Mewaspadai Jamu dan Herbal

Red
- Senin, 14 Desember 2020 | 00:07 WIB

"Sikap kehati-hatian dalam mengonsumsi jamu maupun produk herbal lainnya perlu diperhatikan, sehingga selain merasakan khasiatnya bagi tubuh, juga dapat terhindar dari efek samping yang merugikan."

SEJAK pandemi Covid-19 di Indonesia, jamu dan produk herbal banyak diminati oleh masyarakat. Selain faktor kemudahan dalam memperoleh produk tersebut secara online, di pasar tradisional, penjual jamu atau supermarket dengan harga yang terjangkau, maraknya penggunaan herbal ini juga dipicu oleh anggapan dan iklan bahwa alami selalu aman, sehat, dan bebas efek samping. Apalagi ditunjang dengan dukungan pemerintah yang mendorong jamu, obat herbal terstandar (OHT), dan fitofarmaka sebagai immunomodulator untuk meningkatkan kekebalan tubuh melawan Coronavirus (SARS-CoV-2). Pun saat ini pemerintah telah menekankan OHT dan fitofarmaka sebagai obat modern asli Indonesia (OMAI) yang juga dirancang akan dimasukkan ke dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Berbagai penelitian difokuskan untuk meneliti khasiat tanaman asli Indonesia untuk mencegah maupun mengobati berbagai penyakit, termasuk saat ini pada masa penantian vaksin Coronavirus. Melalui buku Pedoman Penggunaan Herbal dan Suplemen Kesehatan dalam Menghadapi Covid-19 di Indonesia, yang diterbitkan pada Mei 2020, BPOM RI mengingatkan masyarakat untuk lebih hati- hati dalam konsumsi jamu dan obatobatan herbal dalam jangka panjang dan takaran yang berlebihan.

Akan tetapi, secara detail jenis bahaya dan risiko yang mengintai dari konsumsi jamu dan herbal belum dijelaskan secara terperinci dan tidak banyak pula yang menelitinya. Kita perlu mewaspadai bahaya dan risiko konsumsi jamu dan herbal. Selain mengandung berbagai- macam senyawa aktif yang dapat berperan dalam mendukung khasiat obat tradisional, tanaman herbal juga mengandung senyawa karsinogenik dan genotoksik, alkenylbenzenes (ABs), pyrrolizidine alkaloids (PAs), dan aristolochic acids (AAs) yang memicu munculnya kanker hati dan ginjal. Penulis berserta koleganya dari Divisi Toksikologi, Wageningen University and Research (WUR) Belanda, meneliti beberapa sampel jamu dan minuman herbal instans yang di labelnya mencantumkan komposisi salah satu atau lebih tanaman herbal penghasil senyawasenyawa tersebut. Berdasarkan konsentrasi senyawa yang diperoleh dan informasi cara pemakaian pada label kemasan produk dilakukan analisis risiko pada konsumen orang Indonesia dengan rata-rata berat badan 54 kg dan usia harapan hidup 69 tahun. Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Food and Chemical Toxicology tahun 2018 dan 2019 menunjukkan bahwa ABs di antaranya elemicin, methyl eugenol, myristicin, safrole, apiol, dan estragole ditemukan pada 23 sampel dari 25 sampel jamu yang terbuat dari jahe, pekak, pala, sereh, jeruk nipis, kemangi, kayu manis, atau adas.

Methyl eugenol merupakan alkenylbenzenes terbanyak yang terdeteksi pada 46 dari 114 sampel minuman herbal yang positif mengandung ABs. Analisis risiko menggunakan pendekatan Margin of Exposure (MOE) mengindikasikan perlunya prioritas managemen risiko ketika sampel tersebut dikonsumsi setiap hari sepanjang hidup. Perhatian terhadap efek samping pada kesehatan manusia, khususnya kanker hati, dapat diminimalkan bila sampel tersebut dikonsumsi kurang dari 2 minggu sepanjang hidup. Lebih lanjut pada penelitiannya yang terbit di jurnal yang sama tahun 2020, penulis dan kolega mengidentifikasi kandungan PAs, di dalam sampel jamu yang mengandung salah satu dari 6.000 tanaman berbunga penghasil PAs, seperti orok-orok, kompre, lithospermi radix, bunga Tussilago farfara, dan tanaman dari spesies Gynura.

Manajemen Risiko

Menariknya, PAs juga terdeteksi pada jamu yang tidak mengandung tanaman penghasil PAs, yang kemungkinan disebabkan oleh adanya kontaminasi pada saat penanaman, panen, maupun proses produksi. Evaluasi paparan dan risiko dari konsumsi sampel jamu yang mengandung PAs menunjukkan bahwa 27 dari 58 sampel mengindikasikan perlunya prioritas aksi manajemen risiko oleh pemerintah, untuk mencegah dampak kerusakan hati akibat paparan PAs (PA-induced liver injury), jika dikonsumsi sepanjang hayat. Konsumsi sampel jamu tersebut dalam jangka pendek (paparan akut) tidak menimbulkan efek samping, sedangkan untuk skenario konsumsi selama dua minggu setiap tahun pada masa hidup masih perlu dipertimbangkan efek sampingnya untuk beberapa sampel dengan konsentrasi PAs yang tinggi. Pada penelitian terbaru yang terbit di jurnal Archives of Toxicology (2020), penulis mencoba menganalisis efek dari monocrotaline, salah satu dari PAs yang ada pada tanaman orok-orok menggunakan metode uji in vitro pada sel hati tikus dan dikombinasikan dengan PBK (physiologically based kinetic) modeling. Terbukti bahwa monocrotaline dapat menyebabkan kerusakan sel hati. Tanaman penghasil AAs, Aristolochia spp, dan Magnolia officinalis telah dilarang digunakan sebagai bahan baku pangan olahan pada peraturan BPOM Nomor 7 Tahun 2018, tak heran penulis hanya menemukan 15 sampel jamu yang dua di antaranya positif mengandung AA1 dan AA2. Dari analisis risiko dari dua sampel positif tersebut, ternyata jika dikonsumsi baik dalam jangka panjang ataupun pendek diprediksi berisiko menyebabkan efek samping kerusakan ginjal atau yang dikenal dengan istilah Aristolochic Acid Nephropathy (AAN). Meskipun temuan-temuan efek samping tersebut hanya berlaku untuk sampel jamu dan herbal yang diteliti, sikap kehati-hatian dalam mengonsumsi jamu maupun produk herbal lainnya perlu diperhatikan, sehingga selain merasakan khasiatnya bagi tubuh, juga dapat terhindar dari efek samping yang merugikan. Diperlukan kerja sama yang solid antara petani, produsen, peneliti, konsumen, dokter, dan pemerintah. Petani perlu berhatihati dalam menanam dan memanen serta penanganan pascapanen bahan baku obat untuk menghindari kontaminasi dari tanamantanaman penghasil PAs, misalnya. Dengan menerapkan prinsip cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB) dan mencantumkan komposisi serta aturan pakai yang benar, produsen dapat menyelamatkan konsumen dari bahaya yang tidak diinginkan.

Sebagai konsumen, ingat pesan BPOM RI untuk mengecek KLIK, yaitu mengecek kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa. Jika ada keluhan efek samping akibat mengonsumsi produk herbal sebaiknya segera melapor ke dokter, yang selanjutnya dokter dapat melaporkannya ke Monitoring Efek Samping Obat (MESO) atau "Pharmacovigilance" yang sudah tersedia secara online di situs BPOM RI. Pemerintah harus selalu tegas menindaklanjuti laporan- laporan kasus efek samping obat herbal dan menegakkan pelaksanaan peraturan, demi melindungi keamanan konsumen jamu dan produk herbal lain. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan sampel yang lebih banyak dan studi kasus pada pasien yang mengalami efek samping tersebut. Jika kualitas dan keamanan terjaga, niscaya ambisi OMAI untuk bisa menembus pasar global akan tercapai. (37)

–– Dr Suparmi SSi MSi (ERT), dosen Biologi Fakultas Kedokteran Unissula, peneliti eksternal pascadoktoral di Division of Toxicology Wageningen University and Research Belanda.

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB

Metamorfosis Implementasi MBKM di Perguruan Tinggi

Senin, 8 November 2021 | 11:12 WIB

Kebijakan Publik Versus PCR dan Antigen

Minggu, 7 November 2021 | 23:23 WIB

Pangan dan Telur Ayam

Minggu, 7 November 2021 | 15:26 WIB

Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Senin, 25 Oktober 2021 | 23:45 WIB

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB

Aksi Kita adalah Masa Depan Kita

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 21:36 WIB

Masjid dan Peran Memakmurkan Umat

Selasa, 5 Oktober 2021 | 13:31 WIB

Aspek Hukum Arisan Online

Jumat, 24 September 2021 | 00:30 WIB
X