Cegah Myanmar Jadi ”Korut” Baru

Red
- Senin, 15 Februari 2021 | 00:30 WIB

Tekanan dunia internasional terus dilakukan guna mendesak pemerintahan junta militer Myanmar untuk membebaskan Aung San Suu kyi dan mengembalikan demokrasi di negara tersebut. Sayang sekali, tekanan internasional belum berhasil mengubah penguasa militer. Junta bergeming, bahkan diperkirakan bakal melakukan tindakan lebih keras dengan menangkapi para aktivis prodemokrasi.

Human Right Watch mencatat bahwa junta militer terus memperkuat posisi mereka. Junta telah mengajukan rancangan undang-undang yang akan memberinya kewenangan besar untuk mengakses data pengguna, memblokir situs web, penutupan internet, dan memenjarakan para kritikus dan pejabat di perusahaan yang tidak patuh. Sementara itu, gelombang demonstrasi menentang penguasa terus berlanjut.

Situasi ini sudah mendekati konflik diametral. Seperti diketahui, Dewan Administrasi Negara, yang dibentuk setelah kudeta 1 Februari 2021, telah mengirim draf tersebut ke operator telekomunikasi pada 9 Februari, dan meminta masukan pada RUU tersebut pada 15 Februari. Militer paham bahwa gerakan demokrasi saat ini sangat bergantung keberhasilannya pada dukungan ”revolusi internet”.

Dengan pengawasan ekstraketat terhadap aktivitas melalui internet, junta militer dengan mudah membungkam penyebaran pendapat dan pertukaran informasi yang sangat dibutuhkan bagi kelompok prodemokrasi. Junta tampaknya mempelajari betul Revolusi Mesir, Reformasi 1998 di Indonesia, dan di berbagai negara yang berhasil menumbangkan penguasa karena dukungan infrastruktur internet sebagai sarana komunikasi.

Secara bertahap dengan penerapan pembatasan dan kontrol ketat akses internet, Myanmar akan perlahan-lahan terisolasi dari dunia luar. Bukan tidak mungkin, setelah isolasi internet, junta militer akan benar-benar mengisolasi diri dan membuat negeri itu menjadi negara tertutup. Dunia internasional, termasuk Indonesia, harus mencegah kelahiran ”Korut” baru di Asia Tenggara.

Saat dunia sedang berubah menuju tatanan baru, dipicu oleh pandemi yang mendorong ”Great Reset”, kelahiran sebuah negara yang mengisolasi diri dan menerapkan kebijakan tertutup sungguh sangat tidak menguntungkan. ”Korut” baru akan mengundang kekuatan-kekuatan proxi untuk memanfaatkan posisi Myanmar yang tertutup sebagai selubung kekuatan. Geopolitik regional akan terganggu dan perdamaian selalu terancam.

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Menengok Potensi Peran Milenial Kabupaten Brebes

Selasa, 18 Januari 2022 | 10:12 WIB

Quo Vadis Kejaksaan RI?

Senin, 10 Januari 2022 | 09:12 WIB

Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia Pascapandemi

Sabtu, 8 Januari 2022 | 08:12 WIB

Digitalisasi Ibuisme

Kamis, 6 Januari 2022 | 12:30 WIB

Negeri-negeri Ambon Manise untuk Indonesia

Senin, 27 Desember 2021 | 08:45 WIB

Beri mereka waktu

Rabu, 22 Desember 2021 | 10:12 WIB

Peran Ibu dalam Penguatan Literasi Digital

Rabu, 22 Desember 2021 | 09:12 WIB

Di Balik Kebakaran Pasar Weleri

Minggu, 12 Desember 2021 | 17:42 WIB

Di Balik Meroketnya Harga Minyak Goreng

Kamis, 9 Desember 2021 | 07:45 WIB

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB
X