

Nasib peternak ayam petelur di kabupaten Kendal yang merugi selama dua bulan September-Oktober kami yakini tidak hanya terjadi di sini. Apalagi sebulan silam, sempat ada video viral di You-tube yang memperlihatkan seorang peternak di Jawa Timur membuang ratusan pack telur ayam ke sungai dari atas mobil pick-up.

Seorang peternak ayam petelur setidaknya harus mengeluarkan biaya investasi sebanyak 200 juta rupiah untuk 1.000 ekor ayam petelur. Biaya ini meliputi biaya pembelian ayam siap bertelur sebanyak Rp 100 juta (@ Rp 100 ribu per ekor), biaya pembuatan kandang, biaya instalasi listrik dan instalasi air, dan biaya sewa lahan.

Belum termasuk biaya modal kerja untuk operasional setiap hari meliputi biaya pakan, biaya tenaga kerja dan biaya sapronak lainnya. Lokasi ternakpun harus mencari tempat yang jauh dari pemukiman penduduk, karena menimbulkan bau kurang sedap bagi masyarakat umum.

Usaha peternakan ayam adalah usaha padat karya yang melibatkan banyak tenaga kerja dari masyarakat sekitar lokasi peternakan. Sebagaimana sektor pertanian dalam arti luas, usaha ternak ayam rakyat sangat membantu pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja untuk mengurangi pengangguran di pedesaan.

Seorang peternak ayam petelur di kabupaten Kendal melibatkan tenaga kerja rata-rata 5 orang, maka setidaknya ada 5.000 keluarga menggantungkan hidupnya di sektor ini.

Misalkan seorang pekerja harian dibayar 50 ribu rupiah per hari atau 1,5 juta rupiah per bulan saja, maka minimal ada uang sebanyak 7,5 milyar rupiah dibayarkan per bulan atau 90 milyar rupiah per tahun oleh semua peternak ayam petelur se kabupaten Kendal. Meski kami meyakini biaya gaji yang dikeluarkan oleh semua anggota koperasi ternak jauh lebih besar dari angka tersebut.

Belum terhitung multiplier effect ekonomi  di sector perdagangan dan distribusi barang (supply and chain) seperti perajin kotak kayu untuk packing telur, sopir, buruh bongkar muat barang dan sebagainya.

Produk telur ayam merupakan komoditas yang memiliki masa kedaluwarsa (expired date) pendek. Hanya 3-4 pekan bisa bertahan jika ditempatkan pada ruang dengan suhu di bawah 26 derajat Celcius. Sementara suhu udara rata-rata di luar ruang saat ini berada diatas 26 derajat, akibat global warming yang dipicu deforestasi, industrialisasi dan pembangunan infrastruktur di daerah yang mengabaikan daya dukung lingkungan.

Dengan kondisi iklim dan cuaca seperti sekarang ini tentu mempercepat masa kedaluwarsa telur ayam. Sudah saatnya pemerintah dan negara hadir untuk memfasilitasi pembuatan packing house di sentra-sentra produksi pangan rakyat.

Baik untuk produk pertanian maupun peternakan, termasuk fasilitasi packing house bagi para peternak ayam rakyat. Sebab salah satu ciri produk hasil pertanian dan peternakan yaitu memiliki masa kedaluwarsa yang pendek, serta membutuhkan fasilitas dan teknologi pasca panen yang mampu memperpanjang usia produk.

Pembangunan packing house yang pengelolaannya diserahkan kepada koperasi tani dan peternak menurut kami sangat strategis sebagai wujud kewajiban dan tanggungjawab pemerintah dalam melindungi investasi petani dan peternak rakyat.

Dengan fasilitas ini petani dan peternak dapat tertolong usahanya, terutama saat terjadi panen raya dan produksi hasil ternak berlebih dan membanjiri pasar. Fasilitas packing house harus disinergikan dengan fasilitasi lain berupa akses kredit yang mudah dan murah bagi usaha pertanian dan peternakan rakyat, serta kebijakan lain yang berkeadilan sosial dan ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Nilai Tukar Petani dan Peternak (NTP) sebagai salah satu indikator kemakmuran rakyat harus terus ditingkatkan. Sebab produk pangan yang dihasilkan oleh petani dan peternak merupakan ujung tombak dan 'ujung tombok' ketahanan pangan nasional.

Bukankah konstitusi UUD 1945 pasal 33 sudah mengamanatkan bahwa: perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan (ayat 1); cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara (ayat 2); perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional (ayat 4).

Hampir setiap tahun dan terjadi berulang, kita membaca aneka berita dan informasi tentang petani dan peternak yang terpapar nasibnya akibat naik dan turunnya harga produk pangan secara tajam dan sekonyong-konyong terjadi.

Antara lain, harga cabai petani Demak yang anjlok Rp 1.500 per kilogram dan memicu simpati dan aksi emak-emak Aisyiyah dan LazisMu Demak untuk memborong cabai petani dengan harga produksi Rp 4.000, kemudian dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Turunnya harga Gabah Kering Panen (GKP) petani padi sawah yang memantik Bulog menyerap produksi gabah petani dengan harga sesuai ketentuan pemerintah. Naiknya harga jagung yang terlalu tinggi dan menuai protes peternak ayam di Jatim dan Jateng.

Harga jagung baru melandai setelah bapak presiden turun tangan memberikan bantuan jagung ribuan ton dengan harga Rp 4.500 per kilogram. Dan sejak September hingga Oktober, giliran peternak ayam petelur yang berteriak karena harga pakan ternak naik tajam sementara harga telur turun pada level yang sangat murah.

Kejadian terakhir ini memantik kepedulian pemerintah provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Ketahanan Pangan untuk membantu memasarkan telur ayam dengan harga wajar, Rp 20.000 per kilogram.

Beragam kepedulian dari sekelompok masyarakat dan pemerintah provinsi layak kita apresiasi. Meski aksi tersebut bersifat spontan, sporadis dan jangka pendek.

Namun setidaknya sudah menjadi amal shalih yang bisa membahagiakan petani dan peternak rakyat yang sedang dirundung malang dalam menjalankan usahanya.

Sebagaimana pepatah menyatakan "daripada mengutuk kegelapan, lebih baik mengambil sebuah lilin dan nyalakan". Action talk louder than words, aksi nyata berbicara lebih keras daripada kata-kata.

Berapa sebenarnya harga pangan yang pas dan wajar bagi masyarakat. Sebuah harga yang menguntungkan bagi peternak dan petani, serta disisi lain terjangkau dan tidak memberatkan bagi masyarakat kebanyakan selaku konsumen, sesuai daya belinya.

Disinilah peran pemerintah selaku regulator dan pengambil keputusan dituntut untuk membuat, mengatur bahkan memaksa pelaku ekonomi di sektor pangan secara jujur, adil dan  bijaksana.

Dengan bantuan partisipasi berbagai kalangan masyarakat: kaum cerdik pandai dan akademisi, ormas keagamaan, organisasi profesi yang konsen di bidang pangan, serta stakeholders lain kami yakin suatu saat Indonesia akan mampu mewujudkan ketahanan pangan, bahkan tidak mustahil terwujud kemandirian pangan dan kedaulatan pangan nasional.

Bukan ketahanan pangan yang tercipta dan ditopang dengan mengandalkan impor bahan pangan.

Sungguh suatu kezaliman manakala anugerah illahi berupa sumberdaya alam yang luas berupa lahan pertanian dan peternakan tidak mampu kita manfaatkan secara optimal untuk memakmurkan dan mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia.

Kembali ke soal harga pangan yang wajar, terjangkau serta menguntungkan produsen (petani dan peternak) dan konsumen. Sudah saatnya pemerintah melakukan evaluasi terhadap berbagai kebijakan yang kurang memihak rakyat dan lebih menguntungkan segelintir pemain pasar di sektor pangan (oligarkhi pangan).

Negara dan pemerintah wajib hadir melalui politik pangan yang berkeadaban. Yakni sebuah kebijakan yang secara tegas dan konsekuen dijalankan untuk melindungi segenap anak bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Dengan menetapkan instrumen harga pokok pembelian pemerintah terhadap produk pangan yang selama ini ada, tidaklah cukup memadai jika tidak diimbangi dengan sinergitas gerakan penyelamatan pangan rakyat oleh berbagai departemen terkait.

Seperti BUMN/BUMD dan Koperasi, pemerintah provinsi dan pemkab/pemkot, produsen pangan, KPPU serta aparat penegak hukum yang adil dan tegas.

Berbicara soal pangan terdapat berbagai dimensi yang menyertainya. Ada dimensi politik, ekonomi, budaya dan keyakinan agama/kepercayaan.

Sebagaimana Bung Karno pada era Orde Lama telah mengumandangkan Trisaksi: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam budaya.

Politik pangan mesti diarahkan pada terwujudnya ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan nasional.

Memenuhi kebutuhan pangan rakyat haruslah didasarkan pada kemandirian bangsa dalam memenuhi kebutuhan pokok bagi rakyat di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pola makan masyarakat juga sudah saatnya untuk dikembalikan kepada budaya makan masyarakat setempat yang mengutamakan potensi pangan lokal. Unity in local food diversity, bersatu dalam keragaman pangan lokal.

Bangun fasilitas depot logistik rakyat berbasis pangan lokal, tidak hanya menyediakan gudang beras yang hanya dihasilkan oleh 8-9 provinsi surplus beras.

Ketika Pak Harto di jaman Orde Baru kita mengenal Trilogi Pembangunan: stabilitas politik dan keamanan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pemerataan pembangunan.

Politik pangan yang berkelanjutan membutuhkan stabilitas politik nasional yang baik. Kegaduhan politik kenegaraan dan kebangsaan akan menimbulkan ketidaknyamanan rakyat, yang efeknya akan mempengaruhi iklim berusaha dan investasi di masyarakat.

Mewujudkan demokrasi pancasila adalah suatu keharusan, yaitu sebuah demokrasi substansif untuk memilih penguasa dan wakil rakyat yang dijalankan dan dijiwai dengan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, kebhinekaan, persatuan dan keadilan sosial.

Ekonomi nasional bisa tumbuh manakala produktivitas nasional juga tumbuh dengan baik. Produktivitas rakyat akan meningkat apabila ada rasa aman dan nyaman dalam melakukan berbagai aktivitas ekonomi, termasuk pelaku usaha produktif sektor pangan (petani-peternak-nelayan).

Serta memberikan harapan hidup makmur dan sejahtera bagi segenap anak bangsa.

Disintegrasi ekonomi antar wilayah dan antar pulau dapat dihindari apabila pemerintah mampu merealisasikan pemerataan pembangunan secara adil dan bijaksana ke seluruh wilayah Indonesia.

Bagaimana dengan Orde Reformasi, Orde Baru-Baru ini dan Orde Mendatang? Jas Merah, Jangan sampai meninggalkan sejarah.

Saatnya sebagai bangsa kita muhasabah diri, instropeksi mempelajari sejarah panjang bangsa Indonesia.

Setiap orde kekuasaan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, kebaikan dan keburukan.

Kita ambil kebijakan masa lalu yang baik untuk diteruskan. Kita evaluasi kebijakan masa lalu yang kurang baik untuk diperbaiki di masa kini. Kita buang kebijakan masa lalu yang tidak baik untuk diganti dengan kebijakan masa kini yang baik dan berkeadaban.

Sebab apa yang kita lakukan hari ini akan menjadi catatan sejarah kita di masa mendatang. Mari bersama-sama kita membangun monumen amal shalih peradaban bangsa Indonesia yang kita cintai bersama.

Agar dikenang oleh anak cucu penerus bangsa sebagai sejarah yang baik selama hidup di dunia.

Apa yang kita bisa lakukan untuk mewujudkan kemandirian pangan nasional? Setidaknya kita bisa memulai merubah pola makan/budaya makan dengan asupan pangan lokal (makanan dan minuman) yang kita butuhkan, bukan pangan apa yang kita inginkan dan angankan.

Kita syukuri rejeki illahi dengan menghabiskan makanan yang tersaji di piring kita, tanpa meninggalkan sisa nasi agar makanan menjadi berkah bagi kesehatan tubuh.

Jangan absen untuk memberikan simpati dan empati kepada para pahlawan pangan, yakni para petani, pekebun, peternak dan nelayan yang telah bersusah payah menghasilkan pangan bagi seluruh masyarakat.

Adzan ashar berkumandang dari mushola sebelah barat rumah. Sebelum menutup komputer, kami lihat status medsos Koperasi Unggas Sejahtera Kendal. Dengan latar logo Koperasi, tertulis secara jelas : Bismillahirrohmanirrohim, 6-11-2021, 0812-3909-6109, Telor 20.800, Jagung 4.750-5.000, Bekatul 3.000-4.000, Afkir 14.000-15.000.

Alhamdulillah, semoga harga telur ayam yang sudah membaik sepekan ini bisa membuat bahagia dan tersenyum 980-an peternak ayam Kendal. Amin
Wallahu'alam.


Khafid Sirotudin, adalah pemerhati pangan, alumni Magister Agribisnis Undip, Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PWM Jawa Tengah.

Editor: Nugroho Wahyu Utomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Di Balik Meroketnya Harga Minyak Goreng

Kamis, 9 Desember 2021 | 07:45 WIB

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB

Metamorfosis Implementasi MBKM di Perguruan Tinggi

Senin, 8 November 2021 | 11:12 WIB

Kebijakan Publik Versus PCR dan Antigen

Minggu, 7 November 2021 | 23:23 WIB

Pangan dan Telur Ayam

Minggu, 7 November 2021 | 15:26 WIB

Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Senin, 25 Oktober 2021 | 23:45 WIB

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB
X