Tantangan di Tengah Euforia Vaksinasi

Red
- Senin, 4 Januari 2021 | 00:05 WIB

Kita telah memasuki tahun 2021. Tahun yang baru diawali dengan persiapan negeri ini melaksanakan vaksinasi massal. Namanama yang masuk dalam daftar tahap pertama penerima vaksin telah diumumkan dan bisa dilihat di laman pedulilindungi.id. Prioritas pertama dalam program tersebut adalah para tenaga kesehatan. Vaksin untuk kebutuhan itu sudah datang sebagian. Pemerintah telah menjalin kesepakatan dengan sejumlah produsen, agar nantinya jumlah dosis yang dibutuhkan bisa terpenuhi sepenuhnya.

Wajar bila kepastian vaksinasi memunculkan euforia. Terlebih vaksin anti-Covid-19 akan diberikan secara gratis. Pada awalnya muncul rencana vaksin gratis hanya diberikan kepada mereka yang menjadi anggota BPJS Kesehatan. Namun, Presiden Joko Widodo menegaskan tidak ada kaitan antara keanggotaan BPJS Kesehatan dengan penggratisan vaksin. Vaksin akan diberikan secara gratis kepada masyarakat yang menjadi sasaran program tersebut. Diperkirakan jumlah yang divaksin sebanyak 182 juta orang.

Tentu dosis vaksin yang dibutuhkan dua kali lipatnya, karena penyuntikannya dua kali. Sedangkan vaksin yang sampai di negeri ini baru 3 juta dosis, produksi perusahaan Tiongkok, Sinovac. Namun, jumlah itu sudah mencukupi untuk vaksinasi 1,3 juta tenaga Kesehatan. Untuk para warga lainnya, pemerintah antara lain mengupayakan membeli 100 juta dosis produksi perusahaan Inggris, AstraZeneca, dan perusahaan Amerika Serikat, Novavax. Memang tidak mudah memenuhi kebutuhan vaksin.

Saat ini vaksin tentu telah menjadi kebutuhan global. Sekitar setahun dunia telah diluluhlantakkan oleh pandemi. Efeknya merasuk ke banyak sektor. Tidak mengherankan bila resesi ekonomi terjadi di mana-mana, karena mitigasi pandemi menuntut pembatasan aktivitas masyarakat. Bahkan tidak sedikit pemerintahan yang memberlakukan kebijakan lockdown. Vaksinasi diyakini menjadi langkah awal bagi pemulihan menyeluruh terhadap berbagai pengaruh yang ditimbulkan serangan virus korona baru.

Di balik harapan itu, sebenarnya sejumlah tahapan masih harus dilalui. Masih ada produk vaksin yang hasil uji klinis tahap ketiganya belum selesai. Selain itu, untuk distribusi di Indonesia masih harus menunggu otorisasi BPOM dan sertifikasi halal dari MUI. Vaksin yang datang bertahap juga bisa memunculkan persoalan, karena berisiko memunculkan kecemburuan sosial. Aturan yang jelas dalam distribusi dan kepatuhan saat pelaksanaannya menjadi syarat mutlak bagi keberhasilan program tersebut.

Harapan kita tentu vaksinasi berjalan efektif, yang ukurannya adalah keamanan dan kelancaran. Namun, di tengah persiapan vaksinasi, kasus baru Covid-19 cenderung bertambah. Karena itu euforia vaksinasi jangan melenakan kebijakan-kebijakan yang terkait dengan pengawasan protokol kesehatan. Perlu pula mendasarkan kebijakan distribusi vaksin dengan perkembangan penyebaran Covid-19. Aspek distribusi memang perlu mendapat perhatian khusus, karena penuh dinamika teknis dan nonteknis.

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Demokrasi Pengelolaan Laut

Rabu, 26 Januari 2022 | 13:30 WIB

Menengok Potensi Peran Milenial Kabupaten Brebes

Selasa, 18 Januari 2022 | 10:12 WIB

Quo Vadis Kejaksaan RI?

Senin, 10 Januari 2022 | 09:12 WIB

Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia Pascapandemi

Sabtu, 8 Januari 2022 | 08:12 WIB

Digitalisasi Ibuisme

Kamis, 6 Januari 2022 | 12:30 WIB

Negeri-negeri Ambon Manise untuk Indonesia

Senin, 27 Desember 2021 | 08:45 WIB

Beri mereka waktu

Rabu, 22 Desember 2021 | 10:12 WIB

Peran Ibu dalam Penguatan Literasi Digital

Rabu, 22 Desember 2021 | 09:12 WIB

NEWA, Peluang Baru Bisnis Perhotelan

Selasa, 14 Desember 2021 | 11:30 WIB

Di Balik Kebakaran Pasar Weleri

Minggu, 12 Desember 2021 | 17:42 WIB

Di Balik Meroketnya Harga Minyak Goreng

Kamis, 9 Desember 2021 | 07:45 WIB

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB
X